Saturday, December 15, 2018

Revolusi Biru

1
Revolusi Biru

“Revolusi biru!” begitu celetuk guruku saat mengusulkan jurusan mana yang sebaiknya kupilih. Saat itu aku harus menentukan jurusan di Universitas Airlangga (Unair) program PMDK dengan beasiswa BidikMisi. Ya patutlah, jangankan biaya kuliah, untuk uang sekolah saja aku harus kerja paruh waktu di toko percetakan. Nasib baik otakku tak begitu membatu sehingga beasiswa yang kudapatkan di SMA bisa sedikit membantu. Di benakku saat itu hanya dua pilihan, kuliah dengan beasiswa atau kerja bantu orang tua.Program PMDK di Unair tak seperti biasa yang kudengar. Program ini mempersyaratkan ujian tertulis! Itu pun harus ujian di kampusnya. Jangankan berpikir lulus atau tidak, untuk berangkat dari Medan ke Surabaya saja aku bingung harus “memetik” uang dari mana. Alhamdulillah guru-guruku bahu membahu membantuku. 4 hari 3 malam di guncang ombak dan 1 hari 1 malam di dalam ular besi menghantarkanku dari Medan ke Surabaya. Tekadku bulat, persiapanku mantap, alhasil 1 tiket di jurusan Akuakultur Universitas Airlangga dengan Beasiswa BidikMisi menjadi milikku.
Tak seperti kawan-kawanku penerima BidikMisi yang lain yang umumnya dari wilayah Jawa Timur, aku hidup sebatang kara di Surabaya. Mereka biasa membawa beragam bekal setiap kali kembali dari kampung halaman. Sementara aku, membusuk di kontrakan, mahasiswa baru bertubuh legam dari negeri antah berantah, harus putar otak untuk bisa bertahan hidup. Terang saja, dengan uang saku Rp. 600.000,-/bulan dari BidikMisi, hanya ada 2 cara agar bisa bertahan hidup di kota sebesar Surabaya – irit menjerit atau berwirausaha. Darah Minangkabau yang turun dari ibuku tampaknya mujarab, mulai dari jualan telur asin, jasa desain grafis, percetakan, sampai jualan makanan korea kulibas. Alhasil, tak hanya cukup untukku saja, tak jarang aku mengirim beberapa rupiah untuk ibuku di rumah. Namun, Revolusi Biru masih menjadi tujuan dalam hidupku. Menggeluti bisnis bukan berarti abai di bidang akademik. Ada tanggungjawab moral dari BidikMisi yang harus kutunaikan. Alhamdulillah, tak jarang aku memenangkan kompetisi, seperti PKM, PMW, Kemenristek Dikti dan Mahasiswa Berprestasi. Bahkan aku juga dinobatkan sebagai Wisudawan Berprestasi dengan predikat Cum Laude kala itu.
Lebih dari setahun aku bergelut di bidang pembenihan udang pasca wisuda. Sebenarnya aku berniat melanjutkan pendidikan master di luar negeri, karena aku tahu, Revolusi Biru adalah tujuanku. Tapi kesempatan saat itu belum terbuka. Waktu setahun itu kugunakan untuk merenung dan belajar, baik bahasa maupun seputar akuakultur. Di penghujung 2015 kesempatan itu ada melalui beasiswa LPDP. Diterima! Tapi satu tantangan lagi untuk bisa masuk di kampus impianku di Bergen, the Silicon Valley of Aquaculture, Norwegia – University of Bergen. Hanya 3 orang kuota mahasiswa internasional di disiplin ilmuku. Setelah tiga level proses seleksi, sebuah email berlampirkan “Letter of Acceptance” membuatku loncat girang!
Saat ini aku resmi menjadi mahasiswa tingkat akhir di University of Bergen. Kurasa cukup banyak bekal yang kudapatkan di negeri Viking ini untuk nanti bisa “dipakai” di negeriku, Indonesia. Tapi, sebelumnya aku berencana melanjukan pendidikan doktoralsebelum kembali pulang. Supervisorku tampaknya senang dengan kinerjaku selama di perkuliahan dan laboratorium. Terlihat dia beberapa kali menanyakan apa rencanaku ke depan dan menawarkan kalau sekiranya aku bisa langsung bekerja untuknya. Tidak, tawaran itu kumentahkan, selama tawaran itu adalah untuk pendidikan selanjutnya, aku bisa mengamininya. Tapi, kalau bekerja, aku lebih memilih untuk menyumbangkan tenaga dan pikiranku untuk negeriku, demi Revolusi Biru.

Author Image

About bidikin
Inspiratif, Berkarya, Bermakna, Peduli

1 comment: