Tuesday, May 19, 2020

Pertolongan-Nya benar-benar datang dari arah yang tidak kita sangka

1

“Pertolongan-Nya benar-benar datang dari arah yang tidak kita sangka”
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh……
‘’Tidak ada masalah yang tidak memiliki jalan keluar dan segala sesuatu yang dilakukan dengan usaha dan doa yang maksimal pasti tidak akan mengecewakan‘’.
Kalimat di atas mungkin dapat menggambarkan sebagian besar dari kisah perjuangan saya menjadi salah satu Mahasiswa penerima Beasiswa.
Saya anak kedua dari tiga bersaudara, saya berasal dari kaluarga yang sederhana bertempat tinggal di desa Kosali Kecematan Pakue, Kabupaten Kolaka  Utara Sulawesi Tenggara. Saya alumni mahasiswa penerima Biasiswa Bidikmisi angkatan 2015, allhamdulillah saya lulus pada bulan Agustus 2019 pada Prodi Pendidikan Teknik Bangunan Jurusan Pendidikan Teknik Sipil dan Perencanaan Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar Program Strata Satu (S1).
Bapak saya seorang petani padi dan Ibu saya sebagai ibu rumah tangga, Saya bersyukur sekali memiliki ibu yang penyabar dan ayah yang pekerja keras, mungkin tidak cukup hanya dengan satu kata untuk menggambarkan betapa luar biasa dan hebatnya mereka. Saya tidak pernah malu lahir ditengah-tengah mereka yang dulunya serba kerungan jangankan untuk membeli sesuatu barang mainan untuk anak-anaknya membeli lauk untuk sehari-hari saja hanya dengan lauk sederhana. Mungkin aku tidak merasakan bagaimana susanya kehidupan meraka dahulu tapi semuanya bisa saya ceritakan karena curhatan dari ibu tercinta.
Tapi alhamdulillahnya saya masih bisa seperti anak-anak yang lainya merasakan pendidikan formal, SD, SMP, SMA. Saya juga tidak pernah bermimpi dan berfikir bisa kuliah di Univesitas Negeri jauh dari kampung halaman dan menjadi seorang sarjana, saya hanya berfikir menempuh pendidikan sampai SMA sudah sangat bersyukur fikir saya pada saat dibangku SMA.
Walau tidak pernah berfikir dan bermimpi bisa kuliah tetap saja saya selalu berusaha keras dalam belajar dan berdoa semoga saya bisa mecapai cita-cita ayah dan ibu melihat saya menjadi seorang sarjana seperti anak-anak yang lain yang ada di kampung halaman.
Semua bermula pada akhir-akhir dibangku SMA arahan oleh wali kelas untuk mendaftar  biasiswa dijalur SNMPTN saya masuk salah satu siswa yang mendaftar, saya tidak pernah berharap bisa lulus pada saat itu karena saya berfikir siapa saya yang bisa menerima biasiswa saya hanya orang yang biasa tidak pernah ikut lomba ataupun menajadi juara umum di sekolah tak pernah ada satupun prestasi yang pernah saya raih ataupun saya bisa saya banggakan.
Tapi Allah berkehendak lain dari sekian banyak teman-teman saya yang mendaftarkan ada nama saya yang dinyatakan lulus sebagai mahasiswa penerima biasiswa dan diterima di Unversitas Negeri Makassar pilihan saya, heran dan bahkan tidak percaya saya bisa lulus bagaimana saya tidak percaya hanya ada kurang dari 10 orang yang lulus dari sekian banyaknya teman saya yang mendaftar.
Kesyukuran saya benar-benar tidak tergambarkan lagi pada saat itu, tetapi semua menajadi sangat menyakitkan ketika ayah dan ibu sepakat menyuruh saya untuk tidak mengambil biasiswa itu dengan alasan biar bagaimana pun kuliah itu mahal kalaupun kamu dibiayai oleh Pemerintah tetapi untuk berangkat ke Makassar itu butuh biayai sedangkan kakak saya pada saat itu baru saja masuk kuliah.                                               Kata orang tua saya kamu menganggur saja dulu tunggu sampai kakak kamu selesai kuliah baru kamu masuk kuliah karena jika kamu langsung kuliah kami tidak bisa membiayai kuliah kalian berdua secara bersamaan walau kamu adapat biasiswa pasti kamu tetap dibiayai kaerena hidup di Kota besar itu mahal.
Ketika mendapat keputusan itu sedikit menekan kan bahwa diri ini benar-benar ingin kuliah tapi tak bisa saya paksakan, saya paham memang begitulah keadaanya. Bukan hanya itu masalahnya ibu juga memutuskan untuk pindah kependudukan ke Palopo tempat kelahiranya dan ayah pada saat itu belum bisa pindah mereka harus jauh untuk beberapa bulan  pada saat itu dan tak lama setelah pengumuman kelulusan itu saya pergi ke Palopo tinggal bersama ibu.
Belum cukup sebulan saya tinggal di Palopo, ibu tidak bisa tinggal diam karena melihat saya yang tidak memiliki semangat lagi, sering melamun bahkan bersedih. Ibu  menawarkan untuk kuliah di Palopo saya disuruh untuk memilih jurusan apa yang saya suka, ibu saya berfikir kuliah di Palopo masih cukup murah dibandingkan di Makassar karena tidak harus sewa rumah  lagi dan tidak makan ongkos banyak pulang pergi kuliah. Saya pun setuju dan dengan bantuan tante saya ikut mendaftar disalah satu kampus suasta di Palopo, saya pun ikut tes pada jadwal yang sudah ditentukan oleh pihak kampus.
Teryata setelah saya meninggalkan kampung halaman semua orang di kampung mulai membicarakan dan menayakan keberadaan saya, masyarakat, teman-teman dan guru-guru di sekolah saya tau bahwa saya diterima kuliah di Makassar untuk di kampung tempat tinggal saya sendiri saya satu-satunya yang lulus. Semua mulai bertanya kenapa saya tidak mengambil biasiswa itu begitupun dengan pihak sekolah dan diwakili melalui wali kelas saya.
Teman-teman mulai menelpon saya dan menanyakan alasan saya tidak mengambil biasiswa itu tapi saya diam dan tidak tau harus menjawab apa, keluarga yang di kampung pun juga menghungi saya dan menanyakan alasan saya ketika ada yang bertanya air mata saya tidak bisa saya tahan mengalir dengan sendirinya. Semua bertanya-tanya, kata ayah di kampung mulai heboh membicarakanya dan menayakanya, sampai-sampai orang beranggapan saya tidak mengambilnya dengan alasan jurusan yang saya ambil itu kurang bagus yaitu tukang batu, Lebih tepatnya Penddikan Bangunan masyarakat di desa saya memang kurang tau yang ada dipikiran mereka bangunan itu berhubungan dengan tukang batu dan mereka juga cuman tau jika ingin anaknya menjadi seorang bisa dibanggakan jurusan yang diambil harus dokter, polisi, pelayar, dan perawat.
Disuatu hari dimana di malam-malam sebelumnya saya selalu berdoa semoga keputusan yang saya ambil ini adalah yang terbaik. Pendaftaran ulang untuk penerima biasiswa sekitar dua minggu lagi akan berakhir mendengar kabar itu hati semakin sedih karena merasa tidak adalagi harapan buat saya, namun di suatu pagi saya mencoba memberanikan diri mengatakan kepada ibu bahwa saya benar-benar ingin mengambil biasiswa itu dan kuliah di Universitas Negeri. Ibu bercucuran air mata begitupun dengan saya yang tidak bisa lagi menahan sedih, ibu berkata kepada saya “nak bukanya ibu tidak mau ibu hanya tidak sanggup jauh dan berpisah dari kamu, kamu adalah satu-satunya anak ibu perempuan bagaimana bisa ibu melapas kamu di kota besar sendirian” untuk beberapa lama yang terdenagar hanya tangisan yang terdengar tak ada kata yang bisa saya ucapkan mendengar kata-kata ibu yang begitu menyanyagi saya, saya pandang ibu dan saya mencoba menarik nafas dan berkata “mama saya mohon izinkan saya kuliah di Makassar saya ingin merasakan bagaimana bisa kuliah di Universitas Negeri tenang lah mama saya akan baik-baik saja di sana” kurang lebih  begitu lah yang saya ucapkan untuk meyakinkan ibu saya. Kalian tau kan untuk sebuah takaran ikatan batin ibulah yang paling besar ikatanya terhadap diri kita, kami pun mengakhiri pembicaraan itu setelah ibu sudah mengijinkan saya untuk mengambil beasiswa itu dan kuliah di Makassar.
Dengan penuh semangat saya mengurus berkas-berkas untuk kelengkapan pendaftaran ulang dengan batas waktu kurang dari dua minggu, pulang balik dari palopo ke kampung untunglah ada kakak dan teman-teman yang juga lulus dan sudah menyelesaikan berkas-berkasnya mau membantu saya dalam pengurusan.
Akhirnya saya bisa kuliah di Universitas Negeri pilihan saya dan mendapatkan biasiswa Bidikmisi yang sampai hari ini saya syukuri karena dengan adanya biasiswa ini orang tua saya sedikit diringankan dalam hal biaya kuliah.
Saya sekarang kerja sebagai asisten dosen dua hari setelah ujian tutup saya mulai bekerja dengan dosen saya di pasca sarjana UNM yang dimana merupakan dosen pembibing skripsi saya sendiri, mungkin untuk sebagian orang ini pekerjaan yang biasa saja namun saya bangga dan beryukur sekali bisa mendapat pekerjaan ini karena ini merupakan cita-cita kecil saya pada saat kuliah bisa menajadi pendamping dosen, pada saat kuliah saya juga pernah menjdi salah satu pendamping di laboraturium survey pemetaan, aktif di lembaga dakwah pada semester 6  dan pernah menjadi relawan mengajar disalah satu Sekolah Impres di Gowa.
Masih banyak lagi hal-hal yang saya ingi lakukan dan semua yang saya lakukan atau capai pada saat kuliah tidak akan pernah tercapai jika bukan karena bidikmiisi, doa orang tua dan campur tangan Allah SWT.
Untuk semua pejuang pendidikan teruslah bermimpi dan mulailah dengan mencapai mimpi-mimpi kecil mu hingga akhirnya kamu mencapai mimpi terbesarmu, mungkin diri ini belum bisa menjadi contoh dalam mencapai mimpi besar mu namun saya mengajak kita semua untuk sama-sama terus berjuang mengejar mimpi-mimpi kita,dan perjuangan saya baru lah dimulai berada di luar kahidupan kampus adalah sebenar-benarnya kehidapan.
Masih banyak hal yang ingin saya bagikan pada saat kuliah namun jika saya ceritakan mungkin sebagian ada yang menganggap adalah dongeng saking panjang dan berlikunya perjuangan saya di tanah rantau. Jika diberi umur panjang saya juga akan menceritakan bagaimana bisa mempertahankan biasiswa yang saya terima sampai bisa sarjana.
Cukup sekian cerita saya kali ini semoga bisa bermanfaat, memotifasi dan menjadi penyemangat untuk yang lagi berjuang menghadapi masalahnya karena semua orang pasti memiliki masalah yang berbeda-beda.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh…..



Author Image

About bidikin
Inspiratif, Berkarya, Bermakna, Peduli

1 comment:

  1. Website paling ternama dan paling terpercaya di Asia
    Sistem pelayanan 24 Jam Non-Stop bersama dengan CS Berpengalaman respon tercepat
    Memiliki 9 Jenis game yang sangat digemari oleh seluruh peminat poker / domino
    Link Alternatif :
    arena-domino.club
    arena-domino.vip
    100% Memuaskan ^-^

    ReplyDelete