Sunday, May 10, 2020

Anak Pinggir Kota Bercita-cita Sarjana

0

Anak Pinggir Kota Bercita-cita Sarjana
Assalamualaikum wr.wb.
Sebelumnya perkenalkan nama saya Cika Aprilia dari Universitas Diponegoro saya salah satu penerima beasiswa bidikmisi angakatan 2019. Mungkin cerita ini akan memotivasi adik-adik yang sedang putus asa perihal biaya perkuliahan. Saya adalah anak ke-7 dari 8 bersaudara, ayah lebih disayang Tuhan saat usia saya 3 tahun saat belum mengenal jelas wajah ayah saya saat itu. Ibu pedagang keliling yang berdikari yang menemani saya saat masa sulit haruskah berhenti mewujudkan mimpi? Karena melihat semakin tingginya komersialisasi pendidikan di negeri ini.
  Tepat satu tahun lalu, perjuangan tangis pecah. Saya tinggal di Ibu kota yang seharusnya label hidup di kota adalah nikmat karena akses pertumbuhan ekonomi. Namun, itu hanya pola pikir bagi sebagian orang , ibu tetap harus berdikari dari pedagang keliling apapun yang halal ia putar otak untuk menghidupi kami . Kelas 12 adalah masa-masa dimana melanjutkan pendidikan atau sampai disini? Belum lagi stigma masyarakat yang berpandangan perempuan tidak usah berpendidikan cukuplah di dapur, sumur dan kasur.  
Saya selalu bilang “buk, saya ingin kuliah. Insyallah kalau memang tidak ada biaya saya mau sambil kerja”. Ibu menjawab “ ibu Cuma bisa doain yang terbaik”. Kelas 12 adalah masa-masa lelah megumpulkan berkas dan lain-lain karena saya tidak hanya daftar di satu PTN melainkan semua jalan saya coba bahkan PTLN sekalipun bagaimanapun saya harus berpendidikan . Pendidikan adalah sebuah kebutuhan masa kecil yang sudah saya rasakan hidup serba sulit jangan dilanggengkan kembali. Saya ingat saat ibu bilang maaf karena hanya lauk dengan nasi dan garam saat saya duduk di Sekolah Dasar. Itu sebabnya saya harus mampuh memutus rantai kemiskinan tidak hanya untuk saya saja tapi orang disekeliling saya yang merasakan hal yang sama. Ibu saya hanya pendidikan Sekolah Dasar begitupun almarhum ayah. Dari delapan bersaudara hanya saya yang diberikan kesempatan Tuhan dapat menyicip pendidikan perkuliahan.
Hingga suatu ketika saya bertemu dengan orang-orang baik kakak angkat sekaligus mentor saya menyarankan untuk daftar beasiswa bidikmisi saat pendaftaran SNMPTN. Dia berkata “ coba semua beasiswa dek, siapa tahu salah satunya ada yang lolos”. Pasti ada saja yang membuat semangat hancur terutama saat situasi seperti tahun lalu saya jalani saya ingat sekali saat oknum pendidik yang seharusnya memberi semangat. Namun, sebaliknya persis “ kamu nggak akan bisa kuliah, kuliah itu kan mahal”. Saya nggak tahu kenapa kalimat itu dapat terucap dari orang yang seharusnya menguatkan sayap-sayap saya setelah beberapa tahun diajar beliau. Jujur, down, hancur bahkan seperti tidak layak untuk menjadi sarjana. Namun , saya selalu ingat doa ibu saya meliputi langit dan bumi. Manusia hanya berusaha tapi Tuhan punya cara.
Air mata selalu pecah saat malam saya selalu berasumsi “ saya bisa nggak kayak mereka, untuk makan aja pasti udah pas-pasan”. Setiap hari saya menyicil berkas bidikmisi dari harus kelurahan untuk orang yang dadakan dalam menyiapkan memang sedikit repot karena beberapa persyaratan yang harus disiapkan jauh-jauh hari. Untuk adik-adik SMA yang sudah mengalami fase ini “kalian hebat”. Tepat pengumuman SNMPTN (jalur seleksi rapor) saya keterima di pilihan pertama saya jurusan Antropologi Sosial dengan status “pelamar bidikmisi”. Tapi saat masuk dan pemberian almamter, kaos olahraga dan lain-lain saya tidak membayar apapun alias 0 rupiah. Tepat pengumuman bulan september saat itu 99% lolos beasiswa bidikmisi. Dari tiket keberangakatan saya Jakarta- Semarang diganti oleh beasiswa bidikmisi. Setiap langkah apapun yang saya ambil utama saya bicara ke ibu “ doain ya ma cika mau daftar beasiswa”. Utama juga kuatkan ibadah komunikasi dengan Allah SWT. Walau ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi seperti IP semester harus 3 justru itu bukan beban tersendiri melainkan acuan saya untuk terus berkembang dan percaya bahwa anak-anak bidikmisi memiliki tanggung jawab besar. Beberapa hal yang saya ingat untuk terus berpendidikan adalah “ kalau saya terlahir miskin mungkin bukan kesalahan saya, tapi mati dengan keadaan miskin itu adalah kesalahan saya.” Sampai kapapun pendidikan adalah tonggak utama yang dapat mengubah kehidupan saya percaya tersebut. Karena manusia terus dinamis dan kebutuhan pengetahuan harus tercukupi dengan adanya belajar.
Saya ingin bidikmisi ini tidak hanya berhenti disaya, tanggung jawab saya besar sebagai anak bidikmisi saya memiliki cita-cita untuk membantu cika cika yang lain diluarsana yang memiliki porsi hidup yang sama . Saya yakin ekonomi bukan hambatan ketika seseorang mampu memiliki dua kaki untuk menopang usahanya apapun itu. Untuk kamu yang membaca ini dan sedang mengalami fase yang sama “semoga diberikan bahu yang kuat untuk menopang semua beban , dan diberi hati yang lapang atas apapun hasil yang kamu kerjakan”.Bidikmisi bukan hanya sekedar bantuan finansial tetapi juga bagaiaman penerimanya dapat berkembang dan mampuh memahami konsep hidup untuk selalu membangun asa, terimakasih bidikmisi.


Author Image

About bidikin
Inspiratif, Berkarya, Bermakna, Peduli

No comments:

Post a Comment