Wednesday, May 13, 2020

Berjuang, Atau Menyerah Pada Keadaan

1

Berjuang, Atau Menyerah Pada Keadaan
( Oleh : Sirli Fitriani )
Dalam hidup, pasang surut merupakan sebuah keniscayaan. Ujian kehidupan yang silih berganti, masalah yang datang menghampiri, pasti terselip berbagai solusi apabila kita memiliki kesungguhan untuk mencari. Secara tidak sadar, hal inilah yang justru menjadikan diri kita menjadi pribadi yang lebih dewasa, lebih bisa memaknai dan menghargai arti hidup yang sesungguhnya bahwa hidup itu keras, hidup itu pilihan, dan apa yang kita pilih menjadi penentu atas gagal atau suksesnya kita dalam menjalani kehidupan. Ketika kita memilih untuk menyerah, jutaan orang di luar sana terus berjuang dan mencoba, menghabiskan jatah gagalnya, merelakan dirinya untuk ditempa berkali-kali demi mewujudkan berbagai cita dan harapan yang telah diimpikannya selama ini.
Aku yakin, setiap orang memiliki masalahnya tersendiri. Percayalah, selalu ada kejutan dibalik setiap peristiwa yang terjadi, selalu ada hikmah yang bisa dipetik dari setiap detik demi detik perjalanan hidup yang kita jalani, dan selalu ada pelengkap yang menyertai sebagai bentuk keadilan di dalamnya, serta selalu ada balasan yang setara atas apa yang telah kita perbuat selama ini.
Namanya juga hidup, pasti akan diuji. Seberapa sabar diri ini, seberapa besar kesungguhan kita dalam memberikan yang terbaik, menghabiskan setiap hembusan nafas ini hingga tiba saatnya ajal menghampiri., Alam semesta dan seisinya tak henti-hentinya mengajarkanku tentang betapa berharganya hidup ini, betapa luar biasanya nikmat dari Sang Illahi. Maka dari itu, tidak ada satu alasanpun bagi diri ini untuk berhenti dan menyerah pada keadaan.
Berangkat dari perekonomian keluarga yang pas-pasan bukanlah sebuah hambatan bagiku. Seorang gadis kecil yang memiliki segudang impian di mana saat ini Aku sedang berusaha menjalankan sunnatullah untuk menjemput kesuksesan. Ya, orang-orang kerap memanggilku dengan sebutan “Sirli.”  Aku anak ketiga dari enam bersaudara yang terlahir dari seorang Ayah dan Ibu yang begitu luar biasa. Ayahku hanya bekerja sebagai Cleaning Service di salah satu bengkel kecil (CV Putra Pratama Mandiri) di daerah Cilegon. Sedangkan Ibuku hanya seorang ibu rumah tangga, namun ibuku aktif menjadi salah satu kader posyandu di desa tempat kami tinggal. 
Dengan gaji Ayahku ± Rp 1.500.000,-/bulan, rasanya dibilang cukup ya mau tidak mau harus cukup untuk menghidupi satu keluarga di rumah sehari-harinya. Apalagi dengan kondisi Aku dan ketiga adikku masih bersekolah dan masih menjadi tanggungan kedua orangtua. Adikku yang paling besar (laki-laki) saat ini duduk di bangku kelas XI SMK, sedangkan kedua adik perempuanku saat ini menginjak kelas VIII SMP dan kelas 3 SD.
 Istilah “gali lubang tutup lubang” rasanya sulit untuk dipisahkan. Jauh sebelum ini, memang roda kehidupan terus berputar. Dulu, ketika baru memiliki dua anak (kakak-kakakku), Ayahku bekerja di suatu perusahaan di daerah Citereup, Bogor. Bisa dikatakan, perekonomian terbilang masih baik. Namun, suatu waktu ketika terjadi krisis moneter pada tahun 1998, banyak karyawan yang harus di PHK, dan Ayahku salah satunya.
Ayahku akhirnya mencoba berwirausaha untuk berjualan mainan, berjualan buah-buahan, hingga Aku memiliki adik, perekonomian keluarga merupakan hasil kerja keras dari Ayah berjualan asongan (dodol dan wajik) yang mana itu bukan milik sendiri, namun masih mengambil dari Agen untuk kemudian dijual kembali) di daerah Pelabuhan Merak. Tetapi, satu hal yang membuatku tidak henti-hentinya bersyukur ialah kedua orangtuaku amat sangat peduli jika bicara soal pendidikan. Biaya sekolah, biaya sehari-hari itu semua dari hasil jerih payahnya. Hingga kedua kakakku bisa lulus sekolah walau hanya sanggup hanya sampai jenjang SMA/SMK Sederajat, bagiku itu adalah suatu pencapaian yang luar biasa. Ditambah lagi ada Aku dan ketiga adikku yang juga silih berganti meneruskan sekolah hingga saat ini. 
Alhamdulillah berkat perjuangan kedua orangtuaku, perekonomian keluarga saat ini terbantu oleh kedua kakakku yang telah bekerja di perantauan, karena kedua kakakku juga akhrinya Aku bisa berdiri hingga hari ini. Walau gaji mereka tak seberapa, namun pengorbanan mereka bergitu besar untuk keluarga, terutama untuk kebutuhan adik-adik bersekolah. Sejak kecil, Aku bertekad untuk selalu berusaha melakukan dan memberikan yang terbaik.
Alhamdulillah sejak SD hingga SMK, peringkat kelas pertama sering Aku dapatkan. Sejak saat ini pula Aku belajar cara hidup mandiri yakni bersekolah jarak jauh yang mana harus ku tempuh sehabis shalat subuh dengan menggunakan angkutan umum. Dengan jarak sekolah yang jauh dari rumah, menurutku bukanlah sebuah alasan untuk tidak berprestasi dan tidak aktif di organisasi di dalam dan di luar sekolah. Berbagai jenis lomba terus Aku coba untuk singgahi. Bahkan kala itu, Aku sempat diamanahkan untuk menjadi Ketua OSIS Angkatan 2014/2015 dan menjadi siswa terbaik kedua paralel (satu angkatan).
Namun, saat beranjak melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya, Aku mendapati kekecewaan terbesar dalam hidup yakni gagal untuk masuk sekolah negeri karena satu dan lain hal. Istilah “beli kursi” dan “orang dalam” sudah bukan lagi menjadi rahasia umum. Rasa optimismeku seakan hancur lebur menjadi sebuah deraian air mata yang meluluhlantahkan semangat yang membara, waktu itu. Berusaha tetap ikhlas, tegar, dan berusaha bangkit Aku coba pupuk kembali. Kegagalan tersebut menjadi salah satu titik terendah yang pernah Aku alami dalam hidup. Rasanya, harapan besarku untuk mencapai cita-cita waktu itu pupus terhapus. Pada titik itu, Aku hampir putus harapan, namun begitu banyak dukungan dari keluarga, sahabat, teman-teman, sanak saudara, bahkan guru-guru juga turut serta menyemangatiku. Rasanya, ada lentera-lentera yang datang di tengah gelap gulita yang melanda hidupku dan ungkapan ini datang menghampiriku bahwa “dimanapun berada, berlian akan tetap menjadi berlian.” Hingga akhirnya Aku berhasil bangkit di tengah keterpurukan.
Walau pada akhirnya Aku bersekolah di swasta, namun alhamdulillah Aku masih bisa tetap berprestasi. Bahkan, sejak kenaikan kelas XI hingga lulus dari SMK, biaya sekolahku sejak pernaikan kelas 2 SMK ditanggung sepenuhnya (dibeasiswai) sampai lulus. Hingga suatu waktu Aku dipertemukan dengan salah satu organisasi yang bergerak di bidang sosial, pendidikan, dan keagamaan yang mana memberikan suatu paradigma yang begitu luar biasa, membuka jalan pikiranku menjadi lebih peduli terhadap sesama. Salah satunya ialah Aku diberikan kesempatan untuk mengajar adik-adik yatim dhu'afa disana. Akhirnya, dari berbagai pengalaman Aku mengajar disana, semakin menguatkan minat dan bakatku bahwa Aku ingin menjadi seorang guru di kemudian.
Saat kelas XII, Aku berusaha memaksimalkan terkait perencanaan karier, baik berkonsultasi dengan orangtua, guru BK, sahabat, teman satu organisasi mengenai kuliah atau kerja. Orangtuaku sangat demokratis. Mereka tidak pernah memaksakan kehendak mereka, namun apa yang terbaik bagiku, mereka pasti mendukung. Namun, ketika Aku berdiskusi soal kuliah, kedua orangtuaku justru menjawab dengan cucuran air mata.
Sejujurnya mereka sangat mendukung sekali jika Aku bisa berkuliah, namun mereka tidak sanggup untuk membiayai. Akhirnya, Aku berpikir keras dan mencoba menyakinkan bahwa Aku bisa kuliah dengan beasiswa tanpa membebani mereka ataupun kakak-kakakku. Aku hanya meminta agar mereka mendo'akan Aku, karena ketika mereka meridhoi, insyaallah Allah SWT akan membukakan jalan kemudahan untukku.
Singkat cerita, Aku berjuang untuk bisa kuliah lewat jalur SBMPTN 2019 dan juga mendaftar Bidikmisi. Sempat terlintas dalam benakku bahwa “Apakah impianku untuk bisa kuliah adalah sebuah kemustahilan?” Karena, tidak sedikit orang-orang di sekeliling Aku meragukan hal ini. Namun, Aku berusaha tetap berpikir positif dan Aku yakin pasti bisa dengan kesungguhan dan i’tikad keras yang Aku akan buktikan, Ternyata, Allah SWT begitu luar biasa, harapanku untuk kuliah dapat terealisasikan. Aku dinyatakan lolos SBMPTN dan lolos seleksi Bidikmisi.
Rasa haru yang tak terhankan baik Aku pribadi dan juga kedua orangtua begitu bangga dan bersyukur sekali. Isak tangis tak terbendung lagi. Tiada lain ungkapan rasa syukur kepada illahi rabbi atas kesempatan ini. Aku berjanji, tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, terimakasih Bidikmisi, Alhamdulillah di semester satu ini berhasil Aku lewati dengan hasil pencapaian Indeks Prestasi (IP) 4.00, sempat menjuarai lomba essai di tingkat kampus dan menjadi salah satu Awardee Bidikmisi Berprestasi.
Sebetulnya, banyak yang ingin Aku ceritakan melalui tulisan ini. Meskipun singkat, semoga ini bisa mewakili sebagian dari sekelumit kisah hidupku. Aku akan selalu berusaha seoptimal mungkin yang Aku bisa untuk tetap meningkatkan kualitas diri agar tidak mudah puas dengan pencapaian hari ini. Semua yang telah Ibu Pertiwi ini berikan, lewat Beasiswa Bidikmisi, mungkin Aku tidak bisa mengembalikannya dalam bentuk materi. Namun, kelak ketika Aku lulus dari sini, Universitas Pendidikan Indonesia, Aku akan berusaha menjadi manusia yang berkualitas, yang berdedikasi sepenuhnya untuk membangun dan mencerdaskan anak-anak negeri. “(Bidikmisi) : Membidik Prestasi, Membangun Negeri, Aku Mahasiswa Bidikmisi, Aku Berprestasi.”
 BIODATA SINGKAT



 
Nama              : Sirli Fitriani
Asal Kota        : Serang, Banten
Asal Kampus  : Universitas Pendidikan Indonesia
E-mail             : sirli16fitriani@gmail.com
Instagram       : sirlifitriani_
No. Telepon   : 089507477908


 










Author Image

About bidikin
Inspiratif, Berkarya, Bermakna, Peduli

1 comment:

  1. Website paling ternama dan paling terpercaya di Asia
    Sistem pelayanan 24 Jam Non-Stop bersama dengan CS Berpengalaman respon tercepat
    Memiliki 9 Jenis game yang sangat digemari oleh seluruh peminat poker / domino
    Link Alternatif :
    arena-domino.club
    arena-domino.vip
    100% Memuaskan ^-^

    ReplyDelete