Monday, December 10, 2018

Secuil Kisah dari Mentari Senja Bidikmisi dan Si Anak Tunggal Dari Tiga Bersaudara

1
Secuil Kisah dari Mentari Senja  
Bidikmisi dan Si Anak Tunggal Dari Tiga Bersaudara 
Perjalanan waktu yang tak terduga, aku seorang anak tunggal dari tiga bersaudara kembali menjalankan sisa-sisa umurku yang semakin berkurang ini, dari awal berpendidikan lusuh di Sekolah Dasar (SD) kampung halamanku nagari muaro paiti, yang tekenal dengan pelosoknya, yang tersohor dengan terpencilnya, namun semua itu tidak akan menghambat saya dalam memenuhi kewajiban dalam menuntut ilmu, aku lahir tanpa mengenal kehadiran seorang ayah dan sudah sejatinya saya dikenal lahir dalam keadaan yatim, saya punya satu adik, dan satu kakak, namun mereka tidak bisa mengiringi perjalananku di  dunia yang fana ini, mereka meninggalkanku sewaktu kecil, untuk kakakku yang bisa kulihat hanyalah batu nisannya saja, sementara adikku hanya bisa kulihat langsung selama 3 bulan setelah itu dia menyusul kakakku, tinggallah aku anak tunggal dari tiga bersaudara. Semasa kecil aku tak pernah mencicipi rasanya air susu ibu kandungku karena dia sudah sakit sewaktu melahirkan kami, struk yang tidak aku pahami penyebabnya sampai sekarang, aku disusui oleh keluarga jauhku dan secara tidak langsung aku punya saudara sepersusuan, aku tumbuh dengan lingkungan yang sangat tidak diinginkan orang-orang normal lainnya, tak peduli seberapa rendahnya masyarakat memandang keluargaku, yang di dalamnya tak ada satupun yang menyelesaikan studi sarjana, aku tetap tumbuh tanpa menghiraukan itu semua. 
Selang beberapa tahun, ada satu kejadian yang tak bisa kuhapuskan dari ingatanku sampai saat sekarang ini, perkara yang terjadi ketika aku menginjakkan kaki di kelas tiga SD, aku diberi kabar oleh adik mamaku bahwa aku disuruh oleh ayahku main ditempat domisilinya waktu itu, umur yang membatasiku berfikir terlalu jauh, yang tidak tahu menahu persoalan seorang ayah, sekarang aku dikabarkan bahwa aku punya ayah, sewaktu itu aku tidak banyak oceh dan tidak mempedulikan semua itu, liburan semester aku dibawa oleh adik mamaku ke tempat domisili ayahku, dan itu adalah pertemuan pertamaku di dunia dengan ayahku, aku sedikit canggung saat itu, sampai-sampai aku keceplosan memanggil ayahku dengan sebutan oom, aku memang lugu saat itu, dan yang paling kuingat itu adalah sifat luguku itu, waktu 
terus memaksaku untuk tumbuh tapi dengan kondisi yang berbeda, aku tak lagi yatim walau aku tidak tinggal bersama ayahku, tapi aku sudah tahu bahwa aku punya seorang ayah. 
Perkembangan yang tidak terasa, aku sudah dipenghujung pendidikanku tahap kedua, yang pertama itu taman kanak-kanak, yang kedua itu sekolah dasar. Aku bingung mau melanjutkan pendidikan ke jalur mana, karena aku tidak tahu sama sekali permasalahan jenjang pendidikan, mungkin karena usia yang membatasiku berfikir kala itu, aku ditawarkan ayahku untuk masuk pondok pesantren, yang kabarnya disana aku akan menuntut banyak ilmu agama, tak perlu banyak fikir karena sedikit banyaknya prestasi dalam bidang keagamaan aku menyetujuinya, dan pada akhirnya aku memilih untuk masuk pondok pesantren yang lumayan jauh dari kampung halamanku, meninggalkan semua keluargaku, jauh dari mama, nenek, kakek, ayah, dan semua keluargaku untuk menuntut ilmu agama dan mencari jati diriku di dunia yang belum pernah kupijaki, aku masuk salah satu pondok pesantren di bukittinggi, durasi waktu yang dihabiskan dari kampungku ke pondok ini selama lima jam, cukup lama untuk sebuah perjalanan. Aku menuntut ilmu selama enam tahun dalam beasiswa bos kala itu, aku tidak tahu pasti apa itu beasiswa bos, yang kutahu hanya spp ku cukup teringankan karena nya. Beberapa prestasi kuukir dipondok pesantren membuatku lupa bahwa aku sudah dipenghujung jalanku, aku sudah tahap akhir untuk pendidikan ku yang ke empat, TK, SD, MTS, dan Aliyah, aku sekarang tidak lagi dituntut untuk masuk kemana dan dimana, namun yang menentukannya sekarang adalah aku dengan segenap pikiran ku. Tak tahu mengapa aku memilih melanjutkan studi dalam bidang keagamaan, karena aku memang suka dan membuatku senang, pilihan pertamaku adalah masuk UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan jurusan Bahasa dan sastra Arab, tapi sayangnya allah tidak mengizinkanku untuk jauh-jauh dari orang tuaku, kemudian pilihan keduaku adalah mesir dengan jurusan yang sama, tapi tetap sekali tidak boleh jauh ya tidak lulus, kemudian sampai pada akhirnya aku diberikan pilhan terakhir yang tidak terlalu jauh dari kampungku jika dibandingkan dengan mesir dan jakarta, yaitu di kota padang tepatnya di Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang, aku masuk jalu UM-PTKIN, dan sama sekali waktu itu aku bukan rekomendasi penerima bidikmisi dari sekolahku, dan tak pernah terniat sedikitpun untuk mengambil beasiswa bidikmis, perkuliahan sudah dimulai, suasana baru mulai kurasakan, tidak lagi seperti aku di pondok, yang terkekang dalam penjara suci, dikampus kita yang mengatur semuanya. Baru berjalan hampir satu minggu kuliah, aku bertemu dengan dosen yang cukup anarkis, perfeksionis, dan semacamnya, 
selama mata kuliah dengan beliau cukup membuatku tegang, dan pada akhirnya dia menguak latar belakang sekolahnya yang ternyata beliau adalah seniorku disekolah, namun jaraknya dengan ku kira-kira 20 tahunan, dan sudah pastinya disekolah aku tidak pernah melihatnya, selepas kuliah beliau mengajakku sedikit bercerita dan sampai pada akhirnya aku harus mengatakan dimana kampung halamanku. Dengan terkejutnya beliau, bertanya beberapa kali kepadaku apa benar disana kampungku, karena beliau ingin melakukan penelitian di dekat kampungku, dan aku diminta utnuk memandunya selama beliau berada dikampungku, dan permintaan beliau tidak mungkin aku tolak. Ternyata hari dimana penelitian itu akan dimulai sudah tiba, aku berangkat bersama beliau dan dua orang rekannya yang lain ke kampung halamanku, beliau aku pandu semampuku, dan pada akhirnya aku membawa beliau kerumahku, sebenarnya aku sedikit malu untuk membawa beliau ke rumahku karena keadaan yang tidak memungkinkan, tapi semuanya harus terjadi, beliau mengunjungi rumahku dan melihat semua keadaan keluargaku yang cukup kacau, dan ternyata beliau cukup prihatin. Selepas penelitian kami kembali ke padang dengan membawa penelitian, dan ketika dalam perjalanan beberapa pertanyaan beliau ajukan kepadaku bersangkutan dengan keadaan keluargaku, aku dengan jujur menjawab semuanya dan beliau mengerti situasiku saat itu, tanpa banyak berfikir, beliau menawarkan keapadaku untuk mengurus beasiswa bidikmisi, yang akan membantu setidaknya biaya kehidupan dan pendidikanku nanti, aku tidak terlalu percaya diri, karena tidak pernah berfikir akan mengambil beasiswa ini, sesampai di padang besoknya beliau langsung memeberikan data persyaratan untuk mahasiswa penerima bidikmisi, dan beliau menyuruh aku melengkapinya, dan semuanya aku lengkapi sesuai perintah beliau, dan sisanya beliau yang mengurus, selang beberapa minggu datanglah saat dimana pengumuman bagi siapa yang lulus dalam penerimaan mahasiwa bidikmisi, ternyata salah satu diantara yang lulus ada namaku, dan aku sangat bersyukur kepada allah, dan berterima kasih kepada seniorku sekaligus dosenku di kampus. 
Kejadian ini menuntunku untuk berfikir bahwa setiap kejadian pasti ada hikmahnya, kita tidak tahu rencana tuhan, yang harus kita fikirkan itu Cuma satu bahwa sudah pasti memberikan perencanaan terbaik untuk hambanya yang taat dan tabah, aku percaya bahwa allah mampu membalikkan situasi terburukmu menjadi momen terindah dalam hidupku, dan untuk semua permasalahan yang bisa aku lakukan hanya berusaha selebihnya aku serahkan kepada allah. 
B. Bidikmisi Membimbing Perjalananku 
Setelah aku ditetapkan menjadi salah satu mahasiswa penerima beasiswa bidikmisi, kuliah berjalan seperti biasa, aku menuntut ilmu dengan biaya dari negara, berusaha aku memberikan kontribusi terbaik untuk negara dengan cara mengukir prestasi, semester awal aku meraih IP dengan nominal 3,80, ini bukan prestasi yang aku harapkan, dan kembali aku mencari apa yang bisa aku lakukan untuk negara ini, kemudian aku mulai masuk dunia organisasi, dan berusaha mendalaminya, aku aktif di berbagai organisasi, dan ternyata aku sudah menjadikan organisasi ini sebagai hobi, sampai disemester tiga aku sudah mulai mengukir prestasi dalam banyak organisasi, mulai dari menjadi pengurus HMJ yang menjadi organisasi terkecil, setelah itu mesuk jadi pengurus BSO FSRU DEMA fakultas adab, kemudian menjadi pengurus Perhimpunan mahasiswa bahasa arab se Indonesia, itu organisasi yang aku jejaki di semester tiga, tahun berlanjut aku mulai menambah wawasan, aku ingin lebih berkarya, aku meneruskan hobiku dalam berorganisasi, aku jadi ketua umum dalam ikatan mahasiswa alumni pondokku, kemudian jadi C.O PSDM dalam pengurus himpunan mahasiswa bahasa arab se indonesia, kemudian aku jadi staff di UKM Bahasa UIN IB,C.O Departmen Sosial Forum Studi Mahasiswa Bidikmisi UIN IB Padang, dan beberapa organisasi lainnya. 
Tidak hanya berhenti sampai disana, kemudian aku lanjutkan dengan mengikuti perlombaan ambasador yang sebelumnya belum pernah aku ikuti, namun aku memperoleh pemenang tiga dalam pemilihan putra/putri batik minang, kemudian runner up dua dalam pemilihan uda uni kampus UIN Imam Bonjol Padang, kemudian karena aku punya prinsip bahwa kuliah bukan untuk bekerja namun menciptakan lapangan pekerjaan, aku ingin masa kuliahku ini dihiasi dengan bekerja, dan nanti habis kuliah aku yang akan membuka lapangan pekerjaan, dan ternyata allah menyampaikan keinginan ku, diwaktu libur semester genap akan naik semester lima aku mendaftarkan diri untuk bergabung di beberapa perusahaan yang ada di padang, yang pertama di PT. TransRekreasindo Padang, kemudian di Hai school Padang, dan toko Big StorePadang. Beberapa minggu setelah pendaftaran ternyata aku lulus di Transrekreasindo Padang yang bekerja di bagian cast member Tras studio Mini padang, kemudian aku juga lulu menjadi tenaga pengajar Baca Tulis Al-quran di Hai school, namun tidak lulus di toko Big store padang, aku mencoba menjalankan dua pekerjaan ini sekaligus, 
dan sebenarnya itu tidak boleh dan tidak mungkin, tapi aku tetap mencoba dan ternyata allah memudahkan urusanku dalam perkara ini, dan sampailah aku pada titik bahwa menjalankan kuliah dengan beasiswa juga sambil bekerja tanpa meninggalkan hobi berorganisasi, dan berprestasi untuk negeri pastinya, semuanya bisa aku rangkul berkat usaha dan doaku kepada allah, karena aku pecaya bahwa proses tidak akan mengkhianati hasil, dan salah satu cara menilai proses yang kita jalani adalah dengan melihat hasil yang kita dapatkan. 
Author Image

About bidikin
Inspiratif, Berkarya, Bermakna, Peduli

1 comment: