Saturday, May 9, 2020

Roda Kehidupan

0
RODA KEHIDUPAN
Nama saya Nurul Nihlah saya biasa dipanggil Nihlah, saya lahir di Sidrap pada tanggal 10 Juni 2001 dari pasangan yang berbahagia nama ayah saya Anwar Syam dan ibu saya bernama Sumiati Yusuf. Saya anak pertama dari dua bersaudara, adik saya bernama Nurul Adiba Shakila. Keluarga saya tinggal di Padang Pamekke, Desa Belawae,Kecamatan Pituriase, Kabupaten Sidenreng Rappang.
Saya memiliki sosok ayah yang sangat tangguh. Ayah bekerja sebagai Petani di Desa Abbanderangnge, ayah saya bekerja seharian penuh, meskipun ditengah teriknya panas matahari dan derasnya hujan beliau tidak pernah mengeluh dengan pekerjaannya, karena beliau sadar kebutuhan keluarga yang semakin banyak.
Selain memiliki ayah yang tangguh, saya juga memiliki malaikat tanpa sayap yaitu ibu saya. Ibu saya seorang Ibu Rumah Tangga beliau yang mengurus keluarga kecil saya tanpa pernah mengenal lelah, menasehati saya dan memberikan dukungan lebih kepada keluarga terutama melihat anaknya sukses, saya bangga dengan ibu saya yang selalu berusaha memberi yang terbaik buat keluarganya. Saya bahagia dengan keluarga sederhana kecil ini.
Adik saya lahir pada tahun 2017, jarak usia saya dengan dia berbeda 15 tahun, dan sekarang usianya 3 tahun. Dia yang membuat saya selalu rindu dengan kampung halaman, dia di sekolahkan di PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) Babussalam, Desa Belawae, di sekolah dia hanya bermain dengan teman-teman sebayanya.                          
Pada tahun 2006 masa kecil sudah diisi dengan pembelajaran ketika saya di sekolahkan di TK. K.H. Abdul Malik, Desa Belawae. Di sana saya mulai belajar menulis, berhitung, hingga pandai membaca.
Pada tahun yang sama saya didaftarkan di MIS As’Adiyah Nomor 236 Paotoa, dan pembelajaran pada saat TK (Taman Kanak-Kanak) menjadi modal tersendiri bagi saya pada saat menduduki bangku MI (Madrasah Ibtidaiyyah) atau sederajat dengan SD (Sekolah Dasar). Ibu saya memilih untuk menyekolahkan saya di madrasah dengan alasan agar saya memiliki pondasi ilmu agama sejak dini. Pada kelas 1, semester 1, saya mempunyai banyak teman baru dan teman saya pada saat TK sekelas dengan saya. Semester 1 ini tak berjalan dengan baik karena saya meraih peringkat 9 dari 25 siswa. Dari sinilah saya mulai meningkatkan cara belajar saya baik di sekolah begitu pula di rumah, pada penerimaan rapor akhirnya di semester dua saya bisa meraih peringkat 1, orang tua dan guru sayapun sangat bangga melihat pencapaian saya, pada  saat semester berikutnya sayapun tetap mempertahankan prestasi saya. Pada saat saya kelas 3 saya mulai mengikuti cabang lomba di sekolah saya pada PORSENI (Pekan Olahraga, Seni, dan Keagamaan) pada cabang lomba  qasidah rebana tim saya menjadi juara 1, dan kejuaraan ini sudah dipertahankan sejak dahulu hingga sekarang, sedangkan pada lomba Sari Tilawah saya mendapat juara 2. Beberapa  prestasi yang saya bisa berikan pada sekolah saya, dan di kelas 3 saya mendapat peringkat 2 dan 3. Pada saat saya kelas 4 saya didaftarkan oleh sekolah saya kursus bahasa inggris dan biayanya dari sekolah saya, saya belajar hampir 6 bulan lamanya juga peringkat saya meningkat yaitu 1 dan 2. Pada  saat kelas 5 saya dimasukkan dalam program MDA (Madrasah Diniyah Awaliyah) di mana lembaga ini bertujuan untuk mengkaji ilmu agama lebih dalam dan juga program tahfidz serta tahsin namun peringkat saya menurun yaitu 3 dan 4. Saat kelas 6 saya tidak bisa mengikuti kegiatan apapun, pihak sekolah memfokuskan pada ujian nasional. Dengan pelajaran tambahan setiap sore hari senin sampai sabtu, dan berjalan hingga saya mengikuti ujian nasional dan lulus pada tahun 2013 dengan nilai dan prestasi yang membanggakan yaitu peringkat 2 dan 1.
Pada tahun 2013  saya mendapat panggilan untuk meneruskan pendidikan saya di madrasah tepatnya di MTs SA PP Darun Na’im As’adiyah Paotoa, sekolah ini satu naungan dengan sekolah saya pada saat MI (Madrasah Ibtidaiyyah). Masa MI (Madrasah Ibtidaiyyah) dengan MTs (Madrasah Tsanawiyah) sangat berbeda karena saya harus melewati MOS (Masa Orientasi Siswa)  terlebih dahulu. Masa-masa sulit saat masuk pertama ke MTs (Madrasah Tsanawiyah) adalah saat MOS (Masa Orientasi Siswa), namun ada kenangan indah pada saat MOS (Masa Orientasi Siswa) yaitu pada saat saya menjadi peserta terbaik MOS (Masa Orientasi Siswa) di angkatan saya. Pada saat kelas 7 saya berteman dengan banyak orang baru dan akrab dengan sahabat saya Nurtang. Berbicara mengenai prestasi, saya mendapat peringkat 1 dan 2 pada. Disamping itu saya mengikuti lomba qasidah rebana dan senam santri tingkat sekolah se-kabupaten dan medapatkan juara 1 pada setiap cabang lomba. Kenaikan kelas 8 saya bersahabat dengan Nuwahidah dan Wafiah, hampir setiap hari selalu ada kegiatan bersama, juga tambahan tugas kelompok membuat saya dan mereka menghabiskan waktu lebih lama. Pada saat semester dua di kelas 8 saya terpilih menjadi Bendahara Umum Osis, saya menghabiskan jam istirahat dengan menagih iuran bulanan di setiap kelas. Saya juga mengikuti kegiatan Pramuka dan menjabat sebagai Sekretaris Ambalan, rangkaplah sudah tugas saya menjadi siswa organisatoris. Saya selalu pulang larut karena banyaknya kegiatan organisasi, seperti mengatur segala jadwal kegiatan perlombaan, dan kegiatan harian, serta saya harus pula berlatih dalam persiapan lomba tingkat sekolah. Pada lomba tersebut saya berhasil mendapatkan juara 2 tari kreasi, juara 1 qasidah rebana dan juara 1 sari tilawah, saya merasakan kesenangan apabila saya bisa mengikuti banyak perlombaan dan sibuk di organisasi dikarenakan waktu tidak terbuang sia-sia. Dan pada saat pembagian rapor hasil pembelajaran saya meraih peringkat 3 dan 2, prestasi saya menurun karena saya terlalu mengedepankan organisasi. Dan tibalah saatnya kenaikan kelas 9, di semester 1 saya masih mengikuti lomba voli, saya mendapat juara 3 dan rutinitas dari MI loma qasidah rebana tetap dipertahankan oleh madrasah saya, dan juga saya mengikuti pelatihan senam santri mewakili sekolah saya, kemudian saya praktikkan pada teman satu sekolah saya, pada semester 2 semua kegiatan lomba dan organisasi telah berakhir di periode saya. Dan saya harus fokus untuk menempuh banyak ujian sampai akhirnya ujian nasional, namun setelah hasil ujian keluar nilai saya kurang baik di ujian nasional, nilai matematika saya sangat rendah tapi itulah kemampuan saya. Hari  itu tepatnya hari kamis acara perpisahan di sekolah diadakan dengan sedrhana dengan diundangnya orang tua murid, diadakanlah acara  syukuran kelulusan kami. Tepat sebelum acara perpisahan dilaksanakan, beberapa sekolah melakukan sosialisasi, termasuk di kelas saya, hari itu pertama kalinya saya mendengar nama sekolah  Pondok Pesantren Al-Mubarak DDI Tobarakka, saya direkomendasikan oleh guru saya bersekolah di sana, namun saya ragu. Sesampainya di rumah saya masih mencari beberapa sekolah yang pas untuk saya, dan SMAN 1 Pitumpanua adalah sekolah unggulan saat itu, di mana organisasinya telah mengukir banyak prestasi dan akademiknya sangat memadai dengan fasilitas yang memungkinkan, kemudian saya meminta persetujuan dari orang tua saya, karena saya berencana bersekolah di SMAN 1 Pitumpanua dan tinggal di rumah om saya karena jaraknya cukup dekat, tapi ibu saya berpesan kalau Pesantren Al-Mubarak DDI Tobarakka lebih dekat jaraknya dari rumah om saya, dan pengajar disana merupakan keluarga om saya. Kemudian saya diberi formulir oleh teman saya karena beberapa dari mereka juga akan melanjutkan pendidikan di sana, dengan alasan untuk memperdalam ilmu agama salah satunya dengan cara mondok. Dan saya lulus pada tahun 2017.
Pada tahun 2017  saya melakukan registrasi pendaftaran, dan diterima di Pondok Pesantren Al-Mubarak DDI Tobarakka dengan . Saya memutuskan untuk mondok di sana. Sebelumnya, saya mengikuti TADZKIR (Ta’aruf dan Dzikir) terlebih dahulu. Kegiatan tersebut dilaksanakan selama seminggu lamanya, setiap hari saya harus datang pagi ke sekolah, meskipun jarak asrama dekat dari sekolah, apabila terlambat maka hukumannya yaitu membersihkan satu pondok atau  membawa peralatan kebersihan. Hari pertama dan kedua yaitu pengenalan pondok, asrama dan para pembina, hari ketiga dan keempat yaitu pengenalan organisasi serta para pengurusnya, juga lomba ajang bakat dilaksanakan, saya membawakan pidato bahasa Inggris, hari kelima dan keenam yaitu PBB (Pelatihan Baris Berbaris) yang dipimpin langsung oleh Pak Randi anggota Kapolsek Pitumpanua dan juga Pak Viktor Anggota Dandim Koramil Pitumpanua, pelatihan PBB ini merupakan kegiatan yang paling melelahkan tapi menyenangkan. Tibalah hari penutupan TADZKIR (Ta’aruf dan Dzikir) di kegiatan ini saya mendapatkan banyak pelajaran juga teman baru, dan saya terpilih sebagai peserta terfavorit pada kegiatan tersebut.
Keesokan harinya saya melakukan pendaftaran asrama dan ditempatkan di Asrama Putri Khadijah. Sayapun kembali ke rumah mempersiapkan barang-barang untuk pindah sore harinya. Pada malam hari, pengajian pertama saya ikuti yang merupakan kegiatan rutinitas malam di pondok.  Memasuki minggu kedua, pembagian kelaspun dilakukan, saya di tempatkan di kelas 10.A, pada semester 1 saya lewati dengan baik, sahabat saya bernama Lusi dan Ayu, di semester ini saya  mendapatkan peringkat 1 dari 25 siswa, pada saat saya semester dua saya mendaftar beberapa organisasi yaitu Pramuka, Saka Wira Kartika, dan Osis. Saya kembali menjalankan aktivitas saya sebagai santriwati organisatoris, dan saya disibukkan oleh beberapa kegiatan, seperti menjadi panitia porseni, panitia isra’ mikraj, dan panitia perpisahan. Saya juga mengikuti kegiatan pelantikan dan latihan gabungan di Kodim 1406 Wajo selama 3 hari 2 malam, kegiatan ini paling menantang yang pernah saya ikuti dengan mendaki Gunung, menginap di Gunung, dan menguji nyali di Kuburan. Selain itu, saya juga mengikuti kegiatan Pramuka Kwartir Ranting dan menjadi panitia di sana. Pada semester ini kelas saya mengikuti kegiatan lomba memasak dalam rangka hari raya Idul Adha dan juga lomba membuat hiasan telur, namun kelas saya belum bisa mendapatkan juara. Pada semester ini saya tetap mempertahankan prestasi saya yaitu juara 1 di kelas, alasan inilah yang membuat orang tua saya tetap mengijinkan saya untuk berorganisasi.
Pada saat kenaikan kelas 11 saya memilih jurusan IPA dan berada di kelas 11 IPA 1, sungguh momen yang menyedihkan saya tidak sekelas lagi dengan teman saya lusi dan Ayu. Di kelas 11, teman akrab saya namanya Khaeriah Kadir, saya selalu pergi bersama dengan dia. Selain itu saya aktif pada kegiatan organisasi, saya menjadi Ketua Panitia penerimaan Santri baru pada kegiatan TADZKIR (Ta’aruf dan Dzikir) ,dan mengkader santri MI (Madrasah Ibtidaiyyah) hingga MA (Madrasah Aliyah).
Pembelajaran di kelas 11 pun dimulai, saya mulai akrab dan bersahabat dengan Miftahul Janna, Ainun Maylani, dan tentunya Khaeriah Kadir, saya menghabiskan banyak waktu bersama mereka, mereka seperti saudara saya sendiri. Saya masuk anggota Sanggar Seni  dan menerima jasa penari untuk kegiatan di dalam Pondok maupun luar Pondok. Pada saat pergantian periode kepungurusan Osis, Pramuka, dan Saka Wira Kartika saya mulai sibuk dengan kegiatan kepanitiaan, di Osis saya menjabat sebagai Bendahara Umum, saya tidak terlalu kerepotan karena saya sudah berpengalaman waktu MTs, di Pramuka saya menjabat sebagai Ketua Ambalan Putri , selain itu di Saka Wira Kartika yang merupakan organisasi eksternal dari Pramuka itu sendiri saya diberi amanah menjadi Kirani atau Sekertaris Umum di Koramil 1406/Pitumpanua karena jabatan saya ini mengharuskan saya untuk pergi ke cabang Kodim 1406/Wajo tepatnya Kota Sengkang setiap pekan. Dan saya sangat bersyukur ketika pembagian rapor hasil pembalajaran saya masih bisa mempertahankan peringkat saya yaitu peringkat 1.
Pada semester 2 saya mulai sibuk dengan organisasi saya, akan tetapi guru saya meminta saya untuk mengikuti beberapa lomba, saya mengikuti lomba KSM (Kompetensi Sains Madrasah) mata pelajaran Kimia terintegrasi, bersama teman saya dengan mata pelajaran yang berbeda di tingkat Kabupaten, dengan persiapan seminggu saya ke tempat lomba dengan Kepala Madrasah dan juga Sekretaris Madrasah yang mendampingi saya lomba di Sengkang,di tempat tes saya bertemu dengan teman saya dari sekolah lain, mereka adalah teman-teman saya dari beberapa kegiatan di organisasi. Setelah selesai tes dengan soal yang rumit, sayapun kembali ke sekolah, seminggu kemudian pengumuman hasil sudah disampaikan, guru saya menyampaikan bahwa saya menjadi juara 1 dalam lomba tersebut dan berkesempatan untuk mewakili Kabupaten di tingkat provinsi, saya langsung mengecek dan benar bahwa saya lolos, juga sahabat saya Miftahul Jannah dengan mata pelajaran Fisika terintegrasi berhasil menjadi juara 2, dan kabar gembira pula bagi  bahwa juara 1 dan 2 akan mewakili kabupaten ke tingkat provinsi. Saya dan Miftah melakukan persiapan untuk lomba di Makassar bulan depan, setiap sore saya melakukan pembelajaran khusus dengan guru mata pelajaran, berhubungan guru pembimbingnya adalah saudara kembar, jadi saya dan Miftah belajar di rumah beliau. Tibalah hari saya berangkat ke Makassar bersama Kepala Madrasah saya dan Sekertaris Madrasah ibu Humairah, sebelum ke Makassar saya melakukan pelatihan tingkat kabupaten di Kantor Kementrian Agama untuk persiapan ke tingkat provinsi. Sesampainya di Makassar saya dan rombongan menginap di Hotel terdekat dengan lokasi dengan biaya transportasi dan akomodasi di tanggung oleh Kepala Madrasah, paginya saya, miftah dan pembina berangkat ke lokasi tes tepatnya di MAN (Madrasah Aliyah Negeri) 2 Model, setelah itu saya pulang ke Hotel, sesuai janji Kepala Madrasah sebelumnya, bahwa yang berhasil lols ke tingkat provinsi akan mendapatkan bonus dari beliau. Saya dan Miftah ditraktir untuk liburan di Trans Studio Makassar, ini kedua kalinya saya kesana, sayapun menghabiskan waktu di sana dengan Miftah, hampir semua wahana saya mainkam, termasuk yang paling ekstrim Dragon Tower dan Giant Swing, setelah itu saya nonton 3D Hulk juga teater. Saya juga berkunjung ke Rumah Sains dan juga Rumah Kaca, satu kejadian terjadi, saya dan Miftah  masuk di Rumah Bolang dan melewati batas orang dewasa, jembatan untuk anak-anak yang saya lewati putus, dan sadar saat di tegur oleh petugas, sungguh hal yang memalukan. Saya, miftah serta pembina saya disana menghabiskan waktu hingga pukul 8 malam di sana. Setelah itu saya dan rombongan pulang ke Hotel lalu kembali ke Kabupaten.
Seminggu kemudian pengumuman disampaikan, namun saya dan Miftah tidak berhasil mendapatkan juara dan tentunya kesempatan untuk bertanding di tingkat nasional sudah menjadi angan-angan, namun saya percaya masih ada kesempatan di lomba berikutnya. Kemudian diadakan lomba PORSENI (Pekan Olahraga dan Seni)  tingkat kabupaten, dan Sekolah saya menjadi tuan rumah, saya menjadi panitia di kegiatan tersebut, namun yang mengherankan bahwa saya tidak diikutsertakan lomba qasidah oleh sanggar saya, saya sangat merasa kecewa padahal saya selalu memberikan apresiasi disana, kemudian saya dipanggil oleh Ustads Ajib sebagai pembina tahfidz pondok, mengajak saya untuk ikut cabang lomba MSQ (Musabaqah Syarhil Qur,an), lomba ini sangat terdengar asing bagi saya, kemudian saya mencari banyak info tentang lomba tersebut, kemudian saya terpilih sebagai Pensyarah, Miftahul Jannah sebagai Penerjemah, dan adik kelas saya Bunga Sahruni sebagai Qari,ah, lomba ini merupakan cabang lomba grup, saya dan tim berlath selama 5 hari dan pada hari lomba saya demam dan suara saya serak, sehingga hasil tampilan tim saya kurang memuaskan dan tidak mendapat juara. Namun kesempatan tidak berhenti sampai di sini, lomba MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur,an) tingkat kabupaten akan segera dilaksanakan, dan kembali tim saya di panggil untuk mewakili cabang lomba MSQ (Musabaqah Syarhil Qur’an), pada lomba kali ini mewakili kecamatan, tim saya dilatih oleh Ustads Aji Wardi yang merupakan Pegawai di KUA Kecamatan Pitumpanua. Tim saya melakukan persiapan kurang lebih dua minggu, dan lomba di adakan di Sabbangparu, Kota Sengkang. Di sana sayapun bersaing dengan teman organisasi dan teman lomba saya. Tampilan pertama tim saya cukup memuaskan di babak penyisihan dan berhasil untuk menuju ke babak final, pada malam pengumuman tim saya berhasil mendapatkan juara 1 dan saya dengan bangganya naik menerima piala di atas panggung, kabar yang menggembirakan ketika saya dan tim dipanggil untuk menandatangani surat yang menyatakan bahwa tim saya akan membawakan nama kabupaten di tingkat provinsi, sayapun sangat bersyukur bahwa kesempatan ada lagi, tim saya mendapat uang pembinaan sebanyak 3 juta, tanggapan dari orang tua tentunya sangat bangga dengan saya. Sesampainya di pondok, pembina memberikan respon yang baik. Seminggu kemudian tim saya di panggil ke Kantor Kementrian Agama, Kota Sengkang, untuk mendapat pelatihan di sana, karantina tim saya dilaksanan kurang lebih 2 minggu di Kantor Kementrian Agama. Saya dan rombongan Kabupaten Wajo berangkat menuju Luwu Timur  yang sebelumnya melakukan pelepasan peserta di Rumah Jabatan Bupati Wajo,  perjalanan yang ditempuh kurang lebih 12 jam menggunakan mobil bus, tibalah saya dan rombongan di salah satu perumahan di Desa Balantang, perumahan dengan area pegunungan dan danau, pelatih tim saya dari kabupaten dan kecamatan turut serta memberikan apresiasi, serta pondok saya yang selalu memberikan pelatihan jarak jauh untuk penampilan tim saya. Pembukaan pun dimulai dan dibuka langsung oleh Gubernur provinsi Sulawesi Selatan serta dimeriahkan oleh Nissa Sabyan, penampilan babak penyisihan dimulai pada hari ketiga, dengan rasa percaya diri tim saya menyampaikan hasil kerja keras, tim sayapun lolos ke babak final. Keesokan harinya tim saya mendapat maqra dan akan tampil di panggung utama sebagai penentuan di babak final dari semua cabang lomba, sungguh perasaan yang mengharukan dan senang, tim saya di tonton oleh banyak orang penting di Provinsi, sebelum malam penutupan para peserta diberi uang saku sebanyak 2 juta per orang untuk biaya liburan ke Luwu Timur, rombongan saya berkunjung ke Danau Matano, Sorowako, yang merupakan danau terdalam di Sulawesi Selatan. Saya menghabiskan waktu dengan para peserta lomba, yang merupakan para orang hebat. Malam harinya tim saya merapat ke panggung untuk mendengarkan pengumuman hasil lomba. Suatu kebanggaan lagi bahwa tim saya berhasil menjadi juara 1 MSQ (Musaqah Syarhil Qur’an) di tingkat provinsi, saya, Miftah, dan Uni naik ke panggung menerima penghargaan . Setelah itu tim saya di panggil untuk menerima uang pembinaan sebanyak 5 juta rupiah per orang, dan melakukan penandatanganan untuk mewakili Provinsi Sulawesi Selatan bertanding di tingkat nasional.  
Sesampainya saya di pondok, tim saya mendapat penyambutan yang baik juga dari pengurus KUA (Kantor Urusan Agama) kecamatan, bahkan spanduk foto saya dan tim di pajang besar di depan pondok dan depan KUA (Kantor Urusan Agama) sebagai apresiasi dari beliau, dan tidak lupa jamuan makan di Rumah Pimpinan Pondok saya. Saya menyerahkan piala kepada pihak pondok. Saya tidak lupa menyapa teman saya yang memberikan dukungan selama ini juga sahabat serta keluarga saya. Kemudian Pimpinan Pondok yang mengatur langsung persiapan tim saya untuk bertanding di Tingkat Nasional tepatnya di Medan, Sumatera Utara. Persiapan saya di Pondok kurang lebih 2 minggu dan sayapun berangkat ke Makassar diantar langsung oleh Ustadz Sahar Kepala Madrasah Tsanawiyah. Sesampainya di Makassar saya melakukan registrasi ulang peserta perwakilan kabupaten di Hotel Pengayoman, penyambutan peserta MTQ di Provinsi berlangsung baik serta pembagian kamar, pelatih, serta seragam rombongan. Proses karantina berlangsung kurang lebih seminggu lamanya dan sebelum berangkat ke Medan, pelepasan peserta dilaksanakan langsung di Rumah Jabatan Gubernur dan tentunya bapak Gubernur Provinsi Sulawesi Selatam memberikan apresiasi dan dukungan penuh kepada para peserta.
Saya transit di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar kurang lebih satu jam setengah sampailah saya di Bandara Soekarno Hatta Jakarta, dan melakukan transit lagi dengan tujuan Bandara Kualanamu Sumatera Utara. Sesampainya di Medan penyambutan peserta setiap provinsi oleh Gubernur Sumatera Utara. Ada 34 provinsi yang bertanding di MTQ ke-XXIV Tingkat Nasional. Saya menaiki Bus peserta dan menikmati indahnya suasana kota Medan di malam hari. Sesampainya di Hotel Lariz tempat rombongan menginap, tepatnya di Kabupaten Deliserdang yang merupakan lokasi utama pelaksanaan MTQ. Malam pembukaan sangatlah meriah oleh peserta masing-masing provinsi, acara dibuka langsung oleh Bapak Presiden Joko Widodo pada malam itu dan akhirnya resmilah pertandingan ini di mulai. Saya dan tim dilatih langsung oleh Ustadz Al-Misbah pelatih langsung dari provinsi yang merupakan salah satu ulama besar di Sulawesi Selatan. Saya dan tim tampil di hari ke tiga, saya bersiap menuju lokasi perlombaan tepatnya di Universitas Islam Negeri Medan. Sesampainya disana suasana sangatlah meriah dengan panggung yang luar biasa megah, dan acara yang ditayangkan langsung pada saat itu. Selanjutnya  yang tampil adalah tim saya dengan menatap semua penonton dan Dewan Hakim suasana sangat menegangkan, penampilan tim saya berlangsung dengan baik, dan merupakan penampilan yang memuaskan bagi saya. Namun Dewan Hakim berkata lain, tim saya tidak lolos ke babak final, sehingga harus berhenti di babak penyisihan. Setelah itu saya, Miftah, dan Uni pergi jalan-jalan di Kota Medan, salah satunya di Istana Maimun yang merupakan tempat bersejarah disana, dan juga Embarkasi Asrama Haji Medan, serta berkunjung ke Lapangan Merdeka Medan. Namun sayangnya tim saya tidak sempat mengunjungi Danau Toba dikarenakan kedatangan tamu dari Kabupaten Wajo. Sehari sebelum penutupan, pembina membagikan oleh-oleh serta uang saku sebanyak 5 juta kepada para peserta. Saya, Miftah, dan Uni pergi ke Pasar Sentral dan Pameran untuk membeli oleh-oleh buat teman, keluarga, dan pembina di kampung. Kemudian para peserta saling menyapa dan liburan ke berbagai tempat di Kota Medan sebelum penutupan. Pada malam penutupan acara ditutup langsung oleh Wakil Presiden Bapak Jusuf Kalla dan dimeriahkan oleh Iwan Fals dan Vidi Aldiano. Juara umum 1 diraih oleh Provinsi Banten, Juara Umum 2 Kota Jakarta, dan Juara Umum 3 Provinsi Sumatera Utara, selesai sudah acara tersebut dan rombongan saya langsung menuju ke Bandara Kualanamu dan tiba di Seokarno Hatta pada pukul 02.00 WIB kemudian transit lagi ke Bandara Sultan Hasanuddin dan tiba pada pukul 04.00 WITA, sungguh perjalanan yang melelahkan dan berkesan. Tiba di Makassar saya, Miftah, dan Uni dijemput langsung oleh Ustads Sahar dan Ustadz Nasir. Lalu perjalanan pulang kami menginap di rumah keluarga ustadz Sahar, momen berkesan ketika Ustadz Sahar menyuruh saya untuk menyinggahi semua mall yang ada di Makassar sampai Maros, karena beliau juga ingin mengajak jalan-jalan, meskipun mengantuk, saya, Miftah, dan Uni tetap menikmati. Perjalanan diteruskan dengan Mengantar uni di kampungnya tepatnya Kabupaten Pinrang. Dan saya tiba di Pondok pada pukul 23.00 WITA karena menghabiskan banyak waktu di perjalanan. Keesokan harinya ayah saya datang dan menjemput saya pulang ke rumah, sesampainya di rumah saya disambut ibu, serta adik saya yang sangat saya rindukan. Saya, Miftah, dan Uni diberi cuti sama ustadz, sehingga saya menghabiskan waktu yang lama di rumah, dan saya tidak ikut kepanitiaan penerimaan santri baru tahun ini, serta teman saya mengabarkan bahwa saya mendapatkan peringkat 1 di kelas.
Tahun 2019 di ajaran baru saya sudah kelas 12. Hari santri nasional telah tiba, dan saya sudah masuk pondok dan menyapa para pembina dan teman saya. Ternyata ada lomba yang diadakan dan pertama kalinya saya tidak ikut kepanitiaan karena disibukkan berbagai macam lomba. Lomba antar kelas akan dimulai, dan Wali Kelas saya memberikan 4 lomba sekaligus kepada saya, dalam waktu seminggu saya harus berlatih semua lomba tersebut, pembukaan dimulai penampilan pertama saya yaitu Story Telling, dan hari ketiga saya tampil membawakan pidato 3 bahasa, dan hari keempat saya tampil membawakan praktik sholat jenazah bersama teman sekelas saya, dan penampilan di hari terakhir yaitu vocal grup bersama teman sekelas saya juga. Pada saat pengumuman hasil perlombaan kelas saya 12 IPA 1 berhasil memperoleh juara umum, juga semua cabang lomba yang saya ikuti memperoleh juara 1. Waktu berjalan singkat pengumuman hasil pembelajaran sudah tiba dan saya masih tetap mempertahankan peringkat saya. Sebelum memasuki semester 2 saya sekelas melakukan acara study tour ke Benteng Fort Rotterdam dan Bugis Water Park Makassar. Disana saya menghabiskan waktu bersama sahabat saya yang tercinta.
Pada semester 2 saya dan pengurus lainnya melantik pengurus baru dan saya sudah Demisioner di semua organisasi, namun saya masih diperbolehkan ikut lomba, saya mengikuti lomba Puisi di Mangkoso kabupaten Barru di, acara Milad Anregurutta, namun saya kalah dari pondok lain. Serta saya juga mengikuti lomba senam santri bersama Miftah di Kecamatan Belawa pada acara Hari Amal Bakti Kabupaten Wajo, dan tim saya mendapatkan juara 1. Inilah akhir dari lomba yang saya ikuti. Saya tidak bisa mengikuti kegiatan apapun karena ujian sudah ada di depan mata. Saya dan sahabat saya sering menginap bersama di rumah Ainun untuk persiapan ujian. Setelah beberapa ujian selesai, ujian nasional tinggal menghitung hari.
Saya kembali ke rumah om saya sebagai persiapan yang matang. Hari itu tepatnya hari Kamis, saya berencana tidak pulang kampung karena sebentar lagi akan ujian. Namun ibu saya datang di rumah om saya, saya kaget karena tidak biasanya dia datang kecuali ada keperluan mendesak karena adik saya masih kecil. Ibu saya datang bersama sepupu saya Shiddiq, ibu saya masuk ke kamar dan langsung memanggil saya untuk mengantarnya ke Rumah Sakit, tanpa fikir panjang saya langsung bergegas mengambil kunci motor. Saya bercerita katanya di perut ibu saya ada benjolan besar, saya sangat kaget tiba-tiba saya mengingat almarhumah nenek saya yang juga menderita tumor di bagian perutnya. Sesampai di rumah sakit saya mengurus segala administrasi dan bertemu tante saya yang merupakan Bidan disana, saya dan ibu saya masuk ke ruang kandungan dan setelah di periksa bahwa hasilnya adalah ibu saya mengidap Tumor ovarium dan harus segera di angkat. Ibu saya menangis, dan saya harus kuat menahan air mata untuk berkonsultasi dengan dokter. Dokter meminta saya untuk mengambil keputusan apakah ibu saya siap di operasi karena sudah tergolong tumor ganas. Saya menelpon ayah saya karena sekarang dia ada di Balik papan untuk mengurus sengketa tanah milik nenek saya, dan ayah saya kan pulang dua hari lagi. Saya benar-benar berada di posisi dimana saya harus tenang dan berfikir dengan bijak, rasa syukur bahwa saya punya tabungan hasil lomba dan uang itulah saya pakai untuk konsultasi di Rumah Sakit pada saat itu. Saya memutuskan untuk meminta Dokter memberikan kesempatan saya berkonsultasi dengan keluarga selama 2 hari. Saya pulang ke rumah, ibu saya terlihat sangat berbeda. Saya terus berfikir keras, apakah uang yang saya punya cukup untuk operasi ibu saya, apakah dengan operasi akan lebih baik, saya terus bertanya sendiri, ditambah ujian nasional di hari senin, jika ibu saya di operasi maka akan tepat di hari ujian nasional saya, sambil memikirkan langkah terbaik saya juga menunggu bapak saya pulang. Saya mengurus surat rujukan ibu saya ke Puskesmas Belawae dan membawanya ke Rumah Sakit Umum Siwa, dan diterbitkan surat rujukan operasi ke Rumah Sakit Belopa. Ayah saya sudah datang dan saya berbicara serius dengan ayah, meminta keputusan terbaik. Kemudian tiba-tiba difikiran saya terbenak cerita teman ayah saya yang mengatakan tentang pengobatan herbal di  kampungnya. Saya meminta ayah saya untuk menghubungi temannya dan ternyata pengobatan itu masih ada dan sudah terbukti percobaan dari beberapa orang. Saya menghubungi tante saya untuk membatalkan rujukan tersebut dan tepat hari Ahad saya berangkat ke lokasi tepatnya di Kabupaten Bone, Kecamatan Lamuru, bersama ayah saya, ibu saya, dan teman ayah saya. Setibanya disana pengobatanpun berlangsung antri karena banyaknya pasien, sehingga membuat saya dan ibu saya menunggu hingga malam, setelah ibu saya diberi obat saya merasa sedikit lega dan bisa tenang dalam Ujian Nasional besok,  saya sama sekali tidak melakukan persiapan apapun untuk Ujian Nasional karena difikiran saya hanya, bagaimana cara agar ibu saya bisa sembuh. Saya sampai di rumah pukul 03.00 dini hari dan saya segera menyiapkan makanan dan obat untuk ibu saya serta beres-beres di rumah, kemudian saya tidur, jam 05.00 saya menyiapkan makanan dan bersiap-siap ke pondok, perjalanan ke pondok kurang lebih satu jam dengan mengendarai sepeda motor saya sampai disana, saya pulang balik ke rumah selama ujian berlangsung . Di sekolah saya pun hanya datang ujian dan ketika selesai saya langsung pulang ke rumah, sahabat saya bertanya begitu juga dengan teman saya, tapi saya tidak bisa menceritakan kejadian itu. Hari-hari terus berlalu seperti itu dan saya meminta izin ke ibu saya untuk ke Makassar untuk ikut tes PTN (Perguruan Tinggi Negeri) di Makassar, namun saya belum bisa lulus disana, sepulang rumah keadaan ibu saya mulai membaik seperti biasanya karena obat yang diminum memberikan efek yang baik setiap harinya. Hari perpisahan di pondok sayapun segera dimulai, ibu saya menyuruh saya untuk kembali ke pondok sampai acara selesai, dan sayapun ke pondok dan menghabiskan waktu-waktu terakhir dengan teman saya, membuat momen spesial dengan para sahabat saya. Pada hari perpisahan saya mendapat kabar bahwa saya lolos SPAN-PTKIN di UIN Alauddin Makassar jurusan Biologi, karena tahun ini sekolah saya tidak memverifikasi pendaftaran SNMPTN. Saya juga menjadi lulusan dengan prestasi terbaik pada saat itu, ayah dan ibu saya juga menyempatkan datang di momen yang berbahagia itu.
Setelah berhari-hari saya menghabiskan waktu dengan berbagai pendaftaran dan saya juga melakukan pendaftaran ulang di UINAM (Universitas Islam Negeri Makassar), keluarlah hasil PMDK-PN bahwa saya lolos di Politeknik Negeri Ujung Pandang jurusan Teknik Kimia program studi D4-Teknologi Kimia Industri jalur BIDIKMISI  dan saya tidak khawatir lagi masalah biaya dan orang tua sayapun mendukung hal tersebut. Saya sangat bersyukur masih bisa melanjutkan pendidikan dengan adanya program BIDIKMISI tersebut.
Saya melakukan pendaftaran ulang di Politeknik Negeri Ujung Pandang dan ditetapkan sebagai mahasiswa di sana pada bulan September, saya juga mencari kos di Makassar, dan teman kos saya Nadia Yuliana Ilham se-kos dengan saya. Penerimaan mahasiswa baru dilaksanakan dengan kegiatan PKKMB selama 3 hari dan kegiatan bela negera selama 2 hari. Setelah itu saya masuk ke kampus dan bertemu dengan teman sekelas saya dari berbagai daerah yang sebelumnya sudah akrab di kegiatan PKKMB. Semester 1 berjalan dengan baik, saya masuk organisasi HIPERMAWA (Himpunan Pelajar Mahasiswa Wajo) dan bertemu dengan teman-teman yang sebahasa dengan saya, di organisasi ini sudah memiliki kekeluargaan yang sangat erat, dan saya mengikuti KAWALI (Kaderisasi Awal Wija La Tenri Bali) di Taddeang, Kabupaten Maros sebagai awal pengenalan organisasi, dan LPK (Latihan Pengembangan Kepemimpinan) II dilaksanakan di Tanjung bayang, Makassar, dan saya menjadi peserta terbaik saat itu, saya juga mengikuti organisasi HMI PNUP (Himpunan Mahasiswa Islam, Politeknik Negeri Ujung Pandang) di mana organisasi ini mengajarkan mahasiswa untuk kritis pada apa yang terjadi dan bertindak tegas pada apa yang tidak sesuai, saya di kader selama 3 hari dengan jangka waktu 20 jam per hari, benar-benar organisasi dengan metode berbeda yang pernah saya temui selama ini. Tidak berhenti sampai di sini saya juga dipanggil oleh senior yang merupakan alumni di pondok saya untuk mengikuti pelatihan organisasi di IMDI (Ikatan Mahasiswa DDI) pengkaderan pun berlangsung 3 hari dan sistemnya hampir sama dengan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Semester 1 saya berlangsung dengan banyak organisasi dan kegiatan laboratorium yang menyibukkan. Sayapun pernah menjadi sekertaris panitia di acara Anniversary yang ke-9 HIPERMAWA (Himpunan Pelajar Mahasiswa Wajo).
Semester II telah tiba dan perekrutan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) dan Pengkaderan HMJ (Himpunan Masasiswa Jurusan) dilakanakan, saya mengikuti pengkaderan HMJ (Himpunan Masasiswa Jurusan) selama 2 hari dan terpilih sebagai peserta terbaik di acara Leaching ke-XXII Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia, dan saya mendaftar di UKM Taekwondo, namun keesokan harinya kabar Covid-19 telah menyebar di Indonesia dan telah masuk di Kota Makassar, maka saya pulang ke kampung. Sistem pembelajaran di semester 2 diadakan secara daring hingga saat ini.

Hidup ini sangat berharga, tidak perlu berkeluh kesah, apapun yang terjadi terima dengan jiwa besar, apa yang sudah di berikan oleh Tuhan, sebaiknya nikmati saja dan alangkah lebih baiknya kalau kita lebih bisa mensyukurinya. Bagaikan sebuah batangan emas yang dibungkus sehelai kertas koran, begitulah biasanya sebuah kesuksesan dibungkus dengan kegagalan. Jangan pernah menyerah teruslah melangkah, dan perbaiki kesalahan.


Author Image

About bidikin
Inspiratif, Berkarya, Bermakna, Peduli

No comments:

Post a Comment