Saturday, May 9, 2020

Ku Ingin Mewujudkan Cita-Cita Ibuku Menjadi Seorang Sarjana

0

Hai, salam kenal semuanya. Namaku Lusi Agustinah, kelahiran di Majalengka,19 Agustus 2001. Sekarang sedang menempuh program sarjana semerter 2 di Universitas Pendidikan Indonesia dengan program studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial. Pada kesempatan ini aku ingin berbagi cerita perjuangan bersama bidikmisi. Semoga bisa menginspirasi dan memotivasi temen-temen semua baik yang sedang berjuang maupun yang  sudah menjadi mahasiswa penerima bidikmisi di Perguruan Tinggi.
Awal mula dari cita-citaku yang ingin menjadi seorang TKW, dengan alasan ingin punya banyak harta supaya tidak diremehkan orang lagi. Sesak hidupku  yang membuatku tidak bisa merasakan masa kecil layaknya anak-anak lain. Begitu pun dimasa remaja, aku tidak pernah merasakannya. Hari-hariku dipenuhi beban pekerjaan dari rumah ke rumah sebagai asisten rumah tangga. Jika yang lain lepas pulang sekolah bisa bermain dan mengerjakan tugas, lain halnya aku harus menguras keringat demi uang saku untuk esok hari pergi ke Sekolah. Aku lakukan karena ingin mengurangi beban kedua orangtuaku. Ayahku seorang buruh tani yang tak tentu berapa penghasilannya dan kadang Ayah tidak bekerja karena tenaganya dibutuhkan saat musim tanam saja. Sedangkan Ibuku kadang membantu Ayah dalam memenuhi kebutuhan hidup sebagai buruh cuci. Selain harus menghidupiku, kedua orangtuaku juga harus menghidupi kedua adikku, satu adik kandung dan yang satunya adik angkat. Lelah sebenarnya hidup sebagai keluarga kurang mampu, selain kesulitan dalam memenuhi kebutuhan, banyak cemoohan dari orang-orang, kadang mereka yang memperkerjakan baik Ayah, Ibu atau pun aku memperlakukan kami seenaknya.
Namun, ketika beranjak masuk MA aku berhenti dari pekerjaanku, karena aku harus tinggal di asrama. Selama tiga tahun ku mengurung diri di asrama untuk menimba ilmu di sekolah khusus putri. Aku memilih sekolah disini karena gratis dan juga biaya asrama perbulannya cukup terjangkau sehingga tidak terlalu memberatkan kedua orantuaku walaupun jaraknya lumayan jauh dari rumah. Ketika mulai masuk kelas 12 MA, banyak yang gundah gulana karena guru BK selalu bertanya siapa yang akan melanjutkan ke Perguruan Tinggi dan tidak, itu pun harus dijawab dengan logis dan kuat tentunya. Teman-temanku selalu bertanya kepadaku, apakah mau melanjutkan ke Perguruan Tinggi atau tidak? Namun aku selalu menjawab aku mau jadi TKW, aku mau cari uang yang banyak biar ekonomi keluargaku bisa berputar dan kita tidak diremehkan orang lagi. Teman-temanku menanggapi dengan tertawa lebar. Biarlah mereka tertawa yang penting aku berpegang teguh pada cita-citaku jadi TKW.
Hari-hari dikelas 12 MA aku jalani dengan penuh tawa bersama teman-temanku. Ketika detik-detik mendekati Ujian Sekolah banyak sosialisasi dari Perguruan Tinggi baik Negeri maupun Swasta. Namun, aku tidak pernah tertarik satu pun karena berpegang teguh pada cita-citaku jadi TKW. Sampai akhirnnya suatu ketika aku berpapasan dengan guru BK, beliau memintaku untuk mendata siswa yang akan melanjutkan ke Perguruan Tinggi berhubung pendaftaran SNMPTN akan segera dibuka. Setelah aku data semua siswa yang akan melanjutkan, aku kasih data tersebut ke Ibu BK. Kemudian Ibu BK bertanya kenapa namaku tidak tercantum di data tersebut, aku jawab aja karena aku tidak akan melanjutkan kuliah ada sesuatu yang lebih penting daripada kuliah yaitu kerja. Mendengar alasanku tersebut, Ibu BK merekomendasikanku untuk ikut daftar beasiswa bantuan bidikmisi, beliau menjelaskan apa dan bagaimana agar bisa mendapatkan bidikmisi. Namun kata beliau aku harus ikut seleksi masuk Perguruan Tinggi, karena disekolahku minatnya ke SNMPTN dan SBMPTN maka aku bisa pilih salah satu atau kedua-duanya sebagai cadangan bila tidak keterima di jalur yang satu.
Kebiasaanku setiap dua minggu sekali pulang ke rumah untuk meminta uang saku dan persediaan beras selama di asrama. Ketika pulang, di rumahku sedang ada tamu yaitu tetanggaku. Ibu ku asik berbincang dengan tetanggaku itu. Namun ada hal yang menyakitkan bagi Ibuku, tetanggaku bercerita bahwa cucunya akan kuliah di ***** jalur SNMPTN. Dalam pikiranku kan SNMPTN masih mau dibuka, ko itu cucunya kayak yang udah lolos aja. Singkat cerita tetanggaku itu bertanya pada Ibuku, aku mau melanjutkan ke Perguruan Tinggi atau tidak? Belum juga dijawab, tetanggaku bicara lagi katanya aku tidak pantas melanjutkan ke Perguruan Tinggi karena latar belakang keluargaku sebagai keluarga kurang mampu, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja kesusahan, ini malah mau kuliah punya uang dari mana? Dalam hati aku terus beristigfar dan sontak saja mellihat wajah Ibuku tertampar sekali dengan ucapan tetanggaku tadi.
Setelah kejadian itu, Ibuku selalu menekanku untuk daftar ke Perguruan Tinggi, namun aku kadang mengelak karena cita-citaku dan sebenarnya orangtuaku tidak tahu aku punya cita-cita menjadi TKW. Dan akhirnya sekembalinya ke sekolah aku langsung menghampiri Ibu BK untuk daftar SNMPTN dan beliau sangat bahagia mandengar keputusanku. Kemudian aku mengelist persyaratan apa saja yang harus aku persiapkan untuk daftar bidikmisi dan juga SNMPTN. Malam demi malam ku lalui bersama teman-teman dan guru pembimbing dalam pendaftaran bidikmisi dan SNMPTN. Kami harus menginap di sekolah dan kadang meninggalkan jam pelajaran.
Banyak peristiwa yang harus kulalui, pertama pendaftaran SNMPTN ku susah untuk difinalisasi, kemudian bidikmisiku belum terverifikasi. Sampai akhirnya guruku ada yang pergi ke Jakarta untuk memperjuangkan SNMPTN ku. Dan dihari itu juga aku ditanya kalau seandainya bidikmisinya tidak terverifikasi siap tidak siap ketika keterima SNMPTN aku harus rela bayar UKT dan melanjutkan perjuangan mencari beasiswa lain di kampus. Disitu aku kebingungan dan aku membayangkan wajah Ibuku jika aku mengakhiri semua pasti dia akan kecewa begitu pun guruku yang ke Jakarta dia pun sama akan kecewa. Aku pun mengiyakan dan siap menanggung resikonya. Masih kuingat ketika pas adzan magrhib di hari terakhir penutupan SNMPTN akhirnya aku bisa finalisasi dan segera mengabari guruku. Betapa bahagianya aku, bisa melanjutkan ke proses berikutnya yaitu pengumuman walaupun tanpa bidikmisi.
Tibalah hari pengumuman lolos SNMPTN, ketika itu sedang hujan disertai angin dan petir dan kebetulan sedang mudik karena sudah beres US-BK tinggal menunggu UN-BK. Nada hp ku berbunyi, ternyata ada chat dari temanku menanyakan perihal lolos tidaknya aku. Aku langsung kagert karena belum lihat hasilnya. Dengan ucapan bismillah, aku buka situs webnya kemudian sesuai aturan aku masukan data yang dibutuhkan kemudian loading dan hasilnya warna hijau artinya lolos SNMPTN dan Perguruan Tinggi yang menerimaku yaitu Universitas Pendidikan Indonesia dengan Progranm Studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial.
Setelah pengumuman itu, aku dibantu guruku dalam mempersiapkan pemberkasan, dan salah satunya print out kartu pendaftaran SNMPTN. Karena aku masih penasaran dengan nasib bidikmisiku, aku selalu pantau akun medsos terkait bidikmisi. Dan ternyata ada instruksi untuk mendownload kembali kartu pendaftaran SNMPTN bagi pelamar bidikmisi namun belum terverifikasi mengingat jumlah pelamar yang begitu banyak. Kemudian aku download ulang dan ternytaa tercantum sebagai pelamar bidkmisi.
Lanjut, karena waktu pemberkasan pelamar bidikmisi berselang beberapa hari setelah pengumuman,  aku pun segra menyiapkan berkas yang dibutuhkan. Singkat cerita aku pun ke UPI bersama bapak dan bibi. Alhamdulillah pemberkasannya lancar tinggal menunggu pengumuman lolos tidaknya bidikmisiku. Kemudian kami segera pulang ke rumah mengingat hari semakin osre.
Ketika waktu pengumuman tiba, hatiku dag dig dug penuh kecemasan takut tidak lolos. Aku memberanikan diri membuka web yang disediakan Universitas, aku masukan data ku dan alhamdulillah disitu tercantum lolos bidikmisi. Masya Allah, maka nikmat Tuhan Yang Manakah Yang kamu dustakan? Allah memberikanku banyak kejutan yang tak disangka-sangka.
Sekarang aku sudah menginjak semester 2 di perkuliahan. Sebagai mahasiswa bidikmisi aku harus bisa memberikan yang terbaik dan mempertahankan sebagai penerima beasiswa bidikmisi. Berbagai lomba aku ikuti untuk mencoba mengukir prestasi, namun bukan keberuntunganku mungkin. Di setiap lomba aku belum berhasil menduduki 3 besar. Tapi aku tidak akan menyerah, 100 mimpi ku diselembar kertas impian masih banyak yang belum terwujud. Aku pasti bisa.

Author Image

About bidikin
Inspiratif, Berkarya, Bermakna, Peduli

No comments:

Post a Comment