Wednesday, May 13, 2020

Bukan Harta Melainkan Ilmu

1

Tentang penulis
Hai Assalamualaikum..
Perkenalkan nama saya, Mia Rahmawati, kelahiran Tasikmalaya, 05 Mei 2020. Alamat kp. Cilenga, Sariwangi, kabupaten Tasikmalaya. Mahasiswa semester 4, prodi PGPAUD UPI Kampus Tasikmalaya. Bercita-cita menjadi dosen dan inspirator untuk semua kalangan.
Semoga sedikit cerita saya bisa menjadi inspirasi untuk teman-teman semuanya. Meskipun tulisannya masih sangat sulit dipahami, mungkin ada beberapa kalimat yang bisa diambil sebagai hikmah untuk pembaca. Selamat membaca.
Oh iya, akun Ig saya namanya miarahma9. Follow ya. hehe Insya Allah yang DM saya balas.
Bukan Harta Melainkan Ilmu
Sebenarnya ini pertama kalinya aku menulis kisahku. Kisah yang semesta tidak pedulikan, aku pun berangapan serupa. Namun, komentar yang ku terima tiga hari yang lalu dari pihak Bidikmisi di sana tertulis, “Kak, tulis kisah inspirasinya, lalu kirim ke e-mail ini.” ;  Hal ini membuatku sedikit memberanikan diri untuk berbagi kisahku. Entah, ada yang membaca atau tidak, aku tidak terlalu menghiraukan. Kisah Inspiratif, apa aku punya? gumamku meragukan diriku. Aku ingat, beberapa mimpi yang sempat aku tulis di dinding kamar, salah satunya “Menjadi inspirator”. Ya Allah, mimpi yang tidak pernah aku usahakan untuk terwujud, lalu bagaimana Engkau akan mewujudkannya. Malu memang, tapi ku pikir, mungkin tulisan ini bisa menjadi usahaku paling kecil, setidaknya akau pernah berusaha, meski tidak seluruhnya ku upayakan. Ya inipun salah satu caraku berterima kasih kepada Bidikmisi, yang menjadi jalan untuk aku bisa menempuh Perguruan Tinggi.
Mi, ya itu sapaan untuk aku, Mia Rahmawati. Aku, terlahir dari keluarga yang sangat sederhana. Ayahku seorang buruh harian lepas, kadang bercocok tanam di tanah milik tetangga, atau menjadi kuli bangunan, itu pun dilakukan bila ada panggilan. Jika tidak, beliau harus berjualan di sekolah dengan hasil yang tidak seberapa, setidaknya cukup untuk makan hari ini dan esok pagi. Aku tidak pernah menyesalkan hal itu, taqdir Allah memang sangat indah, dan aku percaya.
Sejak kecil aku memang bermimpi bisa menginjakkan kaki di Universitas Ternama di Indonesia, begitupun ayah ingin melihat anak-anaknya berpendidikan tinggi. Tapi, ku rasa mimpi itu mustahil terwujud. Terlebih ayah harus bekerja sangat keras, ketika ibu pergi meninggalkan kami, sepuluh tahun yang lalu. Ayahku yang memilih berstatus singgle parent hingga saat ini, membuatku sadar, bahwa cita-citaku hanya menambah daftar tugas ayah, beliau harus mengurusi aku, kakakku juga adikku, membereskan rumah dan mencari uang. Hatiku kalut, harus bergelut dengan harapan dan kenyataan, jika aku meminta untuk dikuliahkan, ayah harus bekerja lebih ekstra, sedangkan usianya semakin menua.
Tapi, aku punya Allah yang bisa kupaksa untuk mewujudkan cita-citaku. Hari itu, tepat setelah kelulusan sekolah, pertanda tuntas menyandang gelar siswa. Aku beranikan diri untuk berbicara pada ayah “ayah aku mau kuliah.” Tidak ada jawaban, ku pikir, aku membuatnya bersedih, menambah pikiran yang telah kacau semenjak ibu pergi. Ayah hanya menjawab dengan nada penuh harap. “Kamu bisa kuliah, setahun setelah kelulusan, seperti kakakmu, jadi kamu harus bekerja dahulu.” Batinku sontak menolak, setiap anak punya jalan mimpinya masing-masing, kenapa ayah selalu menyamakan perjalanan hidupku dengan kakakku, semenjak SD hingga SMA aku sekolah di tempat yang sama dengan kakakku. Aku tidak kehabisan akal, yang jelas aku tidak mau gapyear. Aku harus mencari beasiswa, tahun ini aku harus kuliah. Hanya Allah yang menjadi tumpuanku saat itu, begitupun restu ayahku.
Aku merupakan salah satu siswa berprestasi di sekolah, jadi tidak begitu sulit untukku mengajukan permohonan beasiswa untuk melanjutkan kuliah. Dugaan ku benar, guru BK di sekolah ku menawari ku Bidikmisi, ya itu yang sedang aku ikhtiarkan, semoga Allah mewujudkan. Aku mengikuti prosedur pendaftaran dengan bidikmisi melalui jalur SNMPTN, dan aku gagal. Hal itu tidak berhasil membunuh mimpiku. Kemudian, mencoba jalur SBMPTN, tapi ayah akan mengizinkan, jika mengambil jurusan PGPAUD, entah apa alasannya aku tidak begitu paham. Lagi-lagi aku ingin berontak, perjalanan kuliahku sudah terbuka, namun masalah baru yaitu jurusan yang akan aku geluti nanti, harus ayah yang pilihkan. Padahal aku anak IPA, ingin kuliah jurusan kimia, atau matematika, Bismillah restu orang tua menurutku lebih penting. Tapi aku harus belajar lebih ekstra untuk tes SBMPTN nanti, lintas jurusan ini membuatku sangat kewalahan. Taqdir Allah memang sangat indah, aku mendapat beasiswa untuk mengikuti bimbel gratis selama satu bulan. Sungguh luar biasa. Perjalanan mimpi ku seperti terlihat mudahnya. Tiba hari pengumuman Tes SBMPTN, dan Alhamdulillah aku lolos, Program Studi PGPAUD di Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Tasikmalaya. Masya Allah, bahagia rasanya. Namun, ada yang masih membuat aku khawatir, Bidikmisi belum tentu lolos, dan ayah kembali mengulang kalimatnya “Jika bidikmisi tidak lolos, kamu harus bekerja dulu.” Sakit memang harus menunda mimpi. Tidak pernah ku berpaling untuk menggantungkan harapan selain pada Allah. Ku percaya, Allah itu Maha Adil. Bidikmisi di umumkan, dan..... Alhamdulillah tangis haru ku memecah keheningan sore itu. Bidikmisi ku lolos, dengan begitu aku bisa melanjutkan pendidikan tanpa harus menundanya.
Kini, aku duduk di bangku semester 4 dengan. Kesempatan ku menyandang gelar mahasiswa tidak boleh disia-siakan. Dengan IP pertama yaitu 3.87 membuat semangatku terus berpacu. Selain itu, bahkan aku juga sempat mengunjungi beberapa kota, dan memalui bidikmisi aku berhasil berada dilingkungan pendidikan yang akan membuat hidupku lebih baik. Perjalanan kuliahku selama dua tahun ini, sudah ada beberapa prestasi yang aku dapat, salah satunya menjadi Third Winner of SEAMEO CECCEP Educational Toys Development Competition 2019, bersama dosen dan tim mahasiswa bidikmisi yang lain, selain itu karya kami berhasil di HKI-kan.
Prodi PGPAUD membuatku nyaman, aku selalu mengusahakan tidak ada mata kuliah yang tertinggal meskipun aku sibuk berorganisasi. Terlebih profesiku nanti bukan hal yang mudah, aku harus mendidik generasi bangsa menjadi berkualitas dan berhasil. Pendidikan yang ku tempuh membuatku menyadari bahwa dunia pendidikan sangat jauh dari kata layak. Anak-anak banyak yang terbunuh perkembangan dan mimpinya karena pola asuh yang kurang tepat. Mungkin aku salah satunya. Aku harus berdagang ketika pulang sekolah supaya ada bekal untuk esok sekolah. Aku tidak bisa belajar dengan bebas dengan teman sebayaku, atau sekedar bermain dengan hobiku, yaitu menulis dan menggambar. Seharusnya aku sudah menjadi penulis, atau pelukis, tapi kesibukkan mencari uang membuatku harus mengubur mimpi itu. Meski begitu, aku sejak SD selalu menjadi rangking pertama, ada sedikit senyum yang menyungging di bibir ayahku, pahlawanku.
Daftar mimpi, satu persatu sedang aku ikhtiarkan untuk terwujudkan, menjadi pendidik profesional, dan menulis. Tidak jarang, aku juga menjadi konsultan untuk adik-adik di SMA yang akan melanjutkan pendidikan. Bahkan pengabdian pada masyarakat sudah aku sering lakukan, sekedar memberitahukan bahwa pendidikan itu penting dan biaya itu bukan hal yang menjadi terwujud atau tidaknya mimpi seseorang. Sudah seperti motivator saja ya aku, hehe.. Menjadi populer karena prestasi itu impian semua orang, tapi aku hanya ingin menjadi bermanfaat untuk sekelilingku. Bahwa semua anak berhak mendapat pendidikan juga kehidupan yang layak.
 Ayah hanya satu-satunya harapan aku, meski aku tidak pernah menyadari di luar sana banyak yang meremehkan ayahku karena profesi petani dan kuli bangunan itu tidak mungkin menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi. Apalagi saat ini kakakku juga sedang kuliah, tapi dia sambil mengajar sehingga biaya kuliah tidak terlalu tinggi. Ditambah aku kuliah, adikku juga menempuh pendidikan di sekolah menengah atas, semakin membuat lingkungan heran, pertanyaan yang tidak yakin bahwa ayahku mampu, selalu ayah terima. Kata ayah “Ayah tidak punya harta untuk di wariskan, mungkin ilmu bisa membawa hidupmu lebih baik.” Tidak banyak yang bisa aku balas untuk pahlawan renta itu. Harapanku di usia senjanya, ayah harus melihat aku bangga. Anak seorang petani, kuli bangunan akan menyandang gelar sarjana, berprestasi dan memutus mata rantai kemiskinan. Setelah aku lulus nanti, kupastikan ayah tidak perlu lagi bekerja demi membiayai aku kuliah, meski aku mendapat bidikmisi terkadang aku masih meminta pada ayah. Allah mengubah nasibku secara perlahan melalui bidikmisi. Semenjak kuliah hidupku lebih berwarna. Terima kasih ya Allah, Terima kasih ayah, Terima kasih Bidikmisi.

Author Image

About bidikin
Inspiratif, Berkarya, Bermakna, Peduli

1 comment:

  1. Website paling ternama dan paling terpercaya di Asia
    Sistem pelayanan 24 Jam Non-Stop bersama dengan CS Berpengalaman respon tercepat
    Memiliki 9 Jenis game yang sangat digemari oleh seluruh peminat poker / domino
    Link Alternatif :
    arena-domino.club
    arena-domino.vip
    100% Memuaskan ^-^

    ReplyDelete