Wednesday, June 24, 2020

Terima Kasih Ibu Pertiwi

0
Nama saya Ardiansyah JS, sekarang berkuliah di Arsitektur Universias Riau, Pekanbaru Riau,  saya bersal dari keluarga  petani di kabupaten Kuantan Singingi, RIAU, sebuah kabupaten yang terkenal dengan event tradisional pacu jalurnya, dan  rumah saya terletak tidak di pusat ibu kota kabupatenya, sekitaran 30 menit dari pusat ibu kota kabupaten Kuantan Singingi, terlahir sebagai seorang anak kampung , ada banyak yang saya hadapi selama berproses mewujudkan mimpi,  apalagi dari golongan petani,  dan untuk kali ini saya akan berbagi salah satu kisah saya.
Jika berbicara tentang bagaimana kondisi  Indonesia sekarang, mungkin saya  dan sebagian kita hanya tau dari  media ataupun televisi saja, kita tidak tau bagaimana kondisi Indonesia secara merata, apakah merata atau masih berat sebelah, ya mungkin karna faktor saya yang seorang anak kampung yang memiliki pengetahuan kurang dan juga Cuma bisa melihat Indonesia ini dari media televisi, sebelum mendapatkan beasiswa bidikmisi, saya belum bisa memiliki smartphone dan mungkin hanya bisa melihat Indonesia dari televisi saja, baik itu untuk mengakses informasi maupun mengenal  dunia  luar.
Dan sekarang  kita akan berbicara mengenai kondisi  indonesia terlebih dahulu, dahulu saya sering membandingkan kenapa  kota-kota yang ada di televisi seperti  kota di pulau Jawa itu lebih maju dari pada kabupaten saya, dan dengan semakin bertambahnya usia saya semakin tau penyebab itu semua adalah otonomi daerah, sebuah kebijakan yang di berikan untuk daerah tersebut mengelola sendiri sumber daya yang ada di daerah tersebut , baik itu sumber daya alam, mineral maupun manusia. Dan saya tau sumber daya di daerah saya banyak, khususnya emas, tapi mengapa percepatan pembangunan kota berjalan lambat, Dan disini saya juga baru mendapatkan alasan bahwa kualitas manusia lah yang sangat-sangat mempengaruhi  kemajuan daerah daerah tersebut,  dan kenapa saya merasa daerah saya kurang maju mungkin karna mata saya kurang terbuka atau mungkin  kondisinya memang seperi  itu, daya beli masyarakat rendah di buktikan nya hanya sedikit minimarket yang mau memangun cabang disini, dan bukan berarti dengan saya beranggapan daerah saya masih tertinggal saya juga beranggapan SDM kami masih kurang bagus,  sebenarnya banyak juga putra putri asli kabupaten kuantan singingi ini yang sudah menjadi manusia unggul tapi mungkin saya saja yang tidak mengetahui.
                Berangkat dari  mebandingkan daerah sendiri dengan daerah daerah yang sering muncul di televisi akhirnya saya menanamkan dalam hati untuk menjadi salah satu putra daerah kuansing yang semoga besok bisa merubah dan memajukan daerah kuantan singingi. Namun sebelum kita bermimpi  tentu sebagai manusia tak mau mimpi sekedar mimpi dan cerita hanyalah cerita, tentu ada keinginan untuk mewujudkan.




                Dari hal ini kita kebelakangkan dulu masalah logika, di sini saya ingin menjelaskan terlebih dahulu  mengenai  mimpi saya dulu, masalah terealisasi atau tidak kita serahkan ke sang pencipta, walau jika di hubungkan ke status ekonomi itu sangat tidak bisa menutupi, itu pendapat saya waktu masih kelas dua SMA.
                Akibat keseringan melihat televisi membuat tingkat halusinasi terlalu tinggi dan tigkat ekspetasi teralalu berani, di awali dengan saya menonton film yang jalan ceritanya di angkat dari kisah hidup salah satu kepala Negara Indonesia yaitu pak BJ Haibie , dengan judul  habibie ainun 2, dan  yang  saya cerna dari film ini  bukanlah keromantisan antara bapak Habiebie dan ibuk Ainun, melainkan keseriusan pak Habibie dan tekad dia yang percaya bisa merubah Indonesia dari Negara Agraria menjadi Negara HI-tech seperti jepang dan jerman, dari sini kita bisa menangkap jika kita ingin merubah sesuatu yang mungkin sulit untuk dirubah kita harus merubah diri sendiri terlebih dulu, walau banyak  cemo’oh kita harus kuat dengan tekad tersebut.
                 Jika kita membandingkan pada apa yang pak Habibie punya dengan kehidupan saya  mungkin sangat-sangat berbeda, apalagi dari segi kecerdasan, namun apa yang di bilang tekad untuk membawa kemajuan bagi tanah air yang digelorakan pak habibie itu saya merasa semangat itu tumbuh di hati saya, terinspirasi dari film ini dan di latar belakangi masalah yang ingin membawa kemajuan ke daerah asal  membuat saya untuk bertekad dengan bermimpi menjadi seorang engineer, atau insinyur, seperti apa yang di tekuni pak Habibie, dan saya yakin juga seorang engineer mampu membawa kemajuan kepada daerahnya maupun negaranya, dibuktikan juga dengan prestasi pak habibie yang mampu menomalkan Indonesia setelah terpuruk dari krisis moneter jaman presiden soeharto. Sejak saat itu saya bermimpi  menjadi seorang insinyur .
                Masuk ke masa masa SMA, dimana masa masa awal kita mencari jalan awal kemasa depan, mimpi saya  untuk menjadi seorang insinyur sudah dapat, dan sekarang saya berpikir untuk bagaimana merealisasikannya, jikalau melihat kondisi ekonomi keluarga saya mungkin sangat sulit untuk mendukung impian saya untuk menjadi seorang insinyur, dengan kondisi pekerjaan orang tua sebagai petani, apalagi seorang petani karet, dengan harga karet yang waktu saya SMA sekiataran RP.5000-RP.6000 pada waktu itu, dan dengan luas kebun karet yang tidak terlalu luas membuat pengahasilan orangtua saya hanya sekitaran seratusan per minggu untuk 4 anggota keluarga, namun kembali lagi orang tua saya selalu berpesan “jalan sudah di atur oleh tuhan”.
                Jikalau saya berkuliah nanti mungkin akan sangat sangat menyulitkan orang tua saya yang mana mereka juga sudah menempu usia senja, bapak dengan umur(64) dan ibu dengan umur (59) pada waktu itu juga salah satu dari sekian alasan untuk membuat saya berpikiran tidak akan berkuliah, Berkaca dari dua orang abang saya yang sudah berkuliah dan telah menjadi sarjana, dan untuk menguliahkan abg saya saja saya pernah ikut turun membantu bapak saya untuk motong karet, paginya sekolah siangnya motong karet, itu pas masih SMP, dan lahan yang di garap itu paginya lahan sendiri siangnya lahan orang lain dan nanti hasilnya di bagi, itu terjadi waktu saya masih smp, waktu itu harga karet sudah seperti ini tapi usia orang tua masih segar, berbeda dengan jaman saya, lahan sudah tinggal lahan sendiri dan usia orang tua sudah tua, dan banyak lagi pertimnbangan saya untuk memutuskan berkuliah atau tidak.
                Walau di hubungkan ke keadaan ekonomi tidak memungkinkan, namun saya tetap bersih kukuh untuk berkuliah, dan akhirnya masa SNMPTN sudah dekat, jika di hubungkan dengan tingkat kecerdasan, saya adalah anak yang tidak pintar pintar amat dan tidak masuk tiga besar, namun karna mungkin dari jawaban dari impian allhamdulillah saya di luluskan di data pdss dan allhamdulillah berkesempatan  bersaing di SNMPTN, dan mungkin inilah satu satunya jalan saya untuk berkuliah. Ketika saya gagal mungkin saya tidak tau lagi bagaimana cara untuk berkuliah, jadi saya berpikir saya tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan itu, tapi kembali lagi ke kepercayaan saya selaku umat beragama tentang mainset semua sudah di tentukan tuhan.
                Setelah saya lulus pdss dan saya beranikan untuk mengambil Teknik sipil di universitas Riau, karna ini ada kaitan dengan mimpi menjadi seorang insinyur, namun kembali lagi ke persaingan SNMPTN tidak lah mudah. Kita bersaing dengan semua lulusan SMA yang ada di Indonesia, bukan hanya dengan teman satu sekolah, namun disini lah hambatanya, saya yang biasa-biasa saja berani mengambil jurusan teknik sipil, yang mana banyak orang yang menginginkan jurusan tersebut, ternyata pesaing datang bukan dari orang luar, melainkan dari teman sejawat saya sendiri, yang mana waktu itu dia posisinya sebagai juara umum sekolah. Jika  bersaing dengan saya maka saya akan kalah telak, dan disitu saya harus berimprovisasi untuk tidak menyia-menyiakan kesempatan SNMPTN itu, saya harus memikirkan bagaimana saya harus tembus jalur ini, jikalau tidak tembus maka saya tidak akan kuliah, karna kemampuan otak yang pas pas buat SB dan pengaruh ekonomi yang menghambat saya untuk masuk swasta. dan ketika dekat waktu pendaftaran SNMPTN tiba-tiba saya melihat di televisi seorang gubernur jawa barat yang dulunya masih menjabat sebagai walikota Bandung, yap benar bapak Ridwan Kamil, seorang pemimpin yang mampu merubah wajah bandung dan seorang akademisi yang berlatar belakang arsitek, dari hal ini saya memutuskan untuk berbelok dari teknik sipil ke arsitektur, dan ternyata jodoh, di Universitas Riau waktu itu baru berdiri jurusan Arsitektur, berdiri sebagai jurusan baru dua tahun waktu saya masuk tepatnya pada tahun 2018 dan ada sudah sejak dari 2009, yang mana Arsitektur Unri sebelum jadi jurusan dulu dia berada di naungan jurusan Teknik Sipil.
                Berkat melihat bapak Ridwan Kamil ini saya memutuskan untuk mengambil jurusan Arsitektur, pada waktu itu saya belum tau bagaimana banyaknya keluar uang sewaktu menimba ilmu sebagai mahasiswa arsitek, dan mungkin jikalau di hubungkan ke ekonomi saya lagi semakin tidak akan bisa orang tua saya untuk menguliahkan, dan disinilah di mulai sakit sakit nya untuk berkuliah.
                Sebelum memututuskan mengambil arsitek terlebih dahulu saya mempertimbangkan di masalah biaya, waktu itu belum terpikir biaya penunjang kuliahnya, seperti biaya alat gambar dan lain lain,  saya masih memikirkan biaya SPP atau mungkin kalo di universitas negri lebih di kenal sebagai Uang Kuliah Tunggal. Dan akhirnya saya mendapat info kalau beasiswa bidikmisi itu ada, yang saya ketahui waktu itu bidikmisi adalah beasiswa berprestasi, dan saya adalah siswa yang tidak memiliki prestasi satupun, tapi kembali lagi ke cara yang saya ambil waktu SNMPTN, yaitu coba dulu, lulus Alhamdulillah galulus gajadi kuliah, akhirnya saya ambil beasiswa ini.
                Waktu pengumuman SNMPTN pun tiba, dan saya terkejut sewaktu saya mau berangkat sekolah saya di hampiri salah seorang guru saya di jalan, dan dia memberitahu kalau saya lulus SN, tapi saya masih belum mau terlalu berharap, walau sebenarnya pengumuman SN ini hari kemarin, namun karna saya tidak memiliki hp untuk mengakses internet jadi saya telat dapat info, dan allhamdulillah mimpi buat jadi seorang insinyur seperti pak haibibi perlahan lahan terwujud, walau pak habibie di bidang penerbangan dan saya di bidang pembangunan, dan dua hal ini Cuma berbeda subjek saja,  setidaknya saya berhasil lulus di Arsitektur Unri, walau waktu itu akreditasi masih C, bagi saya akreditasi jurusan bukanlah masalah bagi seorang engineer, ang terpenting adalah skill dan softskill.
                Walau tak menjadi  seorang insinyur saya bersyukur bisa lulus di kampus Unri dan lulus di jurusan Arsitektur fakultas teknik. Namun itu hanyalah awal perjuangan, perjuangan belum di mulai, itu menurut saya.  Awal niat saya di uji pertama kali ialah sewaktu penentuan UKT Mahasiswa, dan saya terkejut karna mendapat golongan 4, sekitaran 3 juta’an waktu itu kalau tidak salah, dan saya sangat sangat  sedih menimbang bagaimana cara saya mendapatkan uang sebanyak itu dengan kondisi orang tua seperti itu, pintu pertama terbukak tetapi masih ada pintu lain yang harus saya lewati, niat di uji berkali kali rasanya,  dan saya belum tau masih berapa pintu yang harus saya hadapi, begitulah kurang lebih gambarannya.
                Kembali lagi ke tekad kuliah, akhirnya saya mendapatkan jalan bahwa seorang pelamar bidikmisi ternyata di perbolehkan tidak membayar UKT, dan waktu itu status saya masih berstatus sebagai pelamar  bidikmisi, dan allhamdulillah sudah ada jalan, namun pintu masalah selanjutnya datang, yaitu masalah dimana saya menetapjikalau di pekanbaru, kita tau untuk ngekos atau ngontrak itu di kota  sangatlah mahal dan orang tua mungkin bakalan minjam sana minjam sini kalau saya tetap bersih kukuh untuk berkuliah, dan lagi lagi tuhan tahu pikiran hambanya sedang buntu, ada saja jalan oleh tuhan bagi kehidupan saya, saya di ijinkan tinggal dengan keponakan serumah tanpa bayar karna mungkin keponakan saya ini orang tuanya sudah menjadi orang berhasil, lagi lagi do’a terjawab, itu Cuma bebarapa masalah yang selalu ada jalan keluarnya bagi saya, titik masalah terberat mungkin ketika saya mau memulai perkuliahan tiba tiba bapak saya sakit dan di vonis gagal ginjal, hampir dua bulan bapak saya tidak bisa bekerja, dan dari mana saya makan, jangan tanyakan itu, karna tak kan sia sia sang pencipta menciptakan hambanya,
                Ibaratkan waktu itu sebelum keluar bidikmisi saya berkuliah seakan akan hari demi hari saya selalu berpikir bagaimana cara saya untuk bertahan dari hari ke hari di kota, dan allhamdulillah satu semester saya bertahan dan bidikmisi saya lulus, dan sekarang saya sudah menikmati uang bidikmisi, dari sebelumnya saya merasakan kesulitan sekarang saya sudah lumayan walau saya belum merasa cukup karna untuk kuliah di arsitektur mungkin kawan kawan tau bagaimana uang yang keluar, tapi yang namanya hidup tidak akan mudah terus, pasti ada lobangnya.
                Setelah saya lulus bidikmisi saya berpikiran bagaimana membalas jasa ibu pertiwi ini, saya adalah seseorang yang biasa biasa saja tidak mempunyai prestasi untuk di banggakan, akhirnya saya memilih aktif di organisasi, di awali dengan menjadi koordinator bidikmisi untuk fakultas teknik pada forum mahasiswa bidikmisi di kampus saya, namun selaku anak kampung saya memliki kendala dari segi bahasa, karna saya baru megenal kota itu baru baru pas kuliah, dan untuk ergaul saja saya selalu menjadi anak pendiam, bukan karna saya pemalu melainkan karna saya kurang bisa berbahasa Indonesia, padahal ilmu komunikasi di dunia arsitektur sangat sangat di perlukan.
                 Dan akhirnya ketika saya menjalani amanah sebagai koordinator bidikmisi ini membuat saya tumbuh dan perkembang sebagai mahasiswa sosial, mulai dari memperjuangkan orang orang yang tak bisa kuliah sampai ke mendengar curhatan mahasiswa untuk di loloskan di bidikmisi, sampai saya pernah di telpon salah seorang orang tua dari calon mahasiswa untuk meloloskan beasiswa bidikmisi anaknya karna mengira saya ada wewenang untuk meloloskan mahasiswa bidikmisi, dari sini saya melihat bukan hanya saya yang mengalami hal ini, pikiran saya menjadi terbuka masih banyak di luar sana hati yang sangat ingin kuliah namun terkendala, ada banyak di luar sana mimpi yang tumbuh, Cuma hanya sedikit yang tekadnya mampu mematahkan panggung keadaan, setiap tahun saya terlibat mengantarkan info bidikmisi ini sampai ke desa desa lewat program BIDIKMISI GOES TO SCHOOL FORUM MAHASISWA BIDIKMISI UNIVERSITAS RIAU. Dan yang palin mengesankan itu saya pernah menempuh jarak 200 KM dari kampung menuju lokasi di kabupaten Kampar, dan jalanan kesana sangatlah tidak bersahabat, kebun sawit dan tanpa aspal ,tapi kembali lagi ke niat dan rasa terima kasih tadi.
                Mungkin dari kisah ini kawan kawan dapat mengambil hikmah, ada banyak di luar sana yang sangat ingin berkuliah dan keadaan tidak mendukung mereka, saya adalah salah satunya , namun saya juga  salah satu orang yang beruntung dan yang sampai saat ini masih berpikiran bagaimana cara membalas jasa ibu pertiwi ini, sekarang saya masih mahasiswa semeseter 4, jadi mungkin saya baru bisa membalas jasa ibu pertiwi ini dengan terjun langsung membantu calon calon mahasiswa yang  kurang mampu. Pada saat saya menulis ini saya baru mengemban amanah sebagai kepala dinas advokasi di BEM FT UNRI, di  usia yang mungkin bisa di bilang belum saatnya karna saya masih semester 4. Dan akhirnya disinilah saya menemukan jalan saya untuk mendapatkan cara bagaimana mengungkapkan terima kasih kepada ibu pertiwi pada saat menekuni status sebagai mahasiswa, ya dengan terlibat di garis depan dalam upaya upaya membela hak hak mahasiswa, dan yang saya ingin tonjolkan disini bukanlah hidup susahnya, tapi bagaimana kita berpikiran sesuatu yang kita tidak percaya itu bisa kok terealisasi, karna saya yakin setiap anak bidikmisi pasti memiliki kendala semua, perlahan lahan  mimpi itu tergambar.
---
Sekian terima kasih

 

Author Image

About bidikin
Inspiratif, Berkarya, Bermakna, Peduli

No comments:

Post a Comment