Monday, May 11, 2020

Aku Ingin Sekolah

0

Aku Ingin Sekolah
Holdan Parlaungan Simamora
Setiap hari mentari membangunkan mimpi-mimpi yang kita tinggalkan semalam, menyadarkan kita akan penghidupan, menciptakan khayal dan perjuangan yang di tengahi dengan ribuan rintangan. Fajar kali ini dihiasi deru bising kendaraan membangunkan tubuh yang harus segera menghadapi proses. Jalanan padat, namun udara tetap dingin. Di lampu merah sudah bersiap manusia yang berlomba merebut kata sukses, tidak terkecuali juga sekumpulan anak yang hanya memakai kaos oblong dan alat musik buatan sendiri dari tutup botol juga lap kain di bagian tangan yang lain.
Aku berada di tengah-tengah manusia dengan harapan juga cita-cita yang entah. Anak-anak di lampu merah itu mencoba menyapaku dari sisi lain, menyapa aku sebagai manusia yang tidak pernah sampai pada titik berdaya.
Lampu belum kunjung berganti warna dari merah, aku masih terdiam di tengah-tengah mereka yang mengejar dunia dengan terengah-engah. Aku mulai mengingat kembali anak laki-laki itu, kulit sawo, rambut ikal dengan bau matahari juga tangan yang tidak ada lembut-lembutnya.
"Bro, nanti pulang sekolah kita main bola yok, ketemuan di lapangan dekat rumah." Aku terdiam, seingatku hanya mengangguk dan tersenyum tanpa menanyakan jam berapa harus bertemu. Namun jawabanku tetap sama, tidak punya waktu untuk bermain-main. Bagiku permainan paling asik adalah mengisi waktu dengan merangkai harap, menggambar khayal juga merajut cita.
Aku seorang anak bungsu yang bernasib lain. Lahir di keluarga yang kurang berada, tentu aku berbeda dengan si bungsu lainnya. Ketiga saudara kandungku juga  harus bekerja sambil sekolah. Sewaktu kecil kami pernah menjadi pemulung sampai akhirnya abang tertua bisa kuliah sambil bekerja sebagai penambal ban. Aku si bocah kecil yang masih sekolah, belum bertenaga layaknya pendongkrak ban mobil sehingga harus ikut ibu menjawat di ladang orang ketika pulang sekolah kemudian keliling kampung saat sore hari.
"Sayuuur.. Sayuurrr!" suara itu terngiang diingatanku.
Aku merasa berbeda saat melihat anak-anak lain bermandi keringat bahagia bermain di lapangan sepak bola namun aku harus bungkuk mengambin ikatan demi ikatan kangkung, teriakan lantang dariku mengelilingi seisi kampung namun meredup ketika mendekati lapangan bola. Aku mau, tetapi belum mampu. Aku sanggup, tetapi malu. Aku sedang kebingungan mana yang sebenarnya lebih merujuk pada kebahagiaan. Menyingkap keringat dengan sayur yang habis dan laris atau menghela napas panjang setelah sekian menit berlari mengejar bola dan diakhiri dengan minum sirup manis.
Saat melintasi lapangan bola itu, sering kujumpai ibu-ibu yang sedang berkumpul di pinggir lapangan sambil menyaksikan hebatnya pertandingan sore itu, memilih ikatan-ikatan terbaik kangkung yang ku tawarkan,
Salah satu celotehan ibu-ibu,
“ Bapak ibumu, kerja toh, Masa buat jajanmu aja gak dapet!”
“ Iya bu, tapi jualan sayur buat sekolah bukan buat jajan.” Jawabku
“Halah, suamiku aja pegawai bank, anaknya sekolah di kampung, kamu sok-sok an sekolah diluar kota.”
Saat itu aku tertunduk, remeh memang seolah tak boleh sekolah tinggi karena anak seorang kuli yang  tidak ada kepastian kapan bekerja dan dapat berapa, tapi aku punya tekad yang kuat agar rantai kemiskinan ini bisa diputuskan.
Untungnya aku mengenal banyak orang-orang hebat, termasuk salah satu ustad yang selalu mengumandangkan adzan di langgar kampungku. Ustad yang kerap menceritakan banyak hal demi memupuk tunas mimpiku, anak kecil yang malu-malu ini. "Sekolah adalah jembatan menuju kebaikan, belajar adalah langkah kaki yang membawamu menyeberangi jembatan itu, dan doa serta usaha apa yang membuatmu sampai pada tujuan dengan tepat." Setelah hari itu, aku mengingat baik-baik setiap kalimat yang ia berikan. Seragam putih yang telah berubah warnanya menjadi kuning dan celana biru yang jadi abu-abu itu menjadi saksi bahwa ada anak laki-laki yang setengah mati berjuang mengenyam bangku pendidikan meski dicekik keadaan.Tentu wajah orang tua tak luput dari ingatanku. Kerut wajah juga guratan pembuluh darah di tangan beliau menceritakan banyak hal mengenai pengharapan. Tangan yang tidak pernah berhenti bekerja, mulut yang tidak pernah berhenti berdoa juga hati yang tidak pernah pudar. Rasa percaya itu menjadi kekuatan tersendiri bagiku.
Aku pernah membaca bahwa masa SMA adalah hadiah dari Tuhan, setiap pagi menyambut ladang, menuai benih, menyiram dengan harapan yang pasti namun hasil yang masih entah selain yakin. Kaki kecil itu hanya melangkah mengikuti segala arah yang menuju kebaikan namun asa dan cita menamai setiap langkah sebagai perjuangan. Sesekali mungkin berat, seringkali kepayahan namun bukankah itu sari kehidupan yang manis ini? Sesuatu yang pahit namun ampuh dalam mengobati.
"Sekolah jauh-jauh, Mamakmu susah setengah mati di kampung."
"Rumah udah mau roboh masih sok-sokan sekolahin anak tinggi-tinggi."
Kalimat ini kerap mampir di telingaku anak laki-laki yang saat itu memang sudah tidak anak-anak lagi. Aku sudah diberi kesempatan untuk memahami kesulitan dan kemudahan yang hanya dibatasi oleh kata-kata. Hingga Ibu menyadarkanku bahwa kata-kata hanyalah perihal sesuatu yang dilepaskan dan sampai sisanya terserah kita untuk menolak, membuatnya tidak sampai atau bahkan mengembalikannya ke alamat asal.
"Kamu hanya perlu terus berjuang dan belajar, sisanya biar mamak dan bapak yang usahakan". Aku mengingat ketika kalimat itu diucapkan dari bibir Ibu. Semua pengharapan dan keraguan memenuhi setiap ruang di kepalaku. Untuk seorang anak yang diharapkan dan dipercaya tentu tidak ada pilihan lain selain melanjutkan perjuangan. Aku percaya ketika memutuskan untuk melanjutkan cita dan asa serta telah direstui orang tua maka semesta akan punya ribuan cara untuk membantu.
Keberhasilan dan kegagalan yang disekat perjuangan itu membuatku selalu percaya setiap hal akan berujung baik kelak. Dibuktikan dengan selembar surat sebagai gerbang menuju perjuangan selanjutnya. Aku gemetar, harapanku melambung tinggi, aku diam menatap kata "lulus" yang sebelumnya telah diawali dengan kata selamat. Selamat melanjutkan perjuangan, selamat merajut asa, selamat mengepulkan semangat dan melangitkan doa, demi pendidikan tinggi. Hidup memang penuh kejutan baik dan buruk beriringan sesuai kehendak Tuhan.
Aku ingat waktu itu ibu sedang tidak bisa apa-apa, kakinya setengah mati menahan gejala struk, jangankan untuk melanjutkan kuliah, untuk makan saja belum tentu ada karena harus membeli obat peredam rasa sakit di kaki ibu. Ibu yang selalu mengangkut kayu bakar dan memasak kangkung liar dari sawah kini tugasnya harus tergantikan.
Langit biru juga cerah mentari seolah sedang memelukku. Entah berhutang dari mana yang jelas kali itu pembayaran kuliah pertama berhasil dilakukan, meski setelahnya ketika di perantauan harus menginap beberapa hari di masjid yang disediakan kampus sebab tak punya uang untuk menyewa tempat. Namun lagi-lagi semesta memberi kejutan, setelah diperbolehkan bersendel bahu sebagai pegawai kantin kampus. Aku dikenalkan kepada orang baik yang menawarkan untuk tinggal bersama, itu seorang pengusaha muda garment dan percetakan, di sini kemudian sampan mulai kudayung  menangkap ikan sambil mencari udang. Aku bekerja paruh waktu hanya sekedar mendesain baju untuk mencukupi biaya kuliah  dan sedikit mengirim belanja dapur di kampung. 
Aku yang masih di atas motor dengan ingatan yang berselancar kemana-mana merasa seolah waktu berhenti sejenak, mengingatkan kembali setiap perjuangan yang tidak ada habis-habisnya menemui pintu kebaikan. Semua berperan, baik teman, keluarga, lingkungan, bahkan negara. Tidak lama, deru kendaraan dan sautan klakson membangunkanku dari lamunan. Lampu kembali duduk di posisi hijau tanda untuk kembali melanjutkan perjuangan. Aku yang dari tadi, kembali ke pinggiran jalan, menghitung beberapa lembar dan koin dari dalam plastik.
Aku meyakini bahwa yang ada di dalam ingatanku tidak akan pernah berubah. Keinginanku tetap kokoh juga niat tetap satu. Semua harus merdeka, semua harus mencapai titik kebahagiaannya masing-masing, semua harus mengambil peran untuk pembangunan negeri, dan semua harus memutuskan rantai nestapa yang dipupuk kemiskinan.
Semilir angin sampai pada wajahku, rasanya tidak berlebihan jika aku berterima kasih kepada anak laki-laki yang tidak lain adalah diriku sendiri. Anak laki-laki yang menemui banyak keberuntungan, anak laki-laki yang dipeluk banyak kebaikan juga anak laki-laki asuhan Bidikmisi yang tetap bercita membangun negeri. Asa dan cita ini akan berlanjut, akan tetap kuperjuangkan hingga menemui bentuk nyata dari perubahan.

Author Image

About bidikin
Inspiratif, Berkarya, Bermakna, Peduli

No comments:

Post a Comment