Sunday, December 9, 2018

Kisah Perjalanan Sebagian Dari Perjuangan Hidupku

0
Kisah Perjalanan Sebagian Dari Perjuangan Hidupku

Saya Metri Eka Putri anak kedua dari empat bersaudara…yang lahir, tumbuh dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang sederhana, ayah saya bernama Syamsuwir, dan ibu bernama Delva Yanti…mempunyai satu kakak dan dua orang adik laki-laki…kakak bernama Umul khaira, adik yang nomor tiga bernama Nofri wandi dan adik bungsu bernama Zeldi Zamel…kami tumbuh dengan rasa kasih sayang orang tua dalam kesederhanaan…
Waktu kakak saya masih kecil…semua kebutuhan terpenuhi dengan cukup karena pada saat itu ayah dan ibu disebut oleh masyarakat orang berada dan kaya karena mempunyai toko yang isinya melimpah ruah…yah ekonominya terpenuhi…jarak antara kakak dengan saya selama empat tahun, selama empat tahun…orang tua sangat menyangi kakak…semua keinginannya kakak tercukupi diwaktu kecil dan kakak waktu berumur tiga tahun kakak menginginkan seorang adik…beberapa tahun kemudian…tahun keempat saya lahir kedunia dengan sehat dan baik…saya beranjak umur dua tahun…kakak sering menggendong saya…kemana ia pergi selalu saya digendongnya…ketika ibu bermake up ingin pergi ke pesta pernikahan keluarga…kakak ingin juga dimake up kan sama ibu…saking sayangnya kakak sama saya sampai akhirnya muka saya dimake up juga ketika masih berumur dua tahun…kenapa saya bisa bercerita seperti ini karena masih ada satu foto kakak dengan saya diatas kursi kakak sedang menggendong saya dengan wajah kakak yang dipenuhi make up an…hehehe yah mendegarkan paparan cerita dari kakak…saya senyum dan ketawa bahagia, karena waktu kecil saya sangat disayangi oleh kakak…waktu saya berumur tiga tahun saya terus digendong kakak kemana ia pergi tidak henti-hentinya terus lengket sama kakak…suatu saat tangan kakak terlepas dari gendongannya saat mau menduduki saya diatas bangku didepan teras rumah saya terjatuh terbalik dan kepala saya langsung kena runcingan batu  lumayan besar dan bocor…saya langsung terpekik nangis sejadi-jadinya darah terus keluar dari bocoran kepala…kakak waktu itu tidak tahu apa yang mau dibuat…langsung memanggil nenek
Kakak : Nenek…nek…nenek’’teriak kakak…
Nenek : Iya kenapa cu…”sahut nenek
Kakak : Adik nek…adikkkk…..”suara cemas kakak
Nenek : Iya kenapa dengan adik…”balas nenek
Kakak : Itu adik jatuh (menunjuk kearah tempat terjatuhnya sang adik)…sambil menangis…
Nenek : Ya allah….(nenek sambil berlarian menggapai saya)…’’teriak nenek
Nenek : Kok bisa jatuh adik sama kakak…”Tanya nenek…
Kakak : tidak sengaja terjatuh tadi nenek…”suara gemetaran kakak…
Waktu itu orang tua dikedai…jadi nenek tidak banyak bicara, adik langsung dibawa nenek ke klinik dekat rumah…saat diklinik saya diobati tujuh jahitan akibat kepala yang bocor…sambil terisak-isak nangis karena kesakitan…tidak lama beberapa menit kemudian datang orang tua…kenapa bisa terjatuh adik sama kakak’’tanya ibu sambil menangis menggendong saya…kakak waktu itu cemas dan pucat saat ibu bertanya hanya diam…karena ibu sudah tahu ceritanya dari nenek…ibu sedikit memarahi kakak,,karena hanya tidak hati-hati saja menggendong saya. Hari demi hari…kedaan saya mulai membaik kepala sudah sembuh hanya bekas yang tertinggal dikepala yaitu sebagian kulit kepala tidak ditumbuhi rambut…waktu itu kakak tidak berani lagi menggendong saya…karena trauma karena kejadian yang dahulu…saya mulai beranjak umur 8 tahun…dimana musibah datang lagi melanda saya ketika belajar mengaji dengan ayah dirumah…sebelum memulai belajar mengaji…saya dengan sepupu bermain didalam rumah…saat dikejar oleh sepupu saya berlarian kearah dapur…dan pada saat itu ibu dan kakak lagi memasak didapur…ketika saya berlarian ke arah dapur dan kakak datang dari arah dapur membawa air mendidih untuk diletakkan dimeja makan,,,braaaakkkkkkk…langsung tabrakan antara saya dan kakak…air mendidih yang dibawa tadi tumpah meruah mengenai dada saya…saya terpekik langsung nangis…pedih dan sakit nya bukan main…kulit dada terkelupas oleh air yang panas…ibu terkejut didapur berlarian dari arah dapur ke ruang makan…ya Allah adikkkk…”ibu berteriak…ibu bukan main sedihnya langsung memarahi kakak dan sepupu…dada yang terkena siraman air hangat diolesi odol oleh ibu…supaya sedikit menghilangkan rasa pedinya…tanpa sepatah kata pun ayah langsung membawa saya kerumah sakit untuk berobat diberi salep dan obat oleh dokter…awalnya sembuh…tetapi waktu itu saya masih berumur 8 tahun…namanya gatal tidak tahan…kemudian bekas lukanya saya garut-garut sehingga meninggalkan bekas didada saya sekarang…seperti daging tumbuh disekitar wilayah dada…dan ibu mengambil tindakan operasi tetapi kata dokter, walaupun dioperasi bekasnya akan kembali lagi…jadi percuma untuk dioperas,,,terus dokter menyarankan untuk kemoterapi…tetapi tantangannya berat yaitu nyawa bisa melayang kalau tidak tertahan kan oleh tubuh itu sendiri…mendengar apa yang dibicarakan oleh dokter…orang tua tidak mau mengambil resiko…dari pada nyawa anak saya melayang, biarlah dia hidup dengan keadaannya seperti ini…waktu itu saya masih kecil belum tahu apa yang terjadi dan akibatnya saya pada saat sekarang ini…hanya bisa diam…dan ibu menagisi keadaan…”kenapa anak saya selalu kamu berikan cobaan diwaktu dia kecil dan sehingga dadanya sekarang seperti ini ya Allah”…saat itu saya juga sedih kenapa cobaan ini saya yang harus terima ya Allah…”pinta saya…pada saat mengalami kecelakaan itu saya kelas 2…pergi kesekolah tidak berbaju…hanya memaki rok saja,,,sesampai disekolah hanya ejekan dan tawaan yang saya terima…saya hanya diam dengar ejekan teman sampai teman-teman itu bosan mengejek saya…beberapa kemudian tidak lama bekas lukanya sembuh cuman karena rasa gatal-gatal akibat salepnya,,,tangan ini selalu menggarutinya sehingga membekas sepeti daging tumbuh sekarang…itulah cerita waktu kecilku…penuh cobaan dan rasa kasih sayang itu masih ada…
Keadaan mulai membaik, saya sudah beranjak remaja, dan kakak beranjak dewasa, saya sudah mempunyai dua orang adik…jarak saya dengan adik ketiga 7 tahun…antara adik ketiga dan yang bungsu hanya 2 tahun…lama kan saya dimanja sama ibu, ayah, kakak, dan nenek…iyah semua sayang pada saya…!!!!!!! pada waktu itu, semenjak adik-adik saya lahir,,,entah kenapa ibu sangat sayang sekali sama kakak,,,dalam fikiran apa karena saya sudah cacat???...ibu tidak sayang lagi sama saya,,,ah tidak mungkin rasanya…rasa sayang ke saya berkurang…pada ketika itu terlintas dipikiran saya...
Apakah saya anak kandung dari kedua orang tua bukan ya…”terbesit dalam fikiran”, saat saya kena marah oleh ibu…sehingga aku sempat berfikir hal negatif karena baru ini kena marah sama ibu. Pada waktu kakak mau berangkat sekolah…saya pandang-pandangi selalu…ketika itu…Next!!!
Ibu…….sepeda kakak bannya bocor gimana mau pergi sekolah bu…”kata kakak”.
Kenapa kok bannya bisa bocor kakak…ya udah ibu carikan aja ojek yah bentar yah kakak…”sahut ibu”
Alaaaaaah….gitu aja manja kali sikit – sikit ngadu ke ibu ban bocor, itulah, inilah…perbaiki saja sebentar ketempat bengkel napanya kakak, itu aja ko repot kali sich…!!!”sewot saya”
Biarin emang kakak mintak dan ngadu keadik nggak kan, isssshhhh…..”sewot kakak”
Sudah – sudah ko jadinya malah berantem sich kan kakakmu ban sepedanya bocor nggak bisa kesekolah pakai sepeda, ya sudah ibu yang carikan ojek kok…”kata ibu yang bela kakak.
Biariiiii…terus saja ibu bela kakak…sedikit-sedikit ngadu,,,ngerengek mintak diantarin,,,giliran saya hmmm ibu tidak ada suaranya”kesel saya dalam hati…
Ibu tidak membeda-bedakan…semuanya sama, ibu sayang sama kalian semua…!!!, entahalah mungkin karena sifat saya yang kekanak-kanakkan kali ya.., tetapi sebenarnya orang tua saya membesarkan kami dengan penuh kasih sayang dan apa yang kita mau dan minta selalu diturutin, ya penghasilan orang tua lumayan cukup untuk kebutuhan kami sekelurga.
Tapi saya agak cemburu dengan kakak yang selalu setiap hari dan sering sekali kalau sesuatu yang dia minta pasti diberikan, sedangkan saya diberikan, hanya saja  lama direspontnya dari orang tua dan lebih-lebihnya rasa kasih sayang kedua orang tua kepada kakak melebihi rasa sayang kepada saya, ya wajarlah nama nya saja saya masih berumur 10 tahun inginnya dimanja terus ya kan..., tapi tidak apa-apa saya anggap biasa saja, dari pada memikirkan itu, lebih baik saya bawa enjoy saja untuk meringankan kesedihan saya, dengan mengikuti banyak kegiatan di sekolah seperti pramuka, drum band, dan even-even juga banyak yang saya ikutkan seperti lomba tari, lomba PBB, lomba paduan suara, ya itulah aktifitas selama di Sekolah Dasar, selain itu saya juga ingin punya banyak teman supaya terhibur, dan memang diri ini lebih suka berorganisasi entah kenapa organisasi adalah bentuk dari kekuatan dalam mencari ilmu dan pengalaman. Hati yang sedih tidak jadi bersedih karena banyak kegiatan yang diikutkan untuk tidak memikirkan hal-hal yang nantinya akan mengundang kemarahan dan kebencian pada saudara sendiri.
Tapi lambat laun penghasilan ayah saya menipis, dan banyak warga masyarakat dikampung saya berhutang dan minta hutang terus, karena ayah  orangnya berbesar hati selalu diterima kalau ada orang ingin berhutang, cuman pada waktu krisis ekonominya, ayah selalu meminta tagihan kepada orang-orang yang berhutang tersebut tapi tidak satupun orang ingin membayarnya, disaat itu saya meminta uang jajan pada ayah dan waktu itu saya iseng-iseng saja mengintip dari samping warung yang dahulunya penuh diisi dengan dagangan sampai melimpah keluar sekarang tidak ada lagi, malahan isinya hampir habis dan uang tidak keluar, mencoba sedikti-demi sedikit melihat ketika ayah  memegang uang lembaran tipis dengan nilai 1000 rupiah sambil menangis, saya  melihat hal itu juga ikutan menangis… Pelan-pelan kaki saya langkahkan untuk kembali ke sekolah, warung punya ayah tidak jauh dari Sekolah Dasar dan mengurungkan niat untuk tidak meminta uang jajan, saya langkahkan kaki sambil mengusap-usap air mata supaya tidak terlihat dengan teman-teman jikalau saya waktu itu sedang menangis.
Saya ingin menolong cuma hanya waktu itu saya masih kecil, ingin sekali saya membantu, akan tetapi dengan cara apa?.., karena masih kecil jadi belum terfikir ingin menolong dengan cara bagaimana, tetapi hati ini sangat ingin sekali menolong ayah pada keadaan terpuruk tersebut…tetapi saya tidak bisa berbuat apa-apa…hanya doa yang bisa saya panjatkan untuk ayah, semoga Allah memberi kesabaran dan ketabahan kepada ayah…’’gumamku didalam hati.
Ibu juga tidak bisa tinggal diam melihat keadaan kami yang serba kekurangan, waktu itu kakak masih manja masih meminta apa keinginannya supaya bisa terkabulkan, dengan seiringnya waktu kakak baru sadar akan kekurangan kami sekarang. Ibu mulai membantu mencari kan nafkah ayah dengan menjual lontong didekat Sekolah Dasar saya dahulu. Alhamdulillah walaupun penghasilan jualan ibu pada itu tidaklah banyak, tetapi tidak apa-apa itu sudah sedikit demi sedikit menutup kekurangan kami supaya bisa dapat makan dan bisa membayar uang sekolah.
Alhamdulillah keuangan dikeluarga saya mulai membaik walaupun ibu bersusah payah, tetapi masih tetap menjual lontong. Dengan seiringnya waktu sayapun mulai  beranjak masuk sekolah menengah pertama dan berkeinginan sekali masuk Tsanawiyah atau MTsN, dimana MTsN ini sekolah favorit saya dahulu. Kenapa demikian, karena saya ingin menambah ilmu dalam bidang keagamaan, banyak ilmu yang didapatkan disekolah baru itu, dimana teman-teman berasal dari daerah yang berbeda-beda dan berada di daerah yang jauh-jauh, dan juga saya orangnya suka bersosialisasi, sekali kenal dan dekat dengan orang lain disanalah saya banyak dikenal orang.
Banyak yang ingin saya ikutkan seperti pramuka dan osis, tetapi melihat keadaan kelurga, saya tidak bisa pulang lama-lama dan harus pulang sekolah langsung membantu orang tua berjualan. Tapi apalah daya saya, yang terbenak dalam pikiran saya, setelah pulang sekolah harus pulang sekolah langsung  kerumah untuk membantu ibu berjualan. Tetapi dengan seiringnya waktu dalam perjalanan masih ada waktu renggang untuk mengisi dengan kegiatan-kegitan yang positif, dan itu saya manfaatkan untuk ikut latihan tari, latihan paduan suara, latihan main talempong  yang akan ditampilkan pada waktu perpisahan kakak kelas, ya itulah diri saya lebih suka menampilkan bakat dibidang kesenin, walaupun saya tidak termasuk anggota osis saya tidak minder dan selalu percaya diri, dan menampilkan bakat yang saya punya, toh apa salah nya iyakan…
Saya kuat karena ibu saya, yang didalam fikiran waktu itu bagaimna saya bisa menyisihkan waktu untuk sekolah, belajar, latihan, dan membantu orang tua yang jelas saya ingin berbakti kepada kedua orang tua. Memang seiringnya waktu saya lupa dengan hal itu, saya sibuk dengan latihan latihan dan bermain-main, berfoya-foya dengan teman-teman, jalan-jalan dan akhirnya sering lupa dengan waktu, akhirnya kewajiban saya sebagai anak lupa akan hal yang mulia itu, tugas saya membantu ibu sepulang sekolah sekarang sering sekali saya pulang lama dan pernah waktu itu saya pulang dengan malam sekali, setiba nya saya dirumah ibu saya marah, menangis dan kecewa melihat anaknya yang ia didik tidak patuh lagi sama ibunya, kakak juga marah-marah, dan hanya ayahlah yang membela saya waktu itu…langsung saya beranjak ke kamar sambil menangis dan menyadari akan kesalahan, dan berangsur-angsur pemberbaiki diri. 
Waktu demi waktu terus berjalan saya waktu itu kelas 1 MTsN, ada musibah gempa yang melanda Kota kami tercinta yaitu Kota Pariaman tepatnya Kabupaten Padang Pariaman Kecamatan Ulakan Tapakis pada Tahun 2009 lalu dengan kekuatan gempa 7,5 SR, rumah nenek habis diterjang gempa bahkan semua rumah warga, sekolah, warung – warung habis tertimpa reruntuhan, dimana salah satu warung tempat orang tua saya mencari rezeki habis diterjang oleh reruntuhan akibat gempa, kedua orang tua meratapi dan melihat keadaan warung kami yang hancur diterjang gempa tersebut, saya juga bisa merasakan kesedihan mereka tapi apalah daya tangan tak bisa membantu kedua orang tua, semenjak kejadian ini saya berusaha membantu kedua orang tua mencari nafkah dimana ayah mulai membuka pondok kecil tanpa banyak dagang yang dijualkan dan ibu tetap mencari nafkah juga dengan berjualan ketupat. Alhamdulillah rumah orang tua salah satu list untuk menerima bantuan dari Pemerintahan, ayah dan ibu mendengar hal tersebut senangnya bukan main…saya terharu melihat keadaan seperti ini, sudah merasa senang juga melihat orang tua bahagia dengan keadaan kami waktu itu. Hari silih berganti semuanya mulai membaik, rumah warga dan keadaan sudah mulai membaik termasuk rumah nenek dan orang tua. Akan tetapi orang tua tidak menggunakan bantuan yang diterima oleh pemerintah tersebut untuk membangun rumah kembali melainkan untuk membuat sebuah pondok warung kecil, kenapa begitu demikian, ayah berkata kalau tidak dibangun warung dimana ayah akan mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Mendengar perkataan dari ayah air mata mulai menetes membasahi pipi, sedihnya saya waktu itu bukan main ya Allah…Ayah dan ibu adalah sosok kedua orang tua yang kuat segalanya dipertaruhkan dan dikorbankan demi kebahagiaan anaknya dan keberlangsungan hidup keluarganya, disini orang tua saya. Ya Allah berikanlah kesehatan dan kekuatan kepada kedua orang tua, kalau dapat pinjamkan hati ayah untuk saya.  Waktu itu saya juga mendapatkan kabar duka, karena sebelum gempa terjadi, saya dicalonkan untuk mengikuti lomba MTQ tingkat Kecamatan Nan Sabaris, namun halnya itu tidak terjadi. Pasca kejadian gempa tersebut tidak terdengar lagi panggilan untuk latihan mengaji irama, saya langsung pergi ke surau untuk mengaji…namun apa daya disurau tidak ada orang mengaji lagi bahkan hanya Nampak surau tersebut sedang rehabiltasi akibat gempat yang lalu.  Harapan ingin menjadi seorang khafilah telah pupus, hari selau berganti bulan terus berganti…saya terus berjuang untuk semangat bangkit dari keputus asaan yang dialami, dengan cara fokus untuk sekolah belajar sungguh-sungguh dan Alhamdulillah pada waktu itu mendapatkan juara II dikelas 7 MTsN pada semester 1, dan semester II mendapatkan juara 1 senang…bahagia…luar biasa senangnya…yah tentu karena keinginan untuk juara sudah lama sebenarnya ketika masih duduk dibangku SD…alhmdulillah orang tua ikut senang mendengarnya…kelas 2 MTsN saya ditempati dikelas unggul…isinya hanya orang-orang pintar didalam kelas tersebut…dikelas dua saya tidak mendapatkan juara lagi hanya peringkat 15 besar yang didapatkan…kelas 3 kembali saya mendapatkan juara 3 pada semester 1 dan 2…Alhamdulillah 
Dibalik kebahagiaan yang didapatkan,,,orang tua sering mendapat hinaan dan cacian karena berjualan disamping tetangga saya ya…memang orang itu tidak suka melihat kami senang, selalu saja ada permainan dia, sewaktu ketika pagi hari ayah membuka pondok kami tersebut didepan halaman warung kami ada sebungkah kotoran manusia yang dibuang ketempat kami, hari demi hari selalu setiap pagi menemukan itu, ayah dan ibu tidak tahan lagi harus membuang dan membersihakn kotoran tersebut setiap pagi ketika akan mau jualan. Keesokannya ayah mencari tempat kontrakan yang tidak jauh dari tempat orang tua menjual, ya sekitar 0,5 Km dari pondok kecil kami dulu, dari pada bertengkar yang tidak jelas setiap hari, ayah mulai berdagang ditempat yang baru. Awalnya Nampak baik-baik saja…yang warung ayah tempati waktu itu tanahnya milik keluarga ayah juga, keadaan disana baik dan tenang, antara orang tua, kakak, saya dan adik-adik dengan keluarga mamak dari ayah selalu aku dan aman…tetapi tahun silih berganti…tidak lama kelamaan ada permasalahan yang dialami antara orang tua dan mamak yang punya tanah  hanya karena masalah sepele tidak menanyakan kapan mamak itu pulang dari jambi…yah gimana ya namanya orang tua iyakan hanya fokus kerja…masalahnya juga pas mamak itu pergi juga tidak ngomong sama ayah toh…kan mamak itu duluan yang mencari masalah bukan ayah…hanya gara-gara itu…coba bayangkan setiap hari ayah mendapat hinaan terus…dibilang seperti tidak punya ikatan keluarga lagi…”pergi kau dari tanah ku”kata mamak…kakak saya dijelek-jelekkannya ayah dan ibu mendengarkan lontaran kata-kata yang sangat pedih itu keluar dari mamak…sedihnya bukan main…serendah-rendah itukah keluarga saya dimatanya…kami anaknya hanya  bisa diam mendengarkan apa yang terjadi dan ikut merasakan…yah demi anak-anaknya  orang tua saya tetap kuat menjalankannya dan tetap berdagang disana…demi keluarganya tercinta. Bulan demi bulan, saya juga berangsur merubah diri ke yang lebih baik, dengan keadaan dan situasi keluarga saya…semua saya ambil hikmah nya saja…ketika waktu itu saya berazzam dengan tekad yang kuat ingin memakai jilbab…ya walaupun memakai jilbab masih transparan tetapi setiap keluar rumah saya mengenakan jilbab, karena sudah kewajiban sebagai perempuan muslimah juga”tutur saya.
Sekarang saya mulai mengukiti Ujian Nasional, sebelum menghadapi Ujian Nasional semua masalah keuangan harus dilunaskan menjelang ujian tiba, tetapi saya merenung ditaman sendirian sedang berfikir ingin meminta uang kepada orang tua tidak mungkin, untuk belanja saja sering tidak ada, segan sekali meminta kepada orang tua takut membebankan fikiran mereka, terpaksa saya meminjam uang kepada teman dekat saya, dan alhamdulilah saya bisa membayarnya, tapi saya merenung lagi yang terlantas dalam fikiran saya pada waktu itu ingin dibayar pakai apa nantinya uang teman saya ini…ya ALLAH saya harus bagaimana, memang saat itu saya bingung minta ampun ingin dibilang keorang tua tidak mungkin, ya sudahlah semoga beso-besok ada uang jajan saya yang saya akan tabung setiap harinya untuk mengganti uang teman saya tersebut. Memang keadaan ini saya tidak ingin menceritakan keorang tua, karena saya tahu dengan keadaan orang tua saya sekarang, sedang susah payah mencari uang demi sesuap nasi…”Meratapi saya dengan sedih.
Tahun berganti sekarang saya sudah kelas 1 SMA dimana saya bersekolah di SMAN 1 NAN SABARIS tidak jauh dari rumah, setiap hari saya pergi kesekolah diantar sama ayah, waktu pagi ayah sibuk membantu ibu jualan ketupat, dan masih bisa menyempatkan diri mengantarkan saya kesekolah, ya…bagaimana lagi kalau tidak ayah yang mengantarkan siapa lagi, dari sekolah MTsN sampai SMA masih ayah yang mengantarkan kesekolah, dan Alhamdulillah 
Pencaharian nafkah oleh kedua orang tua lebih dari cukup, bisa untuk makan dan bisa memenuhi kebutuhan keperluan sehari hari. Alhamdulillah kakak mendapatkan beasiswa bidikmisi untuk melanjutkan sekolahnya di UNIVERSITAS NEGERI PADANG dengan JURUSAN BAHASA DAN SENI, gembiranya bukan main kedua orang tua, anaknya bisa dibantu oleh pemerintah dalam melanjutkan pendidikannya.  Saya mulai aktif lagi dalam bidang organisasi pada waktu SMA seperti OSIS dibidang KETUHANAN, dan di Sekolah Menengah Atas ini memperdalam ilmu pendidikan agama yang dulunya suka kesenian sekarang kesenian tersebut berangsur-angsur saya hilangkan.
Jadwal sekolah sama kegiatan organisasi mulai padat, saya teringat kembali akan kelalaian yang membuat orang tua menangis melihat kelakuan saya, tapi disini saya berpandai-pandai mengambil waktu, misalnya pulang lama terlebih dahulu saya menelpon orang tua bahwa  hari ini pulang sekolah agak lama, supaya orang tua tidak khawatir nantinya, dan percaya kalau yang saya lakukan disekolah itu bermanfaat. Disekolah ini karena saya termasuk anak dari keluarga yang tidak mampu dan berhasil mendapatkan beasiswa walau hanya sekali saya daptkan selama 3 tahun bersyukur sekali kepada ALLAH. Tetapi akibat itu saya sering juga menunda-nunda pembayaran SPP karena biayanya yang terlalu tinggi dan uang SPP untuk dibayar juga tidak ada, dan kata ayah minta tolong kepihak sekolah supaya bisa berhutang terlebih dahulu, dan insya ALLAH ayah akan berusaha mencari esoknya agar saya bisa mengikuti ujian, setelah menghadapi UN untuk selanjutnya menyambung keperguruan tinggi dimana saya berkeinginan melanjutkan sekolah di IPB dan alhamdulillah orang tua  sangat mendukung tetapi dibidang akademika saya tidak mencapai sasaran untuk kuliah disana, Alhamdulillah Nem yang didapatkan terakhir disekolah cukup memuaskan…tapi yah itu sayangnya saya telah berusaha mencoba bolak-balik keruang T.U untuk mendaftar SNMPTN namun tidak ada satupun yang lulus, sampai-sampai semua pegawai T.U telah bosan melihat muka saya yang mondar-mandir untuk terus gigih mendaftar keperguruan tinggi jalur undangan. Waktu itu memang saya sangat-sangat terpuruk dalam kondisi tersebut. Saya tidak bisa membayangkan, seandainya saya tidak bisa kuliah langsung teringat sama orang tua, saya tidak ingin membuat beliau sedih dengan keadaan seperti ini, tapi saya terbangun ketika ada salah satu guru BK saya yang selalu memberikan saran dan nasehat…namanya bu wet, saat itu saya diberi solusi dan semangat kembali…ketika saya melihat ada lembaran putih Perguruan Tinggi Politeknik Pertanian Negeri payakumbuh, saya melihat lama-lama lembaran putih tersebut, dan tersentak dikejutkan oleh bu wet…langsung disarankan oleh ibu tersebut untuk mencoba mendaftar perguruan tinggi ini, dan akhirnya titik temu keputus assanku telah terlihat dengan bergegas saya langsung ke ruang T.U untuk mendaftar keperguruan tinggi tersebut lewat webnya tertera dikertasnya, berusha sendiri untuk mendaftar tanpa bantuan pegawai T.U yang ada karena sibuk dengan aktivitas-aktivitasnya sendiri dan pada saat itu staff pada rapat semua…yang ada difikiranku aku tetap bisa dan berusaha dengan semangat untuk mendaftar diperguruan tinggi ini hingga data-data yang saya kirim harus dikirim waktu itu juga dengan beriringan untuk mendaftar sebagai mahasiswa bidikmisi, karena sebelum itu data-data diforum mahasiswa bidikmisi sudah terkirim dan terdata sebelumnya…dan akhirnya alhamdulillah  berkat kegigihan dan semangat saya lulus di Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh dengan mahasiswa bidikmisinya juga. Allah telah menjawab doa-doa saya Allah berkehendak lain , saya ditakdirkan untuk melanjutkan pendidikan di Program Studi Teknologi Pangan Jurusan Teknologi Pertanian Politani Payakumbuh, saya senang dan bahagianya bukan main…saya bertekad tidak akan menyia-nyiakan perjuangan saya untuk membuat orang tua bahagia dan tidak menangis lagi, karena anak-anaknya bisa berkuliah yang perempuan semuanya…Alhamdulillah saya nyaman belajar di Politani Payakumbuh ini.  Alahmdulillah betapa senangnya orang tua bisa melihat saya melanjutkan pendidikan dan Alhamdulillah terbayar sudah rasa kekecewaan yang pernah saya buat terhadap orang tua bisa mendapatkan beasiswa.
Tahun demi tahun terus berjalan akhirnya saya sekarang belajar menjadi orang yang mandiri, yang jauh dari orang tua dan support dari orang tua, melihat keadaan keluarga, ayah berniat untuk mencari nafkah ke Negeri orang dimana, ayah mendapatkan sewaan rumah makan atau warung makan di Depok, terdengar kabar dari telinga saya, saya langsung terkejut bercampur sedih sekarang saya sudah jauh dari ayah dan hanya ibu seorang diri membantu mencari nafkah diwarung kecil yang dibangunkan oleh ayah saya dulu, ibu sangat sedih harus pisah dari ayah dan harus merawat anak-anak nya yang dekat maupun yang jauh dengan semaksimal yang dia lakukan demi kebahagian anak-anaknya. Saya pulang hanya bisa membantu semampu untuk meringankan beban fikiran ibu dan setiap pergi balik ke Payakumbuh giliran ibu yang mengantarkan saya ke jalan besar untuk menunggu mobil dengan basah-basah, saya juga tidak sering sekali pulang kampung dikarenakan banyak kegiatan kuliah yang harus dijalankan, dan hanya bisa menelpon dari kejauahan agar bisa membuat ibu senang.
Pada waktu ssetelah lebaran ayah saya pulang kampung, telah lama ayah tidak memberi kabar kepada ibu dan anak-anaknya, kami sangat senang sekali setelah lebaran bisa berkumpul lagi dengan utuh dan akhirnya ayah membawa umi kedepok juga dan tinggallah kami ber empat saudara dirumah, itu juga tidak dirumah semuanya berkumpul, karena kakak masih kuliah di Padang sebelum wisuda, dan hanya bisa pulang sekali dalam seminggu pulang kerumah dan saya juga tidak bisa sering pulang kampung, saya sedih dan orang tua saya juga sedih harus meninggalkan kedua adik saya yang masih kecil, harus bagaimana lagi orang tua juga harus mencari nafkah untuk keberlangsungan hidup,  rela jauh-jauh pisah dari anaknya demi kebahagiaan anaknya.
Orang tua mana yang tidak sedih hatinya meninggalkan anak-anaknya, orang tua juga telah berusaha mencari sekolah untuk adik-adik, hanya saja sekolah disana sudah penuh dan biaya untuk masuk disana juga mahal, orang tua yng perdana mencari kerja di rantau orang tidak akan bisa mencukupi semua biaya yang dikeluarkan pada waktu itu, kami berempat dulunya berat sekali berpisah dengan orang tua tapi apa daya kami tidak bisa berbuat apa-apa hanya doa yang bisa kami kirimkan untuk kelancaran usaha orang tua. Setelah dua tahun lamanya kami berpisah dan akhirnya kedua orang tua 2 minggu yang lalu pulang karena kakak akan mau diwisuda dan kami sangat bahagia dan senang, selama jauh dari orang tua suka duka kami jalankan masing-masing, dan alhamdulillah kakak sekarang sudah wisuda Sarjana dan bisa bekerja dirumah sambil menjaga adik saya, orang tua dan saya tidak khawatir lagi siapa yang akan menjaga adik-adik dirumah, karena kakak sudah bisa honor dekat rumah, kami sekeluarga bangga mempunyai kedua orang tua yang kuat dan sabar dalam menghadapi hidup dan berusaha melakukan yang terbaik buat anak-anak tercintanya. Salam dari kami anak-anakmu, kami sangat mencintai dan menyayangimu, wahai parent’s is hero in our life..
Dikampus Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh, saya mengikuti perkuliahan dengan sebaik-baiknya dan ingin mengembangkan bakat dan minat tentunya di beberapa organisasi yang diikuti, saya tidak ingin disebut Mahasiswa kupu-kupu, dan ingin aktif berorganisasi didalam maupun diluar akademika. Rutinitas saya sekarang adalah tetap fokus belajar…dan saya juga mengikuti beberapa organisasi dikampus seperti BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa), UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa), Alhamdulillah IP yang pertama didapatkan bernilai 3.60 pada semester 1, mengabari langsung kepada orang tua mendapatkan IP tersebut dan orang tua saya ikut senang dan bahagia mendengarnya, sesegera meneleponnya, 
Assalamualaikum ibuuu…”salam saya
Wa’alaikumussalam iya nakkk…apa kabar disana ‘’ sahut ibu…
Alhamdulillah bu sehat, ibu gimana kabarmya disana sehat???...”balas saya”
Alhamdulillah nak kami sehat disini,,,kayaknya bahagia kali hari ini, kenapa nak…”ibu pun bertanya sambil heran…
Alhamdulillah ibu saya mendapatkan IP semester satu ini 3,60…”membei jawaban sambil bahagia…
Alhamdulillah ibu senang mendengarnya…pertahankan ya nak…, pesan kami dari kejauahan ini “belajar lah dengan sungguh-sungguh nak, pandailah membagi-bagi waktu untuk organisasi dan akademik harus sejalan, agar prestasi akademiknya tidak turun, ibu sama ayah selalu mendoakan yang terbaik buatmu nak’’,…
Iya bu….”hentak saya mendengarkan sambil menangis…  
Walaupun orang tua sudah mengenal kepribadian diri saya sendiri sebagai anak satu-satunya yang aktif dari Sekolah Dasar sampai kuliah sekarang, orang tua tidak pernah mengekang saya intinya tergantung pada niat diri kita sendiri.
 Pada semester 2 saya menjadi pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa PPNP (BEM) jabatan sebagai staff Kementerian KOMINFO karena beberapa seleksi telah diikuti dengan baik, anggota pengurus UKM Forum Studi Islam Al-Azzam (FSI) Departemen Keputrian, dan juga mengikuti UKM UBA (Unit Bahasa Asing) disini saya mengambil bahasa inggris, untuk belajar speech yang masih terbata-bata,  karena bahasa inggris merupakan bahasa internasional. Didalam perkuliahan dan organisasi saya ingin lebih bertanggung jawab dan mandiri untuk mengatur siasat untuk membagi waktu untuk kuliah dan organisasi, sesuai dengan pesan orang tua saya sendiri. Terbenak dalam fikrian saya juga, tidak hanya kuliah dan organisasi yang saya tekuni dan prestasi juga perlu saya kembangkan dimasa perkualiahan ini, karena didunia kerja nanti tidak akan ada lagi kesempatan untuk meraih prestasi. Dan Alhamdulillah saya mendapatkan IP diatas 3.00…selama 6 semester.
Dengan keyakinan hati dan dukungan orang tua, saya mengikuti perkuliahan dengan penuh semangat tidak hanya bergelut dalam organisasi, saya juga ingin mengembangkan bakat yang saya miliki, dengan prestasi yang telah saya raih sebelum mendapatkan beasiswa bidikmisi, saya ingin terlebih dahulu menampilkan dan memperkenalkan bakat yang dimiliki, salah satu contohnya dimasa SMA dahulu pernah masuk 14 besar grandfinalis essay competition di Universitas Negeri Padang, dan juarah harapan 1 lomba karya tulis ilmiah dan masa proses perkuliahan dengan bidikmisi dan prestasi yang saya raih telah menyembuhkan luka orang tua sedikit demi sedikit dengan prestasi yang saya raih di dalam masa perkuliahan salah satunya juara 1 musabaqoh syarhil qur’an (MSQ) tingkat mahasiswa POLITANI PAYAKUMBUH, juara harapan 2 Tartil Qur’an tingkat POLITANI PAYAKUMBUH, dan sangat bersyukur sekali kepada Allah SWT saya tahun ini 2017 dinyatakan lolos juga 20 besar dibagian kisah inspiratif yang dilaksanakan di Universitas Pembangunan Panca Budi Medan, hati ini bukan main riang sangat bahagia dan senang sekali bersyukur kepada Allah saya dipertemukan dengan para-para pejuang bidikmisi lainnya yang mempunyai prestasi-prestasi yang luar biasa, dan termotivasi juga buat saya untuk lebih mengembangkan lagi bakatnya tidak hanya sampai lomba yang diselenggarakan oleh Formadiksi Unpab Medan, dan ini pengalaman yang paling menyenangkan bagi saya yang tak terlupakan dalam kehidupan ini karena sangat berarti, walaupun tidak termasuk 5 besar cerpen ini saya tidak berkecil hati semuanya sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa akan datang masa waktunya walaupun belum juara tetapi telah terkabulakn impian untuk pergi lomba tingkat nasional, yang dahulunya saya tidak pernah naik pesawat sekarang sudah merasakan bagaimana naik pesawat tersebut. Alhamdulillah akhir-akhir tahun ini saya juga memasukkan proposal untuk mengikuti Lomba Teknik Terapan (LTT) tingkat mahasiswa Politani payakumbuh dan Alhamdulillah LTT yang saya masukkan lulus dan didanai sebanyak 3.6 juta lebih, dengan 2 tim saya ikutan dengan mengangkatkan judul PUM (Proyek Usaha Mandiri) yang dimana PUM ini adalah mata kuliah wajib untuk kompre atau sidang untuk syaratnya meraih gelar AMD di program studi D3 Teknologi Pangan yang saya tekuni sekarang diperkuliahan. Dengan mengangkat judul PUM ini dalam Lomba Teknik Terapan (LTT) juga meringakan saya dan tim untuk proses uji produk selanjutnya, Alhamdulillah bersyukur kepada Allah dengan LTT ini, team saya khususnya ketua team diseleksi untuk mengikuti lomba tahap Nasional di Polije (Politeknik Negeri Jember) dengan bidang lomba pengolahan bakso ikan, dengan mendapatkan nilai tertinggi diantara team teman-teman satu program studi pada saat dilakukannya survey atau istilah lanjutannya evaluasi, saya ditunjukkan untuk mewakili lomba tersebut di Jember, alangkah bahagianya hati ini…tap beberapa hari kemudian…tim juri menyeleksi kami kembali karena sistemnya harus diulang dari awal sampai mencoba  membuat bakso dengan baik, dari sanalah nanti diambil siapa yang lolos, dan alhmdulillah akhirnya saya yang mewakili program studi untuk ikut lomba tersebut…tetapi saat lomba tersebut berlangsung saya mengalami kecelakaan…pada saat waktu terakhir dalam perlombaan saya terkena sayitan pisau dari food processor, darahnya mengalir deras sehingga tangan saya harus diperban…tapi dibalik kesedihan tersebut tidak bisa menang setidaknya masuk 20 besar finalis, dan alhamdulillah saya beserta team mendapatkan harapan II LTT tingkat mahasiswa Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh. Alhamdulillah saya juga dinobatkan sebagai mahasiswa Organisatoris oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan,,,senang dan bahagia tentunya…bulan berganti, saya telah memasuki semester 6 atau semester akhir dimana dalam satu semester ini mata kuliah hanya satu yaitu magang, dimana magang ini adalah tahap terakhir saya untuk membuat laporan akhir untuk bisa lulus ujian kompre, saya magang di dua perusahaan  , pertama perusahaan kantor pemasaran yang bertempatan di tangerang, yang kedua dipabrik olahan ikan bertempatan di Depok…sambil magang, laporan saya angsur buat supaya pas dikampus nanti langsung bisa ujian kompre, saya magang selama 3 bulan dan ujian kompre mendapatkan urutan nomor Sembilan, dan Alhamdulillah saya lulus dengan lumayan memuaskan dengan mendapatkan nilai A…dan IPK terakhir yang didapatkan adalah 3,50…dengan predikat kelulusan sangat memuaskan,,,orang tua turut bahagia dengan prestasi yang saya tekuni. Sekarang saya sudah menyandang gelar A.md, TP (Ahli Madya Teknologi Pangan)…setelah tamat dari perguruan tinggi saya mencoba memasukkan lamaran kesan-sini…setiap lamaran dimasukkan langsung dipanggil untuk interview, karena saya masih berdomisili di Payakumbuh, jadi lamaran saya yang terima di Payakumbuh saya ikutin tahapannya, tetapi kalau lamaran yang saya masukkan diluar Payakumbuh, saat dipanggil untuk interview selalu meminta saran dan nasehat dari ibu…kalau saya ragu kata ibu…tidak usah diterima kalau masih ragu-ragu…oke…tahapan diPayakumbuh saya ikutin,,,setelah saya diinterview tidak ada kabarnya sampai sekarang,,,saya mulai berputus asa..tapi saya merasa bahagia,,,karena apa??? Ya…apa yang saya sedihkan kenapa saya harus menangis toh sekarang punya team yang hebat, dari alumni K-Info, kami difasilitasi oleh Bapak eko namanya untuk les bahasa inggris untuk menyiapkan nialai Toefl kita bisa bagus dan bisa kita mendaftarkan diri untuk melanjutkan perguruan tinggi dan bisa mendaftarkan untuk mendapatkan beasiswa…tidak itu saja, sambilan kami les, kami juga ada proyek yang diberikan oleh bapak untuk mambantu dosen naik pangkat agar kata bapak dari pada hari libur tidak ada kegiatan bagusnya membantu input data-data dosen buat naik pangkat dan kami senang hati membantunya,,,bapak eko sudah banyak sekali membantu kami sehingga kami juga digaji,,,awalnya niat untuk membantu saja,,tetapi itu sudah rezeki kita,,,yah harus kita terima…kami memang belum bekerja, tetapi kami punya proyek-proyek untuk membuat proposal penelitian bersama bapak dan teman-teman lainnya…ya saya juga dilibatkan untuk membuka unit bisnis untuk pengolahan produk di Jurusan, walaupun tidak bertahan lama,,,saya mencoba berbisnis untuk jualan baju, jilbab, dan produk HNI-HPAI, supaya bisa belajar juga mejadi seorang pembisnis yang handal,,,ya…inilah aktivitas saya setelah lulus dari Pergurun Tinggi…saya merasa bahagia punya team yang hebat seperti sekarang ini, tujuan kami les semoga kami bisa mencapai target mendapatkan nilai toefl 550 untuk mendapatkan beasiswa dan IELTSnya 4,5 untuk bisa daftar WHV (Working and Holiday Visa) ke Australia,,,In Syaa Allah
Bulan silih berganti…dibalik rasa bahagia tangisan menghampiri!!!
Senja nan begitu indah menghiasi kamar kecil putri yang dibaluti dengan suara adzan maqrib berkumandang dimesjid, tak jauh dari tempat tinggalnya…bergeges saya pergi ke kamar mandi untuk ambil wudhu…dan sholat maqrib berjamaah bersama saudari-saudarinya yang diwisma tepatnya wisma Khodijah al-azzam…itulah sebutan tempat tinggalnya saya…kemudian tilawah dikamar sehabis mengerjakan kewajibannya untuk menunaikan sholat maqrib…kegiatan tersebut sudah menjadi rutinitas ketika diwisma…setelah tilawah, adzan isya pun berkumandang…saya bergegas kembali ke kamar mandi untuk ambil wudhu…saya pun sholat isya berjamaah kembali dengan saudari-saudarinya diwisma…Pada saat kembali kekamar ketika putri masuk terdengar Hp berdering…
Kakak : assalamualaikum…!!!
Saya  : wa’alaikumussalam iya kakak…”balas salam
Kakak : lagi apa sekarang put…”tanya kakak!!!
Saya  : baru selesai sholat isya kak…kakak sudah sholat??...”Tanya putri
Kakak : sudah put…besok doakan kakak ya untuk bisa lancar test CPNSnya…!!!
Saya : iya kakak,,,In Syaa Allah put doakan semoga besok testnya lancar ya kak…
Kakak : iya put…
Saya : intinya jangan lupa berdoa kak…setiap selesai sholat,,,karena doa yang paling mujarab setelah selesai sholat,,,
Kakak : iya dedek…in syaa allah makasih ya…”ucap kakak!!!...beberapa detik kemudian…put jadi ngomong sama ibu”Tanya kakak…!!!
Saya : jadilah kakak…mau minta kirimin uang ke ibu kalau ada…soalnya uang putri sudah habis,,,tidak ada bekal uang lagi, uang tabungan pun sudah habis diambil…
Kakak : bentar ya..kakak sambung tiga dulu teleponnya sama ibu (sedang memanggil nomor ibu)…”ujar kakak
Saya : iya kakak…
Ibu : assalamualaikum…
Kakak dan Saya : wa’alaikumussalam…iya ibu!!!
Ibu : iya ada apa kakak…???
Kakak : tidak ada bu…ini saya mau ngomong sama ibu…”jawab kakak
Ibu : iya nak…gimana kabarmu…sehat??
Saya  : sehat bu…Alhamdulillah, ibu gimana juga kabarnya?
Ibu : ibu…sehat nak sama ayah disini, Alhamdulillah…
Saya  : iya bu syukur la bu sehat-sehat aja disana…(sambil memikirkan minta kirimin uang bisa tidak ya…uhmmm, coba aja dulu dech), ibu…put mau mintak kirimin uang bu…boleh tidak bu…seberapa ada aja bu…hmm”gumam saya…
Ibu : maaf nak…ibu belum ada uang lagi, disini susah kiranya, pembelinya tidak sebanyak yang ditempat lama dulu,,,disini sepi, cuman banyak motor dan mobil yang lewat saja…untuk kontrakan kedai saja belum lunas lagi, belanja dipasar masih banyak berhutang ibu…dan tadi ayah baru mengirim uang ke rumah untuk kakak, dan adik-adikmu dikampung...
Saya  : iya sudah ibu…tidak apa-apa (didalam hati ingin rasanya menangis, karena uang ditangan tidak ada lagi, kosong…kayak tong kosong nyaring bunyinya, dalam hatiku tidak ada selembar duit pun yang tinggal, pasti ada uang ibu yang tersisa hmmm…untuk kakak dan adik-adik pun ada..hmm untuk putri saja tidak ada,,ahhh tidak boleh pikirin yang macam-macam mungkin ibu benar-benar tidak ada uang sama sekali)…  
Kemudian saya terdiam sejenak, telepon pun belum ditutup sama kakaknya, kakak masih bincang-bincang sama ibu ditelepon…enak dan asyik kali kedengarannya…tapi sayangnya hatiku mulai menangis…entah kenapa saya sekarang cengeng ya…ya Allah terlintas lagi dari pikiran…kenapa ibu seperti itu terhadapku…ah pikiran ini terus mampir diotakku…sehingga sesaat pikiranku tak jernih lagi…menganggap ibu dan ayah membeda-bedakan diriku sama saudara-saudaraku lainnya, padahal aku anaknya juga…aku butuh diperhatikan juga…aku butuh canda tawanya juga…tetapi air mata tak tertahankan lagi, aku pun menangis tersedu-sedu…mencoba tidak berpikiran yang buruk terhadap ibu,,,yang terlintas dipikiranku…dalam seminggu ini aku makan apa coba…untuk membelinya saja tidak ada uang lagi…gimana caranya aku tetap bisa bertahan hidup tanpa sepersen uang pun ditangan…
Hari semakin malam hingga menyapa di tengah nya larut malam…aku sejenak menenagkan hati dan pikiran…mencoba untuk beristirahat tetapi batinku menolak…ku ambil buku untuk membacanya dengan tujuan biar aku terlelap dengan sendirinya dibawak tengkupan buku yang ku baca…lama-kelamaan aku pun tertidur…!!!itulah kisahku setelah A.md,TP juga punya cerita sedih dibalik kebahagiaan sekarang yang dapat.



Author Image

About bidikin
Inspiratif, Berkarya, Bermakna, Peduli

No comments:

Post a Comment