Saturday, May 16, 2020

Tentang Sebuah Perjuangan

1

Tentang Sebuah Perjuangan
            Barisan padi yang menguning menyaksikan sukacita ku saat pulang dari sekolah. Saat itu, aku benar-benar senang. Tugas yang  aku kerjakan bersama ayah, sangat diapresiasi oleh Ibu Guru wali kelas ku. Bahkan, aku disuruh mengajari teman-teman mengenai langkah penyelesaiannya. “Ayah, terimakasih karena sudah mengajari ku semalam.” Gumam ku dalam hati di perjalan pulang.
Nama ku Veronika Situmorang. Aku anak pertama dari lima bersaudara. Nama adik-adik ku adalah Selvy, Afrin, Elji, Evaldo. Orangtua ku bekerja sebagai Petani. Aku sangat sayang kepada semua keluarga ku. Terutama ayah, bagi ku dia adalah sosok yang luar biasa didalam menggapai harap. Kulihat dari perjuangannya sebagai kepala keluarga untuk menyekolahkan kami anak-anaknya. Darinya lah aku belajar untuk memaknai hidup dengan baik.
Setumpul-tumpulnya pisau, jika di asah pasti akan tajam. Pepatah tersebut adalah sebuah pernyataan yang sering dikatakan ayah. Setiap malam, ayah selalu membimbing aku dan adik-adik untuk belajar. Nama sekolah ku adalah SD N 21 Pasaran Parsaoran. Di masa SD, aku selalu berada di peringkat tiga besar yang terdiri dari 15 murid. Aku juga beberapa kali menjadi utusan sekolah mengikuti olimpiade.
Hasil tidak akan pernah menghianati usaha yang keras. Saat aku ingin memasuki SMP tahun 2011, aku berhasil memasuki kelas terbaik di sebuah sekolah negeri di kampung ku. Aku merupakan urutan ke 8 dari 288 peserta seleksi. Aku memasuki kelas unggulan yang tentunya bergabung dengan orang-orang yang sangat pintar. Ayah mendukung ku dengan pernyataan, “Dengan belajar keras kamu pasti bisa” Dengan belajar sungguh-sungguh, aku dapat menyesuaikan diri dengan teman-teman ku didalam belajar.
Ternyata kebahagiaan di dunia tidak bersifat abadi. Pada 27 November 2012, pada saat aku berusia 14 tahun, aku harus kehilangan ayah selama-lamanya. Penyakit jantung yang datang secara tiba-tiba, menyebabkan dia harus segera berpulang kepada Penciptanya. Aku berpikir semuanya seperti tidak masuk akal. Seseorang yang kita sayangi tiba-tiba pergi ke alam Baka, bukankah itu hal yang menyakitkan?
            Kepergian ayah mengajarkan ku untuk berjuang lebih keras. Semasa hidup ayah, aku adalah orang yang tidak terlalu merasakan kelelahan saat pulang sekolah. Setelah ayah tiada, setiap hari aku harus membantu ibu ke ladang. Namun, satu hal yang ku pegang teguh bahwa dibalik sebuah perjuangan yang keras, ada hasil terbaik yang akan diperoleh. Pernyatan tersebut adalah nasihat dari Guru ku di sekolah. Aku juga tersadar, larut dalam kesedihan tidak akan mengubah keadaan. Ku coba semangat dengan bersandar kepada keyakinan bahwa aku pasti bisa.
            Sejak kecil, aku bercita-cita ingin menjadi seorang Dokter. Setelah ayah tiada, beberapa kali aku bercerita kepada ibu mengenai cita-cita ku. Dia selalu berkata “Jangan bermimpi terlalu tinggi, aku hanya membiayai kalian sampai jenjang SMA saja. Kalaupun ada niat kuliah, silahkan bekerja terlebih dahulu.” Aku maklum dengan ungkapan tersebut. Kulihat perjuangannya, dia harus mengambil peran ayah dan ibu sekaligus bagi kami anak-anaknya.
            Perjuangan ibu tidak kenal lelah. Ditengah raut wajah ibu yang lelah beraktivitas satu harian, dia menyempatkan untuk bertanya bagaimana keadaan belajar kami. Dia memeriksa buku-buku kami. Disamping itu, aku berinisiatif untuk mencoba menggantikan peran ayah kepada adik-adik ku. Setiap malam, aku selalu mengajak mereka belajar bersama.
            Satu hal yang tidak pernah lepas dari pikiran ku adalah perkataan ayah. Aku pasti bisa. Dengan syarat, aku harus belajar tekun. Sebagai pernyataan pendukung, aku mengingat pepatah bahwa dimana ada kemauan maka disitu ada jalan. Aku sangat meyakini hal tersebut. Itulah hal yang menjadi acuan ku tuk tetap semangat bahwa suatu saat aku pasti bisa meraih mimpi ku. Di masa SMP, aku selalu berada di peringkat 15 besar.  Cukup berbeda dari masa SD. Teman-teman satu kelas SMP ku dipenuhi siswa-siswi yang cukup pintar.
            Seiring berjalannya waktu, tahun 2015 aku memasuki masa SMA. Dengan berat hati, aku mendaftar ke SMK Negeri 1 Nainggolan. Sebenarnya, aku tidak suka dengan sekolah ini. Tapi karena kekalahan ku dari sebuah sekolah favorit di Samosir yakni SMA N 1 Pangururan, terpaksa aku harus sekolah di SMK N 1 Nainggolan. Aku mendaftar kesana dengan mengambil Jurusan Akuntasnsi. Jurusan ini adalah saran dari beberapa tetangga ku.
Setelah memulai proses pembelajaran, ternyata jurusan ini adalah jurusan yang begitu rumit dan membutuhkan ketelitian yang kuat. Aku tidak ingin mengecewakan ibu. Dia yang sudah berusaha keras menyekolahkan ku, akan ku hargai. Setidaknya, aku harus rajin belajar. Karena prinsip tersebut, aku mendapat peringkat satu di kelas serta peringkat dua umum di tingkat kelas ku saat semester 1 dan 2. Ibu sangat senang dengan prestasi ku pada saat itu.
Di jenjang SMK, ada masa Praktek Kerja Lapangan yang dilaksanakan mulai bulan Januari sampai April di saat kelas dua. Di masa tersebut, aku bingung akan PKL dimana. Semua teman-teman ku PKL di luar Samosir. Aku bertanya kepada ibu mengenai hal ini. Ibu mengatakan aku harus tetap tinggal di kampung untuk membantunya. Di sisi lain, teman-teman ku berkata, “Seharusnya kamu PKL di luar Samosir karena kamu adalah siswa berprestasi.” Aku bingung dengan beberapa pernyataan tersebut.
Hingga pada suatu hari, aku memutuskan PKL di sekolah. Bapak Sinaga selaku Wakil Kepala Sekolah dan sekaligus Guru akuntansi di sekolah ku, meminta ku untuk PKL di ruangannya. Mengingat perkataan ibu, akhirnya aku menyetujuinya. Akupun mulai PKL disana. Saat itu, aku masih kurang mahir didalam mengoperasikan komputer. Terutama didalam mengoperasikn excel. Beliau sering memberikan tugas didalam mengerjakan data di excel. Namun, dengan sikap keingintauan ku, aku selalu bertanya mengenai hal yang tidak ku ketahui kepada beliau. Bapak Sinaga mengajari ku dengan sangat baik.
Selama PKL, aku memang merasa cukup lelah. Tapi dibalik itu, aku merasa sangat beruntung. Banyak pengetahuan baru yang kudapat dari Bapak Sinaga. Bahkan, beliau sudah sering membawa ku untuk belajar bersama dengan kakak kelas. Ketepatan, Bapak Sinaga mengajar kelas 3 SMK membawa mata pelajaran komputer akuntansi. Disamping itu, aku sering berlatih di ruangan Bapak Sinaga saat jam istirahat. Tak jarang juga, aku bertanya mengenai hal yang tidak ku ketahui mengenai pelajaran akuntansi kepada beliau.
Usai PKL, aku merasa bahwa pengetahuan ku sangat bertambah. Teman-teman ku memang berubah penampilan setelah pulang PKL. Tetapi, hal itu tidak masalah bagi ku. “Yang penting banyak pengetahuan baru yang boleh ku dapat dari tempat PKL ku.” Begitu lah kata hati ku.
Pada bulan april 2016 tepatnya setelah selesai PKL, pengetahuan yang kumiliki benar-benar tersalurkan. Di masa tersebut aku harus bolak-balik ke kabupaten untuk mengikuti beberapa lomba. Diantaranya adalah Lomba Seni, Lingkungan Hidup dan Cerdas Tangkas Koperasi. Hasil perlombaan tersebut, cukup memuaskan. Beberapa penghargaan kuterima dari sekolah dan Kabupaten Samosir. Pada saat itu, aku juga memperoleh beberapa beasiswa prestasi, yakni Beasiswa Perstasi Inalum dan Prestasi dari Pemerintah. Aku sangat senang pastinya. Saat itu, aku benar-benar merasa bersalah. Karena dulunya, aku sempat membenci sekolah yang ternyata membuat ku berkembang. 
Cita-cita ku yang dahulu menjadi Dokter, kini berubah menjadi Dosen. Hal tersebut terjadi karena jurusan akuntansi ku tidak mendukung lagi menjadi Dokter. Di sekolah, mata pelajaran kesukaan ku adalah PKN dan Akuntansi. Aku mencari info tentang jurusan tersebut di dalam jenjang perkuliahan. Bahkan, mulai kelas 2 SMK semester 2, aku sering pergi belajar ke perpustakaan untuk mengerjakan soal-soal SBMPTN. Aku belajar melalui android yang ku beli dari hasil beasiswa ku.
Didalam proses belajar tersebut, tak jarang aku mengajak beberapa teman-teman ku untuk belajar bersama. Sesekali mereka ikut bergabung dengan ku belajar di perpustakaan. Soal-soal yang kurang kupahami, kutanyakan kepada Guru ku di sekolah. Dengan senang hati, mereka selalu mengajari ku. Para Guru ku mengetahui bagaimana latarbelakang ku yang sesungguhnya. Karena itulah, mereka sangat mendukung ku didalam semangat.
Saat aku memasuki kelas 3 SMK, Bapak Guru bagian kesiswaan menawarkan aku untuk mencoba kuliah nanti dengan beasiswa Bidikmisi. Beliau menjelaskan bagaimana kuliah dengan beasiswa tersebut. Aku sangat senang. Informasi tersebut membuat ku lebih semangat lagi belajar. Hingga pada saat UN, nama ku berada di posisi peringkat dua umum di sekolah ku. Aku tamat dari SMK N 1 Nainggolan pada tahun 2017 dengan hasil yang cukup memuaskan.
Dengan tekad yang kuat, aku mencoba SNMPTN melalui beasiswa bidikmisi dengan jurusan PKN dan Akuntansi UNIMED. Namun, aku kalah di seleksi tersebut. Aku berangkat ke Medan untuk SBMPTN. Aku tinggal di rumah nenek dan tante di Medan. Aku mencoba SBMPTN di UNIMED dan UNRI, kekalahan juga ku dapat pada saat itu. Aku benar-benar bingung.
Aku merasa tidak ada satupun orang yang mendukung ku untuk kuliah. Nenek dan tante yang menyaksikan kekalahan ku berkata, “Ini adalah sebuah pertanda, sebaiknya kamu bekerja untuk membantu ibu mu. Jangan berharap terlalu tinggi di tengah kehidupan yang pas-pasan.” Hati ku panas mendengar pernyataan tersebut. Ingin rasanya aku keluar dari rumah nenek, namun aku tidak tahu mau kemana aku berlari. Aku tidak mengenal siapa-siapa di kota Medan selain dari mereka. Hanya perasaan sabar yang boleh menjadi teman baik ku di saat itu.
Dengan tekad yang sama, aku memutuskan untuk mencoba kembali di tahun 2018. Akhirnya, aku bekerja didalam penantian satu tahun tersebut. Aku bekerja di sebuah tokoh bangunan, ketepatan disana tugas ku membuat pelaporan keuangan tokoh tersebut. Pekerjaan tersebut sejalan dengan jurusan ku dulu waktu SMK. Setiap hari, aku membawa buku ke tempat bekerja yakni buku pembahasan soal-soal SBMPTN. Dikala waktu luang, ku sempatkan sebentar untuk boleh belajar.
Saat bekerja, sangat banyak pengalaman baru yang boleh kudapat mengenai makna perjuangan didalam hidup. Mulai dari bagaimana menghadapi setiap pelanggan yang memiliki karakter yang berbeda, bagaimana untuk semakin bersabar didalam hidup. Tak jarang, hati ku sering menangis karena banyak hal yang tidak sejalan dengan pikiran ku. Namun bagi ku, menyerah bukan hal yang pantas untuk seorang penggapai mimpi yang indah.
Hampir setahun bekerja, tepatnya satu bulan sebelum ujian SBMPTN tahun 2018, aku behenti bekerja. Aku ingin lebih fokus mempersiapkan diri ku. Aku sering belajar bersama dengan beberapa teman gereja yang ingin SBMPTN juga. Dengan tabungan yang tidak cukup banyak, ku beranikan diri untuk keluar dari rumah nenek. Aku memutuskan untuk mengontrak kamar kos. Tujuan ku supaya aku lebih fokus belajar.
Seperti tersayat sembilu, begitu hati ku merasakan semua yang terjadi. Ku beritahu kepada ibu, bahwa aku telah berhenti bekerja. Ibu sangat marah dan mengatakan, aku terlalu nekat dalam mengambil keputusan. Tante ku juga berkata, bahwa aku anak yang tidak tau diri. “Mengapa tidak ada seorangpun yang mendukung ku?” Tanya ku dalam hati. Meskipun dengan keadaan demikian, aku tetap berusaha untuk tegar. “Aku sudah mengambil keputusan untuk berhenti bekerja, maka aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk boleh mempersiapkan diri dengan baik.”
Saat pelaksanaan SBMPTN 2018 tiba, aku mengambil jurusan PPKN di UNIMED, Ilmu Perpustakaan di USU dan Akuntansi di UNSRI. Hasil pengumuman tersebut sama dengan hasil pengumuman tahun 2017. Aku harus mengalami kekalahan lagi. Ku coba menenangkan diri dengan yakin bahwa semua akan baik-baik saja. “Tuhan tidak akan membiarkan ku jatuh terpuruk.” Begitu prinsip yang kupegang teguh.
Ternyata, Universitas Swasta di daerah tinggal ku di Medan menyediakan Beasiswa Bidikmisi. Universitas tersebut adalah Universitas Katolik Santo Thomas. Informasi tersebut ku peroleh dari Bapak Pendeta di gereja ku yang juga berprofesi sebagai Dosen di sebuah universitas swasta di Medan. Akhirnya, beliau menyarankan ku untuk kuliah di Universitas Katolik Santo Thomas. Beliau juga membantu ku untuk segera mengurus beasiswa Bidikmisi di Univeritas Swasta tersebut.
Akhirnya aku kembali mempersiapkan diri untuk seleksi di Universitas Katolik Santo Thomas. Saat itu, jumlah peserta seleksi sebanyak 80 peserta. Padahal, mahasiswa yang akan terpilih nantinya adalah 28 peserta. Aku benar-benar yakin, bahwa inilah seleksi terakhir yang akan membawa ku meraih mimpi ku.
Seperti pelangi sehabis hujan. Saat pengumuman, ternyata aku dinyatakan lulus. Kini, aku akan kuliah dengan dibiayai pemerintah. Aku sangat bahagia sekali. Ku beritahukan segera kepada ibu. Ku dengar tangisannya saat  bertelepon dengan ku. Ibu berkata, “Maafkan aku yang sempat menghalangi mimpi mu. Sekarang, gapailah dengan semangat dan belajar keras.” Mendengar perkataan ibu,  hati ku dipenuhi dengan rasa terharu bahagia.
Setelah aku memasuki perkuliahan, pastinya aku memulai dengan sangat semangat. Hal ini adalah mimpi ku mulai dari dulunya. Pelajaran akuntansi yang kupelajari dulu seawaktu SMK ternyata di ulang kembali di kampus. Aku yang sudah cukup mengerti mengenai dasar-dasar akuntansi, membuat ibu dosen yang masuk meminta ku untuk bekerjasama dengannya mengajari teman-teman ku. Banyak teman kelas ku yang berasal dari SMA jurusan IPA. Tentunya, mereka sering bingung dengan akuntansi. Dengan senang hati aku  mengajari mereka.
Saat semester tiga, aku mencoba untuk mengasah hobby ku dibagian kepenulisan. Dengan usaha yang cukup keras, aku memperoleh hasil yang cukup baik. Karya ku sudah di muat di sebuah buku di perpustakaan nasional. Dalam kegiatan kampus bulan Oktober 2019 aku berhasil memenangkan sebuah lomba kepenulisan di kampus dengan peringkat tiga. Pada Februari 2020 tepatnya aku di posisi semester 4, aku juga berhasil menjadi peserta terbaik didalam pengiriman karya tulis tingkat provinsi maupun nasional didalam lomba yang diselenggarakan kampus. Disamping itu, aku juga sering dilibatkan oleh para Dosen didalam kepanitian kegiatan kampus.
Saya sangat bersyukur dengan adanya besiswa Bidikmisi. Dengan adanya beasiswa Bidikmisi, prestasi serta kemampuan yang saya miliki dapat tersalurkan dengan baik. Hidup adalah perjuangan yang harus dimenangkan. Tentunya, dengan prinsip selalu ada jalan dimana ada kemauan. Saat aku berusaha dengan sungguh-sungguh, maka ada hasil baik yang sebenarnya sedang menanti. Yang paling terutama adalah harus sabar didalam menjalani hidup.
Jadikan setiap tempat sebagai sekolah dan setiap orang sebagai guru. Dari hal tersebut, terhasilkan makna bahwa hidup ini adalah proses belajar terhadap segala sesuatu. Aku juga menyadari melalui proses ini, didalam segala sesuatu yang terjadi ada maksud baik dari Tuhan kepada setiap orang yang berharap kepadaNya. Tetaplah jadi pribadi yang siap menerima kenyataan hidup, sekalipun itu cukup rumit untuk dipahami. Beradaptasi dan berproseslah didalamnya. Maka, ada kepuasan tersendiri bagi setiap pribadi yang berhasil melewatinya.


Author Image

About bidikin
Inspiratif, Berkarya, Bermakna, Peduli

1 comment:

  1. Website paling ternama dan paling terpercaya di Asia
    Sistem pelayanan 24 Jam Non-Stop bersama dengan CS Berpengalaman respon tercepat
    Memiliki 9 Jenis game yang sangat digemari oleh seluruh peminat poker / domino
    Link Alternatif :
    arena-domino.club
    arena-domino.vip
    100% Memuaskan ^-^

    ReplyDelete