Wednesday, December 5, 2018

EKONOMI BOLEH RENDAH, TAPI SEMANGATKU TETAP TINGGI

1

EKONOMI BOLEH RENDAH, TAPI SEMANGATKU TETAP TINGGI

Perkenalkan nama ku Seli Yustia Astuti, seorang mahasiswa disalah satu perguruan tinggi yaitu Universitas Jambi. Aku berasal dari daerah terpencil di kerinci tepatnya di desa Sekepal Tanah Surga, memerlukan 9/10 jam menuju Universitasku. 
Aku adalah anak pertama dari 2 bersaudara, seorang putri dari ayahanda Aswandi dan ibunda Duti Fitrisia. Ayah seorang buruh tani dan ibu sebagai IRT mengurus kami sekaligus mengurus nenek dan kakek dirumah tua (rumah nenek) yang sederhana dilengkapi dengan peralatan seadanya. 
Sekarang aku lagi menempuh pendidikan di Universitas Jambi semester 1 Fakultas FKIP PKn dengan biaya dari orang tua. Bahagia sudah pasti bahagia, bisa melanjutkan pendidikan ketingkat yang lebih tinggi. Tapi, sekarang kebahagiaan itu mulai kabur saat menjelang ujian akhir semester ini. Entah mengapa hati ini sedih ingin mengatakan biaya semester kuliah dengan orang orang tua. Terbayang tetesan air mata membasahi pipi mereka. Sekarang musim hujan, semua aktifitas keluarga terganggu sehingga keluarga di desa sulit mencari nafkah bahkan kebutuhan perkuliahanku saja masih meminjam dengan tetangga dan itupun harus ku cukup-cukupi dengan usahaku. Impian ku cukup sederhana, yaitu ingin membahagiakan kedua orang tua dengan usaha ku sendiri dan menjadi wali saat aku wisuda nanti. Tapi akankan itu terwujud? Ku rasa tidak, karena semua itu hanyalah sebatas khayalan semata. 
Sewaktu lulus SMA aku mendaftarkan diri sebagai peserta bidikmisi angkatan 2018, aku termovasi dari mahasiswa yang datang dari universitas untuk sosialisasi perguruan tinggi mereka, sempat berpikir aku adalah seorang anak yang kurang mampu tidak mungkin dapat kuliah SPP pun masih nunggak. Sempat disingggung juga ada beberapa beasiswa kampus, ya akukan bukanlah siswa yang pandai disekolah bahkan akupun tidak masuk 3 besar tapi alhamdulillah masuk 5 besar tidak mungkinlah aku termasuk orang yang dapat beasiswa itu. Semuanya mereka jelaskan menganai beasiswa, impian ku mungkinlah sebatas khayalan. Tapi mereka bilang, perekonomian tidak akan menghalang untuk kuliah, ada beasiswa bidikmisi yaitu beasiswa menggapai asa memutustuskan rantai kemiskinan atau apalah pokoknya begitu, hehehe. Yang tadinya aku tidak percaya diri dan minder, sekarang mempunyai tekad yaang kuat pokoknya aku harus menggapai cita-citaku dengan beasiswa itu. 
Semua yang berkas telah ku selesaikan bahkan seleksinya pun sudah ku lakukan baik itu SMPTN maupun seleksi peserta bidikmisi dengan modal seratus ribu untuk ikut seleksi SMPTN dari desa ke kota. Alhamdulillah aku lolos di perguruan tinggi tersebut, jadi tambah semangat untuk ku meraih cita-citaku. Saat pengumuman bidikmisi semangat ku mulai turun, pengumuman bidikmisi menyatakan aku tidak lolos sebagai mahasiswa bidikmisi di portal tidak tercantum nama ku. Tidak sanggup mengatakan yang sebenarnya dengan orang tua. Ku tunggu di waktu yang tepat untukku menceritakan keluhanku ini. Sekarang aku hanya bisa berdoa agar Allah memberikan jalan yang terbaiknya untukku. 
Waktu itu, adalah waktu yang tepat untukku ceritakan pengumuman perguruan tinggi dan bidikmisi itu. 
“yah, bu, pengumuman perkuliahan dan bidikmisi sudah keluar” Ujarku sambil melihat mata ibu yang redup kelelahan 
“gimana nak hasilnya?” Tanya ibu dengan suara yang lembut 
“Alhamdulillah di perguruan tinggi aku lolos bu, tp,,,!” ujarku sambil menundukkan pandangan 
“Tapi apa,,,? Jurusan tidak sesuai dengan keinginanmu ya?” 
Suara yang lembut membuatku tidak sanggup mengatakannya. Menatap matanya ingin ku berbohong tapi aku takut nanti akan membuatku tak berdaya. Apapun kejadiannya aku harus mengatakannya. “Bismillah Ya Allah,,,” Ujarku dalam hati 
“Bu, ayah. Pengumuman bidikmisi mengatakan aku tidak lolos. Sekarang aku kerja saja bantu ayah diladang”. Menatap ayah yang penuh keringat di pundaknya 
“Kamu tidak boleh bantu ayah, kamu harus kuliah. Biaya nanti bisa ayah dan ibu usahakan, kamu jangan jadi seperti ayah dan ibu jadi seorang buruh tani diladang orang yang kadang ada dan kadang tidak” ujar ayah untuk menguatkanku. 
Aku hanya bisa tersenyum melihat ayah dan ibu begitu semangat sekolahkan aku dengan adik, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa sekarang hanya bisa belajar lebih giat dan berdoa memohon kesehatan untuk ayah dan ibuku. 
Sekarang aku hanya bisa berdoa agar Allah memberikan jalan terbaik untuk ku bisa kuliah hingga aku selesai.

Author Image

About ARMI NEWS
Inspiratif, Berkarya, Bermakna, Peduli

1 comment: