Wednesday, May 20, 2020

Mengubah Asa Menjadi Nyata

1

Mengubah Asa Menjadi Nyata
Malia Rahma Fitri
Malia Rahma Fitri. Itulah nama yang diberikan oleh orang tuaku. Dalam keseharian, aku akrab dipanggil dengan sebutan ia. Cukup dengan panggilan dua huruf saja untuk dekat denganku. Aku anak bungsu dari empat bersaudara. Aku lahir di Koto Taratak, sebuah kampung kecil yang ada di Negeri Sejuta Ombak, Negeri Sejuta Pesona, Pesisir Selatan.
Aku mengeyam pendidikan dasar di SD dekat dari rumahku. SD N 19 Koto Taratak, di sanalah aku memulai pendidikan formal. Di sana, aku menghabiskan masa kecilku dengan teman-teman seperjuangan. Aku adalah siswa yang paling kecil umurnya di antara teman-teman yang lain. Ya, aku masuk SD saat berumur lebih kurang lima tahun. Enam tahun di SD, ternyata bukanlah waktu yang terbilang lama. Oh iya, aku langsung mengawali pendidikanku dengan SD karena aku tidak masuk TK. Saat itu belum ada TK di kampungku. TK hanya ada beberapa, dan itu pun letaknya sangat jauh. Namun, saat itu orang tidak peduli dengan TK. Masuk SD bisa tanpa TK terlebih dahulu. Berbeda dengan sekarang, di mana TK menjadi syarat untuk masuk SD.
Setamat dari SD, aku melanjutkan pendidikan di SMP N 4 Sutera. Kemudian aku melanjutkan pendidikan tingkat atas di SMA N 1 Sutera. Sekolah yang berjarak 7 KM dari rumahku. Bolak-balik dari sekolah ke rumah dengan menggunakan ojek, kadang-kadang ditumpangi oleh teman. Di tempatku tidak ada angkot, jadi agak susah untuk pergi sekolah. Hingga aku dibelikan motor oleh abangku, walaupun bukan motor baru, setidaknya dengan motor itu aku jadi lebih mudah untuk pergi ke sekolah, dan sampai sekarang motor itu masih ada. Motor yang sangat berjasa dalam hidupku.
Masa SMA adalah masa di mana tujuan hidup mulai dirancang. Harus lebih giat belajar agar bisa melanjutkan pendidikan di kampus impian. Saat kelas 3 SMA, semuanya tengah disubukkan dengar berbagai ujian, serta saat itu juga sedang dibuka pendaftaran SNMPTN. Seperti siswa lainnya, aku juga mengikuti pendaftaran SNMPTN dengan Universitas Negeri Padang sebagai kampus pilihan. Jika ingin kuliah, aku harus seperti mereka.
Dengan berdoa dan penuh harap, aku menunggu pengumuman SNMPTN keluar. Dan pada 26 April 2017 pukul 14:12, kabar bahagia itu datang.
“Selamat, anda dinyatakan lulus SNMPTN 2017 pada
PTN: Universitas Negeri Padang
Prodi: Pendidikan Keagamaan Islam”
Begitu hasil pengumuman SNMPTN tiga tahun nan lalu, tatkala kubuka sistus web hasil seleksi SNMPTN 2017. Ada rasa haru, bangga, dan bahagia, walaupun hanya lulus pada pilihan ke dua. Semua rasa itu bercampur menjadi satu rasa kesyukuran kepada-Nya. Namun ada rasa gamang dalam hati, bagaimana seandainya nanti tidak lulus Bidikmisi. Ayahku hanyalah seorang nelayan, yang ketika fajar menyinsing beliau juga harus menyinsing luasnya lautan. Sementara ibuku, hanyalah seorang ibu rumah tangga, yang apabila musim ke sawah tiba beliau bekerja menanami padi di sawah orang. Teringat kata orangtuaku kala itu, “Kami tidak punya uang untuk membiayai kuliahmu. Jika ingin kuliah, maka kuliahlah seperti kakakmu, kuliah dengan beasiswa.”
            Kedua kakakku Alhamdulillah telah meraih gelar Sarjana. Kakakku yang pertama kuliah dengan bantuan beasiswa Etos dari Dompet Dhuafa, kakakku yang kedua mendapatkan beasiswa Bidikimisi. Sementara abangku, Alhamdulillah telah mendapatkan gelar Diploma, beliau kuliah dengan biaya sendiri. Kuliah sambil bekerja. Jika aku ingin kuliah, aku harus seperti mereka, aku harus bisa mendapatkan beasiswa.
            Alhamdulillah, lagi-lagi Allah memperlihatkan nikmat-Nya kepadaku. Aku mendapatkan beasisiwa Bidikmisi. “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?.” Ini adalah langkah awalku untuk mewujudkan impian, menjadi seorang mahasiswa dengan beasiswa Bidikmisi di sebuah kampus yang cukup ternama. Biaya hidupku selama kuliah dibantu oleh Bidikmisi.
            Bidikimisi mengajarkanku untuk tidak menjadi mahasiswa biasa, yang ke kampus hanya sekedar pergi kuliah. Namun, Bidikmisi mengajarkanku untuk aktif berorganisasi. Bidikmisi juga mengajarkanku untuk menjadi mahasiswa penuh karya dengan kemampuan yang kupunya. Dan menulis adalah caraku untuk berkarya, Alhamdulillah tulisan-tulisanku telah diabadikan dalam beberapa buku antologi. Satu per satu deretan mimpi itu telah berhasil kuwujudkan.
            Aku adalah salah satu dari sekian banyak orang yang telah membuktikan bahwa masalah ekonomi tidak menjadi penghalang untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Masalah ekonomi bukan penghalang seseorang untuk meraih mimpi. Jadi, jangan pernah takut untuk bermimpi. Namun, jangan hanya sekedar bermimpi. Mimpi tanpa aksi juga tidak akan berarti.
            Terima kasih Bidikmisi, telah banyak membantuku  untuk mengubah asa menjadi nyata. “Bidikmisi! Membidik prestasi, membangun Negeri.”
#SemangatMenginspirasi
 
Author Image

About bidikin
Inspiratif, Berkarya, Bermakna, Peduli

1 comment:

  1. Website paling ternama dan paling terpercaya di Asia
    Sistem pelayanan 24 Jam Non-Stop bersama dengan CS Berpengalaman respon tercepat
    Memiliki 9 Jenis game yang sangat digemari oleh seluruh peminat poker / domino
    Link Alternatif :
    arena-domino.club
    arena-domino.vip
    100% Memuaskan ^-^

    ReplyDelete